Paspampres yang Aniaya Warga Aceh hingga Tewas Terlacak Lewat Handphone

Danpomdam Jaya Kolonel CPM Irsyad Hamdie Bey Anwar menjelaskan awal mula pihaknya mengungkap kasus kematian Imam Masykur, warga asal Aceh yang tewas usai diculik dan dianiaya oknum Paspampres Praka Riswandi Manik dan 2 anggota TNI lainnya.
"Jadi, singkat ceritanya begini. Ada handphone korban, yang diambil salah satu pelaku RM kemudian dijual," ujar Irsyad, Senin (28/8).
Irsyad mengatakan, pihaknya lalu bekerja sama dengan kepolisian mengungkap kasus ini.
"Kemudian kita kerja sama kepolisian sama Polda Metro Jaya, nge-track handphone nomor itu. Kemudian dapat, kemudian yaudah ketemu dilacak, dilacak, dilacak, dapatlah itu," lanjutnya.
Ketiga pelaku diamankan di satuannya masing-masing. Para pelaku juga mengakui perbuatannya.
"Enggak ada mereka tidak menyanggah bahwa terlacak," sambungnya.
Jasad Imam Masykur ke Waduk di Purwakarta
Usai menculik dan menganiaya Imam, jasadnya lalu dibuang dari atas jembatan waduk di Purwakarta, Jawa Barat.
"Dia dibuang di waduk, di jembatan Waduk Purwakarta. Kemudian hanyut, tanggal 15 [Agustus] ketemu di sungai di daerah Karawang," terang Irsyad.
"Nah, pria tidak dikenal ini [jenazah korban] diamankan kepolisian dibawa ke RSUD. Tanggal 15 ketemunya, tiga hari itu dia di sungai. Tanggal 23 [Agustus] kita baru ambil jenazah itu," sambungnya.
Berikut identitas pelaku:
Praka Riswandi Manik: Anggota Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan (Paspampres)
Praka HS: Anggota Direktorat Topografi TNI Angkatan Darat
Praka J: Anggota TNI di Kodam Iskandar Muda
"Direktorat Topografi, satu lagi dari anggota Kodam IM yang sedang di Jakarta," jelasnya.
