Partai Gerakan Rakyat Daftarkan Diri ke Kemenkum, Target Ikut Pemilu 2029

Partai Gerakan Rakyat (PGR) resmi menyerahkan berkas pendaftaran sebagai partai politik ke Kementerian Hukum (Kemenkum) di Gedung Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7).
Pendaftaran ini dilakukan usai Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Rakyat menyelesaikan verifikasi administrasi di 38 provinsi seluruh Indonesia.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, menyampaikan pencapaian ini merupakan hasil perjuangan panjang seluruh pengurus di berbagai daerah yang telah melengkapi Surat Keterangan Terdaftar (SKT) per 22 Juli 2026 kemarin.
"Untuk mendapatkan secarik kertas ini, kita membutuhkan sebuah perjuangan yang tidak singkat. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, siang hari, malam hari, keluar-masuk kantor kelurahan, keluar-masuk kantor desa, keluar-masuk kantor Kesbangpol, keluar-masuk kantor Kanwil untuk perbaikan demi perbaikan. Dan Alhamdulillah kemarin, tanggal 22 Juli 2026, kita melengkapi 38 Surat Keterangan Terdaftar," ujar Sahrin.
"38 Surat Keterangan Terdaftar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai dengan Pulau Rote, telah kita sempurnakan ikhtiar ini untuk Indonesia yang lebih baik," lanjutnya menjelaskan.
Sahrin menegaskan, Partai Gerakan Rakyat murni tumbuh dari arus bawah, bukan dibentuk oleh elite politik tertentu.
"Ini bukan partai yang datang dari atas. Ini bukan partai yang diturunkan dari atas diperintahkan untuk dibangun. Ini partai yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari bawah, Saudara-Saudaraku," ungkap Sahrin.
"Oleh karena itu, kita berani menyatakan di tempat yang terhormat ini, di pagi ini, bahwa Partai Gerakan Rakyat bukan partai milik satu orang. Bahwa Partai Gerakan Rakyat bukan milik satu keluarga. Bahwa Partai Gerakan Rakyat bukan milik satu kelompok, tapi Partai Gerakan Rakyat adalah milik kita semua, rakyat Indonesia," tambahnya.
Lebih lanjut, Sahrin pun mengingatkan para kader bahwa pendaftaran di Kemenkum masih merupakan awal dari tahapan panjang legalitas dan kepesertaan target pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 mendatang.
"Fase berikutnya kita harus menerima badan hukum. Setelah kita mendapatkan sebagai badan hukum, tahun depan kita mendapatkan sebagai peserta pemilu, maka fase berikutnya kita harus memenangkan Pemilihan Umum 2029," tutup Sahrin.
Adapun Partai Gerakan Rakyat awalnya mendeklarasikan diri sebagai partai pada 19 Januari 2026 lalu, setelah sebelumnya dibentuk sebagai Ormas. Sahrin sendiri dikenal sebagai orang dekat Anies Baswedan. Saat Gerakan Rakyat deklarasi, Anies hadir menggunakan jaket oranye mereka.
Usung Logo Harimau
Partai Gerakan Rakyat pun kini memiliki logo baru dengan harimau sebagai maskot utamanya. Sahrin mengatakan, salah satu alasan Gerakan Rakyat memilih harimau karena hewan itu adalah satwa asli Indonesia.
"Kenapa memilih harimau? Sebenarnya sederhana. Pertama, karena harimau adalah satwa asli Nusantara. Kita punya Harimau Sumatera, dulu juga ada Harimau Jawa dan Harimau Bali. Jadi simbol ini lahir dari tanah Indonesia sendiri, bukan mengambil simbol dari luar," ujar dia kepada kumparan, Rabu (23/7).
Selain itu, harimau dipilih karena identik dengan keberanian. Ia pun ingin keberanian menjadi wajah partainya.
"Kedua, setiap partai tentu membutuhkan identitas. Logo itu ibarat wajah sebuah partai. Kami memilih harimau karena sejak dulu harimau identik dengan keberanian. Dan politik juga membutuhkan keberanian untuk membela kepentingan rakyat," ucap Sahrin.
"Tapi yang kami lihat dari harimau bukan hanya keberaniannya. Ada tiga karakter yang kami sukai, yaitu kedigdayaan, kekuatan, dan kesetiaan. Kuat menghadapi tantangan, berwibawa dalam memimpin, dan setia menjaga kelompoknya. Nilai-nilai itu yang ingin kami bawa dalam Gerakan Rakyat," tambahnya.
Selain itu, Sahrin menilai harimau mudah dikenali publik. Menurutnya, harimau sudah sejak lama menjadi warisan budaya di Indonesia.
"Kemudian, logo yang baik itu harus mudah dikenali dan mudah diingat. Anak kecil pun kalau melihat gambar harimau langsung tahu, 'Oh, itu harimau.' Tidak perlu berpikir lama. Dalam politik, identitas yang sederhana justru lebih mudah melekat di ingatan masyarakat," tutur dia.
"Kalau kita melihat warisan budaya Nusantara, simbol harimau juga bukan sesuatu yang asing. Di berbagai keraton, candi, maupun pura, kita sering menemukan sosok harimau atau penjaga yang melambangkan perlindungan, kewibawaan, dan penjagaan terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Jadi simbol ini punya akar budaya yang panjang," tambah dia.
Lebih lanjut, Sahrin menilai harimau dekat dengan kehidupan rakyat. Katanya, rakyat pasti langsung mengenali harimau hanya dengan melihatnya.
"Harimau juga sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Gambar harimau mudah ditemukan di mana-mana. Mudah dilukis, mudah dibuat ilustrasinya, mudah dijadikan mural, stiker, hingga berbagai karya kreatif. Orang langsung mengenalinya tanpa harus membaca tulisan," tutur dia.
"Bahkan kalau kita lihat di pasar-pasar, motif loreng harimau juga sangat akrab. Banyak dijumpai di pakaian, kain, aksesori, dan berbagai produk sehari-hari. Artinya simbol ini hidup di tengah masyarakat, bukan simbol yang terasa jauh atau eksklusif," lanjut dia.
Ia pun menegaskan, pemilihan harimau bukan untuk menakut-nakuti siapa pun. Ia berharap, partainya dapat dikenal dengan semangat berani, kuat, setia, dan selalu berpihak pada rakyat.
"Yang paling penting, bagi kami harimau bukan simbol untuk menakut-nakuti siapa pun. Harimau adalah simbol keberanian melindungi, bukan keberanian menindas. Kuat untuk membela yang lemah. Berani untuk memperjuangkan rakyat. Itulah semangat yang ingin kami hadirkan," ucapnya.
"Jadi ketika orang melihat logo Partai Gerakan Rakyat, kami berharap yang mereka ingat bukan sekadar gambar seekor harimau, tetapi semangat sebuah partai yang berani, kuat, setia, dan selalu berdiri di pihak rakyat," tandas dia.
