Panitia Bantah Karnaval Berbau Satanis di Pekalongan: Pesertanya Remaja Musala

Ketua Panitia Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026, Mahsun, merespons ramainya sorotan terhadap karnaval yang dikaitkan dengan ritual berbau satanis. Ia memastikan bahwa acara itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Bulan Maulid dan khitanan massal di Simbang Kulon, kelurahan di Kabupaten Pekalongan.
"Peserta karnaval itu kan dari warga Simbang Kulon sendiri, dari pemuda-pemuda se-Kelurahan Simbang Kulon. Perwakilan remaja masing-masing musala," ujar Mahsun saat dihubungi kumparan, Senin (14/9).
Mahsun menjelaskan setiap kelompok peserta memiliki tema yang berbeda-beda sesuai dengan kreasi masing-masing.
"Temanya macam-macam, kreasi masing-masing remaja," ujarnya.
Mahsun juga membantah adanya ritual bernuansa satanis dalam acara tersebut. Menurutnya, sejumlah peserta memang mengenakan kostum seram dan menampilkan adegan penyembelihan kambing, tetapi hal itu hanya bagian dari hiburan.
"Oh tidak (satanis). Itu biasa saja. Artinya memang itu hanya biasa-biasa saja. Kita enggak tahu, panitia ataupun peserta itu enggak tahu kalau itu satanik dan sebagainya. Kita hanya tujuannya menghibur warga, menghibur masyarakat," tegas Mahsun.
Peserta Tidak Tahu
Mahsun mengatakan kontingen yang ramai dikaitkan dengan satanisme juga tidak mengetahui bahwa kostum dan pertunjukan yang mereka tampilkan dianggap menyerupai ritual satanis.
"Lah, kostum itu memang kostumnya semacam itu. Tapi itu temanya apa, dari pihak yang bersangkutan itu kan enggak ada tahu kalau itu temanya satanik, temanya apa," ungkap Mahsun.
Selain itu, Mahsun menyebut pelaksanaan karnaval telah mengantongi izin dari kepolisian dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Kapolres juga disebut hadir dalam acara tersebut.
"Keramaian itu kita kan pada dasarnya sudah izin ke Polres, sudah ngasih surat ke Pemkab. Kita sudah secara administrasi kita sudah izin. Bahkan Kapolres kan hadir di panggung," tuturnya.
Mahsun meminta masyarakat tidak berspekulasi atau membuat anggapan yang tidak sesuai terkait pelaksanaan karnaval tersebut.
"Makanya kadang yang tidak melihat langsung di lapangan itu beda dengan yang disampaikan. Kadang itu semacam itu. Ya, kita karnaval karena mungkin terlalu heboh, terlalu ramai, akhirnya ya mungkin muncul berita yang rasane kurang sedep, kurang enak, dan lain sebagainya," kata Mahsun.
Dihadiri Plt Bupati
Pembukaan karnaval pada Kamis malam juga dihadiri oleh Plt Bupati Pekalongan, Sukirman.
Dalam keterangan tertulis yang diunggah di situs Prokompim Setda Kabupaten Pekalongan dijelaskan, Sukirman menghadiri secara langsung kemeriahan karnaval masyarakat dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran.
Dikatakan, kegiatan tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-61 ini berlangsung semarak dengan menyajikan beragam parade busana, kesenian daerah, pertunjukan drumband, pawai ogoh-ogoh, hingga pertunjukan sound horeg. Selain karnaval, rangkaian tradisi ini juga diisi dengan agenda pengajian umum dan khitan massal.
"Semoga putra-putra kita yang sunat, insyaallah jadi anak yang saleh, jadi anak yang berpendidikan tinggi, dan dapat memuliakan derajat orang tuanya," tutur Sukirman.
Nyawiji Ing Budaya
Sementara itu, salah satu panitia penyelenggara, Ghiyats, menyampaikan SKNC 2026 diikuti oleh 25 barisan yang berasal dari 25 musala yang ada di Kelurahan Simbang Kulon.
Dikatakan Ghiyats, tema karnaval dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut yakni “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran atau kurang lebih "bersatu dalam budaya, mempererat tali persaudaraan."
“Hal ini dikandung maksud karena SKNC bukan sekadar karnaval, ini tentang bagaimana kita berjalan bersama, menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan menguatkan persaudaraan,” terangnya, masih dalam unggahan Prokompim Setda Kabupaten Pekalongan.
“Dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, PR NU Simbang Kulon, mari bersama-sama merayakan budaya, kreativitas, dan guyub rukun warga dalam satu malam penuh warna dan kebahagiaan,” imbuhnya.
