Partai Pelita Dinilai Harus Bisa Menawarkan Tokoh Utama Agar Dilirik Pemilih
·waktu baca 2 menit

Eks Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mendeklarasikan partai baru bernama Partai Pelita di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/2).
Kemunculan Partai Pelita mendapat perhatian dari sejumlah pengamat politik. Sebab partai tersebut mendeklarasikan diri sebagai partai dakwah dengan nilai-nilai dan perspektif berbagai agama.
Pengamat politik Kunto Wibowo mengatakan, kemunculan Partai Pelita merupakan fenomena lumrah menjelang Pemilu. Menurut dia, akan lebih banyak partai baru bermunculan jelang Pemilu.
“Nanti menjelang Pemilu menurut saya akan lebih banyak partai yang dideklarasikan” kata Kunto saat dihubungi kumparan pada Selasa (1/3).
Kunto menjelaskan, Partai Pelita harus bisa survive dengan partai lama yang juga berlandaskan keagamaan. Sebab partai keagamaan ini sejak 2004 hingga Pemilu 2019 hanya memperoleh 33% suara nasional.
“Itu problem sebagai partai yang berlandaskan Islam atau agama adalah sejak dari tahun 2004 sampai sekarang maksimal mereka hanya dapat 33% suara dari pemilih nasional," kata dia.
Menurut Kunto, ibarat sebuah kue, partai dengan landasan keagamaan hanya mendapat sepertiga bagian kue. Apalagi dengan perolehan sepertiga suara nasional, mereka harus bersaing dengan partai keagamaan yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat.
"Jadi hanya sepertiga kue saja yang diperebutkan oleh sekian banyak partai Islam. Jadi menurut saya kuenya akan semakin terbagi kecil dan yang sudah punya infrastruktur politik lebih dulu dan lebih mapan menurut saya yang akan survive. Yang partai baru berlandaskan keagamaan agak susah, terus terang,” ujar Kunto.
Kunto menambahkan, ketokohan masih menjadi hal utama untuk dilirik oleh masyarakat dibanding ideologi apalagi program yang akan dilaksanakan.
Oleh sebab itu, menurut Kunto Partai Pelita harus bisa menawarkan tokoh utama dari partainya untuk bersaing dengan tokoh politik lain seperti Amien Rais atau Prabowo atau Agus Harimurti Yudhoyono.
“Kalau menurut saya kebanyakan pemilih di Indonesia masih melihat tokoh utama di balik partai itu, bukan platform, bukan ideologi apalagi program gitu," kata Kunto.
"Pertanyaannya, apakah Din Syamsuddin ketokohannya bisa melampaui Amien Rais, bisa melampaui tokoh-tokoh MU yang lain di Indonesia, atau bahkan jika berhadapan dengan tokoh tokoh partai nasionalis yang lain seperti Prabowo, Megawati, AHY dan lain-lain.” tutup Kunto.
