Pantura Istimewa bagi Pengendara Roda Dua
ยทwaktu baca 4 menit

Fajar masih belum menyingsing ketika Karsito mulai memutar pedal gas motornya. Ia, bersama sang istri, dan anaknya yang kira-kira berumur tujuh tahun bersiap untuk pulang kampung dari Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Untuk sampai ke kampung halamannya di Purwokerto, Karsito mesti melintasi dua provinsi: Jawa Barat lalu ke Jawa Tengah. Jalur pantai utara (Pantura) Jawa-lah yang ia pilih--meski seorang kawannya bercerita dirinya bisa saja melintas jalur selatan lewat Bandung lalu tembus ke Ciamis.
Namun, rute belakangan itu tak dipilih Karsito lantaran tak biasa. Dua-tiga tahun terakhir semenjak beres pandemi corona, ia selalu mudik lewat jalur Pantura menggunakan kendaraan roda dua.
"Karena kan jalur di sini lurus saja, sudah biasa," kata pria berusia 50 tahun itu kala beristirahat salat di Masjid Jami At Taqwa Desa Sukalila, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (6/4).
Usianya memang sudah tak muda untuk menggeber motor tuanya (ia enggan menunjukkan atau menyebut jenama kendaraannya). Hanya saja moda ini punya kelebihan dibanding bus atau angkutan umum.
"Harganya lebih murah, kalau naik bus aja Rp 200 ribu, belum dikali dua orang saja sama istri sudah Rp 400 ribu," tuturnya.
Meski begitu, Karsito mengaku, naik kendaraan roda dua tak menghemat sebegitu signifikannya. Memang ongkos bensin bisa diirit hingga separuh ongkos bus, tapi ongkos makan di perjalanan kala berhenti jika dihitung hampir sama saja.
"Tapi kan di sana (kampung) bisa pakai motor ke mana-mana. Kalau naik bus mesti ongkos naik angkot, bayar lagi," ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya, mudik lewat jalur Pantura Cileungsi-Purwokerto menghabiskan waktu 12 jam. Itu kalau tak banyak beristirahat. Kalau santai, katanya, bisa habis 13 jam.
Meski ia akui kadang lelah di jalan, mudik menggunakan roda dua melalui jalur pantura dapat ditempuh dengan santai. Sesekali ia beserta keluarga beristirahat, dan ia pun mengakui jalur pantura relatif lancar untuk kendaraan roda dua.
Hal yang sama diakui oleh Ariel (18). Pekerja yang merantau di Karawang, Jawa Barat, itu memilih mudik naik motor melalui jalur pantura ketimbang menaiki bus. Ia berboncengan dengan kawan sekotanya, Septian (18).
"Kalau naik bus Rp 120 ribu, kalau motor bensin paling Rp 50 ribu," kata Ariel di Jalan Raya Pantura di Kabupaten Cirebon.
Selain merogoh kocek lebih murah, menaiki motor via Pantura juga dinilai istimewa pada saat Lebaran karena lebih cepat ketimbang menumpang bus jika tol sedang dalam keadaan macet. Kalau tak beristirahat, Karawang-Cirebon bisa tiga jam dengan roda dua.
Ariel juga merasa lebih santai menggeber motor bebek matic 125 cc-nya seraya menikmati pemandangan jalanan. Dan berbeda dengan melintasi tol yang mesti berhenti di rest area, pengendara yang lelah di jalur Pantura bisa beristirahat di sisi jalan untuk sekadar meneduh, minum, dan merokok.
Jalur pantura Jakarta-Cirebon memang terbilang unik. Jalur ini melintasi wilayah padat penduduk, industri, persawahan, dan pantai sekaligus.
Para pengendara tidak akan kebingungan mencari tempat beristirahat karena banyak dibuka posko mudik dan rest area di sisi jalan baik oleh aparat pemerintahan, organisasi masyarakat, hingga masyarakat lokal. Terdapat juga para penjaja makanan dan minuman (bahkan fasilitas karaoke) di tepian jalan yang menawarkan fasilitas lesehan atau meneduh di gubuk sambil menikmati jalanan dan hamparan sawah.
Sejak Tol Cipali dibuka, jalur pantura Jakarta-Cirebon pada saat mudik didominasi oleh kendaraan roda dua. Kalau sedang mujur, Anda bisa melihat para pengendara ini bikin tulisan-tulisan nyeleneh di bokong kendaraan atau barang bawaan mereka.
Adapun truk, bus, dan kendaraan roda empat yang melintas hanya tampak sesekali di Pantura. Tak heran pengendara roda dua seperti Ariel dan Septian berani melintasi jalur ini di mudik perdananya ini.
"Enggak takut (dengan melintasnya kendaraan besar), sudah biasa juga. Motor juga sudah diservis sebelum berangkat," papar Ariel.
Apa pun kendaraan dan jalur yang ditempuh, baik Ariel, Septian, Karsito hanya ingin melepas rindu di kampung. Makanya, meski beratus-ratus kilo ditempuh, jalur pantura serasa tiada artinya jika sudah bertemu dengan keluarga tercinta.
