Panjat Pohon Sakral di Pura Demi Konten TikTok, WN Australia di Bali Diamankan

12 Juni 2022 12:06
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
WN Australia Samuel Locton di Polres Tabanan. Foto: Polres Tabanan
zoom-in-whitePerbesar
WN Australia Samuel Locton di Polres Tabanan. Foto: Polres Tabanan
ADVERTISEMENT
Seorang WN Australia bernama Samuel Locton diamankan pihak Kepolisian Polres Tabanan, Bali. Hal ini karena ia nekat memanjat pohon yang disakralkan oleh warga setempat.
ADVERTISEMENT
Adapun pohon tersebut terletak di Pura Dalam Prajapati, Desa Adat Kelaci Kelod, Banjar Dakdakan, Kecamatan Kediri, Kabupaten, Tabanan, Bali.
"Dari pengakuannya memanjat pohon itu untuk bikin konten TikTok," kata Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra saat dihubungi, Minggu (12/6).
Dian mengatakan, kasus ini bermula saat warga memergoki Samuel memanjat ke pohon tersebut pada Sabtu (11/6) sekitar pukul 16.00 WITA kemarin. Warga meminta Samuel turun karena dilarang memanjat pohon untuk menjaga kesucian kawasan pura.
Samuel mengabaikan permintaan warga tersebut. Ia melanjutkan kegiatan memanjat sambil sesekali mengambil foto pohon dan pura. Warga kesal dan melaporkannya ke Babinkamtibmas.
"Dia manjat dan disuruh turun sama warga yang ada di sana tapi dia enggak mau. Akhirnya warga melapor ke Babinkamtibmas dan Babinkamtibmas turun tangan mengimbau turun, baru dia mau turun,"kata Dian.
ADVERTISEMENT
Babinkamtibmas lalu membawanya kantor polisi. Kepada polisi, ia mengaku sangat cinta dan kagum terhadap keberadaan pohon-pohon berukuran besar. Ia sengaja memanjat dan memotret pohon dan pemandangan yang tampak dari atas pohon untuk berbagi pengalaman dengan pengikutnya di TikTok.
"Yang bersangkutan mempunyai hobi memanjat pohon dan di negara asal sering memanjat pohon tinggi untuk menikmati keindahan alam dari atas. Alasan dia naik ke pohon ingin memperlihatkan kepada orang- orang yang ada di negaranya bahwa di Bali masih banyak pohon-pohon besar, tinggi, dan indah," kata Dian.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Samuel minta maaf dan menyesali perbuatannya kepada pihak bendesa adat. Ia mengaku tidak mengetahui pohon tersebut dinilai suci. Ia juga bersedia menganti kerugian dengan membiayai upakara mecaru.
ADVERTISEMENT
Upakara mecaru adalah upacara pembersihan kawasan pura yang dinilai telah dinodai Samuel. Biaya upacara pembersihan ini senilai Rp 500 ribu.
"Bendesa menerima permintaan maafnya yang disaksikan oleh pemangku Pura Dalem Prajapati I Made Wetra dan I Wayan Jarna, cuma diminta untuk membiayai upakara pembersihan di pura," katanya.
Samuel kini ditahan di rutan Polres Tabanan. Polisi juga sedang berkoordinasi dengan pihak imigrasi untuk menindaklanjuti perbuatannya.
Imigrasi yang akan menilai perbuatannya mengganggu ketertiban umum atau tidak. Biasanya imigrasi akan mendeportasi WNA yang dinilai meresahkan dan mengganggu ketertiban serta keamanan warga.
"Setelah selesai di desa adat selanjutnya kita amankan mungkin secara pidana kita tidak bisa proses maka kita serahkan ke imigrasi. Nanti imigrasi yang proses apakah ada pelanggaran dan sebagainya. Kalau prosesnya selesai hari ini maka hari ini akan kita serahkan ke imigrasi," kata Dian.
ADVERTISEMENT
Aksi serupa sejatinya sudah pernah terjadi di Pulau Dewata. WN Rusia bernama Alina Fazleeva (28) telanjang di pohon sakral Kayu Putih berusia 700 tahun di Pura Babakan, Tabanan, Minggu (6/5).
Setelah foto telanjangnya viral, Alina didampingi suami, Amdrei Fazleeva, langsung meminta maaf dan menyerahkan diri ke polisi. Sama seperti Samuel, Alina mengaku merekam video eksotis demi seni dengan tema menyatu dengan alam dan untuk konten media sosial.
Alina turut menyampaikan permintaan maaf ke bendesa adat dan Gubernur Bali Wayan Koster. Namun, permintaan maaf itu ditolak langsung oleh Koster. Atas perbuatanya, Kemenkumham Bali mendeportasi Alina dan Amdrei pada Jumat (6/5) lalu.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020