Panitia Parade di Pekalongan: Kami Tak Tahu Itu Satanis, Tujuannya Hibur Warga

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pentagram dan Satanic Pentagram. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Pentagram dan Satanic Pentagram. Foto: Wikimedia Commons

Ketua Panitia Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 Mahsun tak sepakat parade dalam acara tersebut disebut sebagai ritual satanis.

Ia menegaskan, meski ada ada peserta yang mengenakan kostum putih-putih dengan wajah serupa monster, peti putih dengan simbol pentagram dan penyembelihan kambing, baginya itu merupakan hiburan semata.

"Oh tidak (satanis), itu biasa saja. Artinya memang itu hanya biasa-biasa saja. Kita enggak tahu, panitia ataupun peserta, itu enggak tahu kalau itu satanik dan sebagainya itu kan enggak tahu. Kita hanya tujuannya menghibur warga, menghibur masyarakat," ujar Muhson kepada kumparan, Senin (14/9).

Soal tema, ia mengungkap, tema yang ditampilkan oleh tiap kontingen memang bermacam-macam. Ia menyakini kontingen yang ramai dikaitkan dengan satanis itu tidak mengetahui jika kostum dan pertunjukan mereka menyerupai ritual satanis.

"Lah kostum itu memang kostumnya semacam itu. Tapi itu temanya apa, dari pihak yang bersangkutan itu kan enggak ada tahu kalau itu temanya satanik, temanya apa," ungkap Muhson.

Plt. Bupati Sukirman hadiri Simbangkulon Night Carnival (SKNC) dalam rangkaian Maulid Nabi, Kamis (10/9/2026). Foto: Setda Pemkab Pekalongan

Ia juga menegaskan, acara karanval ini sudah mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan pemerintah kabupaten. Bahkan Kapolres pun ikut hadir naik ke atas panggung.

"Keramaian itu kita kan pada dasarnya sudah izin ke Polres, sudah ngasih surat ke Pemkab. Kita sudah secara administrasi kita sudah izin. Bahkan Kapolres kan hadir di panggung," tutur Muhson.

Ia pun meminta masyarakat tidak berspekulasi atau beranggapan yang tidak tidak terkait karnaval ini.

"Makanya kadang yang tidak melihat langsung di lapangan itu beda dengan yang disampaikan. Kadang itu semacam itu. Ya, kita karnaval karena mungkin terlalu heboh, terlalu ramai akhirnya ya mungkin muncul enggak berita yang rasane kurang sedep, kurang enak, dan lain sebagainya," kata Muhson.