Pantun Umpatan Butet Buat Jokowi: Rame-rame Khianati Konstitusi
ยทwaktu baca 3 menit

Budayawan Butet Kartaredjasa menyampaikan pantun dalam kampanye akbar PDIP di Alun-alun Wates, Kabupaten Kulon Progo, DIY, Minggu (28/1). Acara bertajuk 'Hajatan Rakyat Yogyakarta' itu dihadiri massa yang mayoritas memakai atribut merah PDIP. Capres 03 Ganjar Prabowo juga hadir di sana.
Meski begitu Butet hadir dengan mengenakan kaus dan kemeja hitam. Dia membawa secarik kertas yang berisi pantun.
Sebelum membaca pantun itu, Butet lebih dulu menyampaikan kekecewaannya kepada Presiden Jokowi. Ia mengatakan politisi PDIP itu menyakiti 'banteng'
"Kalian adalah banteng-banteng ketaton. Banteng-banteng yang dilukai. Siapa yang melukai? Jokowi. Asuwo," kata Butet.
Butet juga menyinggung kampanye Ganjar yang kerap dibuntuti. Ia tidak menyebut sosok yang membuntuti Capres 03 itu.
"Setiap Mas Ganjar datang lalu ada yang ngintili. Hari ini Mas Ganjar akan datang menemui kita, kemarin sudah ada yang ngintili. Padahal si tukang ngintil kuwi opo jenenge? wedus kuwi isane kudune ning ditongseng," tutur Butet.
"Wedus ko mendukung paslon. Kabeh banteng. Banteng hari ini ketaton," tambahnya.
Pernyataan Butet disambut riuh simpatisan PDIP yang hadir. Butet lalu minta izin untuk menyampaikan pantunnya.
"Jadi kawan-kawan santai, tenang sebentar. Boleh engga saya membaca pantun? sek yo. Sing sabar yo su," pinta Butet.
Berikut isi pantun yang dibacakan Butet:
Pantun Hajatan Rakyat
Ada kucing gondol iwak empal
Aku marah tak lempar sandal.
Jokowi maunya revolusi mental.
Tapi gagal terjungkal jungkal.
Kucingnya kabur kakinya pincang.
Ingin terbang tak bisa melayang.
Ngakali survei supaya menang
Jelas jika menang karena main curang.
Satu-satu aku sayang ibu.
Dua-dua aku sayang ayah.
Jutaan Jokower merasa ditipu
Penampilannya lugu jebul licik ngakali mahkamah.
Lah saiki dulur mu iki, wong edan gundal gandul tanpa cawat.
Bagi mereka tuanku adalah konglomerat.
Gatot kaca tulangnya besi ototnya kawat.
Bagi Ganjar-Mahfud tuanku adalah rakyat.
Di sini nang Kulonprogo makanan tradisional geblek namanya,
kalau di bantul namanya geplak.
Seharusnya kita hormati yang mimpin negara.
Tapi maaf kita muak karena dia memihak.
Di sini keselamatn negara dijaga Megawati.
Di sana sembako wira-wiri dibagi Jokowi.
Butet sempat mengomentari isi pantunnya itu. Menurutnya sembako berasaal dari uang rakyat.
"Padahal sembakonya itu milik kita dari duit pajak rakyat. sembako negara. Asu wo. Ulangi yo, ulangi, yo, su," kata Butet yang kemudian melanjutkan kembali pantunnya.
Di sini keselamatan negara dijaga Megawati.
Di sana sembako wira-wiri dibagi Jokowi.
Di sini kita konsisten berdemokrasi.
Di sana mereka rame-rame mengkhianati konstitusi.
Pantun Butet sempat mendapat reaksi dari masyarakat yang datang. Butet menanggapi mereka.
"Cangkemu ciamik pol, asu. Bait yang terakhir, bait yang terakhir," kata Butet.
"Yam kosong telu pasti, su. Yang terakhir," tambah Butet.
Kulonprogo bangga punya bandara.
Melengkapi Jogja yang istimewa.
Kita semua berkumpul di sini diikat tali jiwa.
Bersama Ganjar-Mahfud gelorakan revolusi cinta.
