Papan Interaktif dan Cerita Mereka yang Kini Belajar Lebih Aktif di Sekolah
·waktu baca 6 menit

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan kurang lebih 35 ribu interactive flat panel (IFP) ke sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Mendikdasmen Abdul Mu’ti sebelumnya mengatakan, penyaluran papan interaktif itu ditujukan pada sekolah yang membutuhkan.
Salah satu sekolah yang mendapat IFP itu ada di SMP Negeri 28 Bandung. Guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri 28 Bandung Alyaa menceritakan siswa-siswi di sekolahnya sangat antusias ketika mendapatkan papan interaktif itu.
"Manfaatnya sangat-sangat bermanfaat sih menurut saya. Apalagi dalam pembelajaran di sekolah, karena kan sekarang sudah dunianya pakai IT gitu ya dalam proses pembelajaran. Walaupun tidak semua mata pelajaran pakai, tapi sekarang sudah hampir semua pakai," kata Alyaa saat ditemui kumparan Rabu (29/10).
Alyaa menyebut, dengan menggunakan papan interaktif, pembelajaran menjadi lebih aktif. Siswa juga lebih semangat dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
"Bisa dipakai untuk games interaktif, jadi anak-anak juga lebih semangat, ya, belajarnya," ucap Alyaa.
Alyaa mengungkapkan, dalam kegiatan belajar mengajar, IFP itu digunakan untuk mempresentasikan materi dalam bentuk video.
"Sangat-sangat bikin siswa interaktif. Terus kan bisa nonton video dan sebagainya, jadi anak juga lebih senang gitu yang saya lihat kalau belajar dengan itu," ujar Alyaa.
Alyaa juga mengatakan, papan interaktif digunakan untuk kuis melalui games sehingga siswa menjadi lebih aktif.
Kata Alyaa, para siswa itu atraktif ketika ada kuis karena mereka antusias untuk maju ke depan kelas dan memencet tombol di papan interaktif.
"Mereka jadinya ada gerak juga, jadi mereka lebih excited gitu ketika belajar. Itu jadi lebih seru," lanjutnya.
Alyaa menyampaikan, siswa yang sebelumnya kurang aktif di kelas menjadi lebih aktif dengan adanya metode pembelajaran menggunakan IFP
"Sampai anak yang awalnya kurang aktif, ternyata pas belajar pakai itu malah jadi aktif. Karena katanya seru gitu, ya," kata dia.
Menurut pantauan kumparan pada Rabu (28/10), papan interaktif digunakan di ruang aula SMP Negeri 28 Bandung.
Di ruangan tersebut sedang berlangsung presentasi Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics. Para siswa memaparkan proyeknya dengan bantuan papan interaktif itu.
Salah satu siswa SMP Negeri 28 Bandung, Zeverino (14) mengungkapkan pengalamannya saat belajar menggunakan IFP di sekolahnya.
"Lebih seru karena kan kalau pake IFP kadang-kadang dia bisa pake mini games kayak gitu, ya lebih interaktif," kata Zeverino.
Menurutnya, kegiatan belajar mengajar menggunakan papan interaktif membuatnya lebih memahami materi yang disampaikan. Seperti saat digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
"Jadi lebih mengerti, lebih interaktif. (Layarnya) dipencet-pencet jadi gampang mengerti kalau pake ini (papan interaktif)," ujar siswa kelas 9 itu.
Ia juga menyebut papan pintar ini tak jarang digunakan untuk kuis.
"Sering dipake kuis juga," kata Zeverino.
Siswa Lebih Semangat
Sementara itu, Karyadi, guru Informatika SMPN 13 Surabaya, mengaku para guru di sekolahnya merasa terbantu dengan adanya IFP.
Ia menyampaikan, IFP ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, terutama karena siswa bisa terlibat langsung.
"Dengan adanya bantuan papan interaktif ini dari pemerintah, sangat membantu teman-teman guru untuk pembelajaran interaktif. Kalau LCD dulu itu, hanya bisa menjelaskan, siswa pasif mendengarkan. Tapi dengan ini siswa langsung bisa interaktif menekan tombol-tombol yang ada, sehingga siswa terlibat langsung dalam pembelajaran secara interaktif," kata Karyadi kepada kumparan, Rabu (29/10).
Selain itu, dengan adanya papan interaktif, para guru bisa lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran.
"Hal itu yang menyebabkan para guru juga akhirnya mencoba berlatih meningkatkan kemampuannya untuk membuat media pembelajaran yang lebih interaktif," ucapnya.
Tak hanya para guru, kata Karyadi, para siswa SMPN 13 Surabaya juga mengaku lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran.
"Saya melihat secara langsung. Saya juga tanya-tanya ke murid. Sebagian mereka mengaku sangat senang dengan pembelajaran menggunakan papan interaktif ini. Misalnya, yang tadinya pelajaran nggak jelas seperti IPA, tersedia laboratorium maya. Yang tadinya anak-anak nggak ngerti, akhirnya ngerti. Oh ternyata pengukuran benda itu sampai sedetail itu," ujarnya.
Siswa Bisa Belajar AI
Manfaat IFP itu juga terasa hingga Medan. Di salah satu sekolah yang ada di Kota Medan, yakni SMP Negeri 3 Medan, Kota Medan, papan interaktif itu diletakkan di dalam ruangan tersendiri oleh pihak sekolah. Mereka menyebutnya digital classroom.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Andi Yudistira menyebut, ada 50 IFP yang tersebar di SD dan SMP yang ada di Kota Medan. "Iya, ada 25 di sekolah SD dan 25 sekolah untuk SMP," katanya saat dihubungi, Rabu (29/10).
Andi menyampaikan, manfaat IFP sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital. Pembelajaran berbasis digital ini menjadi upaya untuk mengikuti arus perkembangan teknologi yang semakin maju.
"Dengan menggunakan LMS (Learning Management System), dengan Google Classroom dan lain-lain pembelajaran yang berbasis digital. Jadi memang spesial setiap sekolah itu ada satu kelas yang kita siapkan sebagai kelas digitalnya," tutupnya.
Meskipun Google Classroom bukan AI, kata dia, tapi platform digital itu telah mengintegrasikan fitur-fitur kecerdasan buatan (AI) ke dalamnya untuk meningkatkan proses belajar mengajar bagi para pendidik dan siswa.
Guru Diberi Pelatihan Gunakan Papan Interaktif
Sementara itu di Bali, Disdikpora Kota Denpasar bakal menerima 240 unit papan interaktif atau IFP dari Kemendikdasmen. IFP ini akan disalurkan ke 240 sekolah tingkat dasar.
"Pada tahap pertama saat ini masing-masing sekolah menerima 1 unit IFP," kata Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar, Putu Bayu Putra Mahendra saat dihubungi, Rabu (29/10).
Putra Mahendra mengatakan, sampai saat ini sudah 110 unit IFP disalurkan ke sekolah. Namun, pihak sekolah belum mengoperasikannya karena para guru masih mengikuti pelatihan penggunaan papan tulis pintar itu.
"Saat ini ada 50 guru yang sedang mengikuti pelatihan. Ke depannya, guru-guru yang mengikuti pelatihan ini wajib mentransfer ilmunya kepada guru lain di sekolahnya agar semua guru bisa menggunakan IFP ini," sambungnya.
Papan interaktif ini memungkinkan guru dan siswa berinteraksi melalui fitur layar sentuh, video dan audio, game interaktif, sampai augmented reality (AR). Alat ini bertujuan untuk mempermudah penyampaian materi, terlebih untuk pelajaran yang butuh visualisasi atau penjelasan lebih dalam.
Putu Mahendra memberikan contoh dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan dengan alat-alat pernapasan. Kemendikdasmen telah menyiapkan konten-konten terkait alat pernafasan baik manusia dan hewan.
Setelah guru memberikan materi tentang pernafasan, nantinya siswa bisa berinteraktif dengan bermain game, kuis atau membuat presentasi melalui IFP.
"Nah, di situ dalam bentuk game atau dalam bentuk kuis atau apa agar lebih interaktif, siswanya bisa ikut terlibat," katanya.
