Para Perempuan di Teras Keraton Yogya
Jangan personifikasi bahwa wanita itu, istilah Jawa-nya, hanya konco wingking, hanya di rumah saja.
Dikungkung aturan dalam dominasi lelaki, adalah masa lalu bagi para perempuan di lingkungan kerajaan Jawa. Setidaknya, itu tak menimpa mereka yang berada di Keraton Yogakarta saat ini. Sebaliknya, para putri raja itu begitu lincah dan agresif.
Seiring perkembangan zaman yang membuka ruang bagi kesetaraan gender, Keraton Yogyakarta--salah satu monarki yang masih eksis--ikut dalam arusnya.
Ratu Yogya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, adalah tokoh nasional. Ia seorang senator, anggota Dewan Perwakilan Daerah RI yang berkantor di gedung parlemen, Senayan, Jakarta.
Mengikuti jejak sang ibunda yang sibuk, lima putri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas pun aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Ayah mereka, sang Raja Jawa, memang tak ingin perempuan keraton hanya menjadi ornamen istana. Sungguh kuno dan tak semestinya.
Perempuan Keraton jangan diasumsikan mesti lemah gemulai, hanya tinggal di rumah, hanya biasa berada di dapur. Tuntutan masyarakat itu bagaimana istri juga harus punya prestasi. Paling sedikit berbuat sesuatu untuk masyarakatnya.
Prinsip itu menjadi pegangan Sultan ketika membina rumah tangga dengan GKR Hemas pada 1968. Ia dan Hemas sepakat, istri priyayi tak melulu mengekor nasib pangeran.
Sultan HB X juga memutus rantai poligami yang sempat dianggap wajar dilakukan oleh raja-raja Jawa.
Pada satu kesempatan di tahun 2006, ia mengatakan zaman telah diisi oleh para perempuan berpikiran maju. Maka, menurut Sultan, poligami berbenturan dengan tuntutan zaman.
Saya yakin jika ada pengumuman Sultan HB X memiliki istri lagi, banyak wanita dan ibu-ibu akan melakukan unjuk rasa memprotes, karena diri saya sudah menjadi milik publik.
Para Putri
Sultan HB X memiliki lima anak yang semuanya perempuan. Mereka GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendoro.
Kelima putrinya itu dihendaki Sultan tumbuh mandiri, berbeda dengan kehidupan kakak perempuannya dahulu di Wisma Keputren.
Saat itu, putri-putri raja dimanjakan oleh pelayan kerajaan. Pendekatan macam itu membuat Sultan khawatir. Bagaimana bila nanti putri-putrinya tumbuh jadi anak manja.
“(Kalau) hanya bergaulnya sama pembantu, saya sebagai orang tua saya khawatir mereka nanti tidak mandiri,” ucap Sultan.
Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya, Sultan HB VIII, yang menempa anak di luar Keraton dengan mengirimnya tinggal bersama keluarga Belanda.
Sultan memiliki prinsip, ‘wong sing kalingan suka, ilang prayitane’, yang artinya ‘orang yang sudah merasakan nikmat, akan hilang kewaspadaannya’.
Kelima putri Sultan HB X didorong untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Putri tertua, GKR Pembayun, berkuliah di Australia, sedangkan si bungsu, GKR Bendoro, belajar di Skotlandia.
Sultan pun untuk sementara sempat berpisah dengan kelima putrinya. “Demi masa depan mereka sendiri,” ujarnya.
Kini, GKR Pembayun tengah disiapkan untuk meneruskan tongkat estafet takhta Keraton.
Sabda Raja yang dibacakan pada 5 Mei 2015 mengganti nama Pembayun menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Ini membuat Pembayun disebut-sebut sebagai putri mahkota.
Keputusan tersebut lantas memicu polemik di kalangan internal Keraton. Sebab, Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat sebagai penerus napas Mataram Islam belum pernah sekali pun mengangkat raja perempuan.
Menurut Sultan, pemberian gelar tersebut tak lantas berarti GKR Mangkubumi adalah putri mahkota. Ada fase berjenjang yang mesti dilalui penerus takhta.
Takhta Keraton tak bisa diberikan dengan mudah. Sultan menekankan, takhta berhak dimiliki oleh orang yang telah melalui perjuangan dan pembuktian bahwa dirinya kelak hidup bermahkota pengabdian.
“Dia (calon penertus takhta) lolos nggak dalam perjalanan kehidupan? Kualitatif nggak? Masyarakat menghargai nggak? Kira-kira membawa manfaat untuk masyarakat nggak? Bisa menjaga tradisi nggak? Bisa menjaga masyarakat Yogyakarta nggak? Kan begini-begini jadi pertimbangan,” kata Sultan HB X saat berbincang dengan kumparan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (2/4).
Siapapun penggantinya (Sultan), harus satu tarikan napas dengan masyarakat (Yogya). Pertimbangannya bukan sekadar soal biologis.
Menjadi putri Raja Jawa ternyata bukan perkara mudah.
Tanggung jawabnya berat. Orang mungkin mengira kami kayak Cinderella yang berleha-leha di rumah. Nggak begitu.
