Pasukan Kurdi Kalah Senjata dari Turki, Tapi Bertekad Tidak Menyerah

Pasukan Kurdi menyadari mereka akan kehilangan sebagian wilayah di utara Suriah dalam serangan Turki. Mereka kalah senjata, namun bertekad akan melawan sampai titik darah penghabisan.
Serangan udara Turki dilancarkan pada Rabu (9/10) ke wilayah utara Suriah, mengincar ratusan titik keberadaan milisi Kurdi atau YPG. Sumber militer YPG kepada Reuters mengatakan mereka berpotensi kehilangan wilayah di antara dua kota, yaitu Tel Al Abad dan Ras Al Ain.
Kendati demikian, YPG bersumpah untuk tidak menyerahkan wilayah itu dengan mudah. Mereka mengatakan siap mati dan habis-habisan melakukan pertempuran panjang dengan Turki.
"Mereka akan membayarnya. Pada akhirnya kami akan kehilangan wilayah itu, tapi tidak berarti kami akan menyerah dan mundur. Akan ada perlawanan tanpa akhir," kata sumber Reuters yang enggan menyebut namanya.
Selama bertahun-tahun, YPG mendapatkan pasokan senjata dari Amerika Serikat untuk melawan ISIS di Suriah. Namun persenjataan itu tidak cukup untuk menangkis serangan udara atau bombardir tank Turki, negara dengan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat.
"Persenjataan terbesar yang kami miliki dari AS adalah mortir, tidak ada yang lebih dari itu. Tidak ada rudal, tidak ada senjata anti-jet tempur, tidak ada anti-tank," kata sumber YPG lainnya kepada Reuters.
Kendati demikian YPG optimistis mendapatkan persenjataan yang diperlukan tanpa bantuan dari Amerika Serikat, salah satunya melalui pasar gelap. "Tugas kami adalah melawan. Ini Timur Tengah dan pasar gelapnya sangat banyak," kata sumber Reuters.
Dalam beberapa tahun perang melawan ISIS di Suriah, YPG telah kehilangan 11 ribu pasukannya. Saat ini diperkirakan masih ada 40 ribu tentara YPG di utara Suriah.
Turki beralasan serangan ini dilancarkan untuk membersihkan utara Turki dari kelompok Kurdi YPG yang menyokong SDF. YPG adalah kelompok bersenjata Kurdi yang dianggap teroris oleh Turki karena punya hubungan dengan kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan atau PKK.
Sebelum melancarkan serangan, Presiden Donald Trump menarik mundur seluruh pasukan Amerika Serikat dari wilayah itu, sesuai dengan permintaan dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Namun Trump mewanti-wanti Erdogan untuk tidak berlebihan, jika tidak ingin perekonomian Turki dihancurkan AS.
Erdogan mengatakan, pembersihan Suriah Utara dari teroris diperlukan untuk membuat zona aman di Suriah. Nantinya di lokasi ini akan ditempatkan para pengungsi Suriah yang 3,6 juta di antaranya tinggal di Turki.
