Pasutri Disabilitas di Bogor Kesulitan Berobat Imbas BPJS Non-Aktif, Warga Bantu

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah pasangan disabilitas yang viral karena sakit dan tak dapat penanganan medis di Bojonggede, Bogor. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah pasangan disabilitas yang viral karena sakit dan tak dapat penanganan medis di Bojonggede, Bogor. Foto: kumparan

Kisah pilu sepasang suami-istri penyandang disabilitas di Bojonggede, Kabupaten Bogor, viral di media sosial setelah diunggah akun Threads pada Senin (19/10). Dalam unggahan itu, sang suami terbaring sakit selama berhari-hari, namun tak bisa berobat karena keterbatasan biaya dan status BPJS Kesehatan yang non-aktif.

Mereka adalah Andi Mulyadi dan istrinya, Ella. Dikabarkan, keduanya hidup dalam kondisi serba terbatas, untuk kebutuhan makan sehari-hari pun harus bergantung pada belas kasih tetangga.

Di dalam unggahan itu, pemilik akun menyebut dirinya sebagai mantan tetangga pasutri tersebut yang kini tinggal di Malang, Jawa Timur, sehingga tak bisa berbuat banyak. Ia pun meminta masyarakat yang tinggal di sekitar Bojonggede untuk membantu pasutri itu karena, menurutnya, para tetangga menelantarkan mereka.

Kata Ketua RT Bantah Telantarkan, Sebut Sudah Bantu

Ilustrasi BPJS Kesehatan. Foto: Shutterstock

Kusuma, Ketua RT 05/ RW 07 Desa Rawa Panjang, Bojonggede, akhirnya buka suara terkait viralnya kondisi suami-istri tersebut.

Kusuma menegaskan tudingan warga menelantarkan keduanya tidak benar. Ia menyebut warga dan pengurus RT sudah peduli jauh sebelum unggahan di Threads itu viral.

"Artinya itu kan berita bohong. Jadi saya sebagai RT dan stafnya maupun warga ke siapa pun warganya ya peduli lah. Biar kata sedikit saya punya uang kas pun ya tetap harus (bantu), itu kan kewajiban," ujar Kusuma saat ditemui kumparan, Rabu (21/10).

Ia menjelaskan bahwa RT tidak ada subsidi dari pemerintah, namun bisa mengarahkan warga untuk musyawarah ke Desa Rawa Panjang jika ada yang sakit untuk mendapatkan rujukan.

"Desa ini sekarang kan bisa meng-cover, orang yang sakit bisa dirujuk. Cuman tahu-tahu nyebar seperti ini. Saya sih nggak marah, saya anggap hiburan saja," ujarnya.

Kusuma pun menyayangkan publik yang langsung mem-bully warga dan pihak RT tanpa tahu kondisi sebenarnya di lapangan.

"Netizen tahunya di media, oh ini orang nggak diurus nih sama RT-nya, nggak peduli nih warganya. Padahal mereka nggak tahu keberadaan tetangganya, teman-temannya, atau RT dan stafnya. Padahal sakitnya bukan satu kali dua kali, sering," katanya.

Ia juga menyebut ada aturan penggunaan uang kas RT yang hanya bisa dikeluarkan sekian kali dalam setahun untuk satu orang, namun warga tetap membantu dengan cara iuran.

"Harapan ke depannya ya jangan sampai terjadi seperti ini lagi, yang paling utama kan komunikasi dengan pengurus RT," tutup Kusuma.

Sementara, Bendahara RT, Setiawan, menjelaskan soal kronologi warga memberikan bantuan untuk pasutri tersebut. Menurutnya, sebelum viral, pihaknya sudah mendapatkan kabar soal kondisi pasutri itu.

Ia pun bercerita, sehari setelah mendapat kabar itu, pihak RT sempat membawa keduanya ke rumah sakit.

"Awalnya itu istri saya di-WhatsApp sama yang bersangkutan, yang meng-upload, menanyakan Pak Andi sakit katanya tambah parah, apakah dari lingkungan tidak ada (bantuan). Sama istri saya sudah dibantu, pihak RT pun juga sudah mengantarkan berobat," ujarnya.

Ia menyebut, pada pagi usai mendapatkan pesan Wa tersebut, Andi sempat dibawa ke rumah sakit, namun BPJS-nya tidak aktif.

"Ternyata sebelum istri saya itu, sudah di-up dulu ke media. Jadi sebelum bertanya ke istri saya sudah up dulu ke media, tapi belum konfirmasi ke pihak RT dulu," ungkapnya.

Setiawan menambahkan, keseharian Andi di lingkungan sangat baik dan sering kumpul dengan warga.

"Kalau Pak Andi sama warga itu baur, sering kumpul. Kadang kalau dia nggak ada makanan, ada beberapa yang bantu kasih makan, istri saya pun kalau ada makanan dikasih," katanya.

Ia juga menyebut Andi sering sakit asam lambung, bahkan pada bulan Juni lalu sempat sakit dan sudah diantar berobat oleh warga dan Pak Sekretaris RT.

"Kita nggak tahu kalau BPJS-nya dia memang dari awal nggak aktif. Karena mereka sendiri baru pindahan, KTP-nya Tebet," jelasnya.

Cerita Warga

Rumah pasangan disabilitas yang viral karena sakit dan tak dapat penanganan medis di Bojonggede, Bogor. Foto: kumparan

Dua tetangga Andi, Yuni (39), memberikan kesaksian senada bahwa warga dan pengurus lingkungan telah berupaya membantu.

Yuni menceritakan, saat Andi sakit dengan keluhan BAB terus-menerus dan mual, sejumlah warga ikut begadang menjaganya hingga dini hari.

Yuni mengatakan, keluarga sempat mengecek status BPJS Kesehatan Andi melalui aplikasi JKN Mobile dan ternyata berstatus non-aktif karena mereka pindahan dari Jakarta.

"'Oh ini urus ke kelurahan' katanya. 'Nanti cabut berkas. Karena dia pindahan dari Jakarta ke sini. Itu pun tanpa dipungut biaya'," ujar Yuni menirukan penjelasan pengurus RT.

Ia mengatakan, warga yang paham soal BPJS pun bahkan berinisiatif subuh-subuh berangkat ke Citayam untuk bertanya ke pengurus. Saat itu, suami Yuni sempat menawarkan membawa Andi ke rumah sakit, namun Andi sendiri menolak hingga pukul 04.00 WIB dini hari, sementara Ella bingung siapa yang akan menunggu karena BPJS masih dalam proses.

Yuni menegaskan, Andi sudah mendapat penanganan medis sebelum video itu viral.

"Siang harinya, warga bernama Yuri dan Uwo membawa Andi ke Bidan Kartika menggunakan motor. Sudah enak, sudah bisa makan duduk. Tapi cuma masih buang air dikit-dikit," kata Yuni.

Pada hari Minggu (18/10), sebelum video viral pada malam Senin (19/10), kondisi Andi sempat membaik setelah diberi obat lambung oleh teman pengajiannya. Ia bahkan masih bisa berjalan mengambil uang Rp 100 ribu yang ditransfer melalui bank dari saudaranya yang masuk ke rekening adik Yuni bernama Mardia.

Sore harinya, Andi kembali diantar berobat ke klinik oleh pengurus RT bernama Ipan yang akrab disapa Pak Kumis. RT pun sudah berjanji akan mengurus BPJS dan kartu keluarga (KK) Andi pada hari Senin agar bisa dirawat di rumah sakit.

"RT juga pengen ngurusin sini. Ini BPJS sama KK ntar saya diurus. RT kan udah peduli banget dong. Udah ada respon dari warga sama RT ya. Awal belum viral pun udah respon," ujar Yuni.

Pada Selasa (20/10) malam, Andi akhirnya dibawa ke RS Cibinong untuk pemeriksaan lebih dalam terkait penyakit lambung yang selama ini dikeluhkannya.