Parlemen Irak Usir Tentara AS Usai Pembunuhan Jenderal Iran

Parlemen Irak mengeluarkan resolusi berisikan seruan pengusiran tentara Amerika Serikat dan asing lainnya dari negara itu. Pengusiran ini dilakukan setelah AS membunuh jenderal Iran di Baghdad, Irak, pekan lalu.
Diberitakan Reuters, voting dilakukan parlemen Irak pada Minggu (5/1). Dalam resolusi disebutkan soal dihentikannya kehadiran tentara asing di Irak, terutama koalisi militer AS.
Tentara AS telah berada di Irak sejak invasi yang menggulingkan Saddam Hussein pada 2003. AS beralasan invasi dilakukan untuk menghancurkan senjata pemusnah massal Irak, yang hingga saat ini tidak bisa dibuktikan klaimnya. Saat ini, masih ada 5.000 tentara AS di negara tersebut.
Pembunuhan pemimpin Brigade Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani, pada Jumat lalu oleh AS membuat khawatir pemerintah Irak. Parlemen Irak pada rapat tersebut mengatakan jangan sampai AS menjadikan negara mereka medan perang baru dengan Iran.
"Pemerintah Irak harus menghentikan kehadiran tentara asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, wilayah udara, atau perairan dengan alasan apa pun," ujar resolusi parlemen Irak.
Resolusi tersebut kebanyakan didukung oleh anggota parlemen dari kalangan Syiah. Sementara anggota parlemen Sunni dan Kurdi memboikot rapat khusus tersebut.
Kepada Reuters, kubu Sunni dan Kurdi mengaku khawatir keamanan akan memburuk jika tentara AS hengkang dari Irak. Mereka juga takut kekuatan milisi Syiah yang dibekingi Iran akan semakin besar.
Resolusi parlemen itu tidak mengikat namun pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi diperkirakan akan menyetujuinya. Mahdi sendiri sebelumnya telah meminta parlemen untuk mengeluarkan perintah pengusiran tentara asing.
Mahdi sendiri kecewa dengan langkah AS membunuh Soleimani. Pasalnya di hari pembunuhan itu, Soleimani berencana bertemu dengan Mahdi untuk membicarakan titik temu kepentingan Iran dan Arab Saudi untuk perdamaian Irak.
Menurut Mahdi, negaranya akan membatalkan permintaan bantuan kepada AS. Dia mengakui akan menghadapi banyak kesulitan, namun ini adalah keputusan terbaik bagi Irak.
