Paus Leo Kecam Pembantaian di Sudan, Desak Segera Gencatan Senjata

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Paus Leo XIV berjalan saat misa pengukuhannya di Lapangan Santo Petrus, di Vatikan, Minggu (18/5/2025). Foto: Guglielmo Mangiapane/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Paus Leo XIV berjalan saat misa pengukuhannya di Lapangan Santo Petrus, di Vatikan, Minggu (18/5/2025). Foto: Guglielmo Mangiapane/REUTERS

Paus Leo XIV memberikan pernyataan terkait kondisi terkini konflik antara Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) dan militer di Sudan.

Saat memimpin Doa Angelus (Doa Malaikat Tuhan) di hadapan umat Katolik di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV menyerukan gencatan senjata dan segera membuka bantuan kemanusiaan di Sudan. Paus Leo XIV menyatakan akan menindaklanjuti kebrutalan mengerikan yang terjadi di kota Al-Fashir di Darfur.

"Kekerasan tanpa pandang bulu terhadap perempuan dan anak-anak, menyerang warga sipil yang tak berdaya dan hambatan serius terhadap aksi kemanusiaan menyebabkan penderitaan yang tak dapat diterima," kata Paus Leo XIV di Vatikan, dikutip dari Reuters, Senin (3/11).

Paus Leo XIV juga meminta masyarakat internasional untuk bertindak dengan tegas dan murah hati dalam mendukung upaya bantuan.

Kantor HAM PBB mengatakan ratusan warga sipil dan pejuang tak bersenjata kemungkinan tewas pada akhir bulan lalu saat paramiliter RSF mengambil alih el-Fasher. Kota itu merupakan benteng pertahanan terakhir militer Sudan di Darfur.

Pengungsi Sudan berkumpul dan duduk di tenda-tenda darurat setelah melarikan diri dari Kota Al-Fashir di Darfur, di Tawila, Sudan, Rabu (29/10/2025). Foto: Mohamed Jamal/Reuters

Paramiliter RSF Ambil Alih Kota el-Fasher, 2 Ribu Orang Dilaporkan Tewas

Pengungsi Sudan berkumpul dan duduk di tenda-tenda darurat setelah melarikan diri dari Kota Al-Fashir di Darfur, di Tawila, Sudan, Rabu (29/10/2025). Foto: Mohamed Jamal/Reuters

el-Fasher jatuh ke tangan paramiliter RSF pekan lalu. Selama 18 bulan, RSF mengepung kota itu dan puluhan ribu warga terpaksa pergi dari sana.

Militer Sudan menyebut paramiliter RSF melakukan pembantaian massal di sana. Mereka mengeklaim 2.000 orang tewas, dan Jaringan Dokter Sudah menduga sebanyak 1.500 orang tewas.

Sejumlah laporan mengungkap situasi mengerikan setelah militer Sudan angkat kaki. Beberapa rekaman di media sosial memperlihatkan paramiliter RSF merayakan kemenangan setelah militer Sudan mundur. Mereka merayakan kemenangan di bekas pangkalan militer Al-Fashir.

Sejumlah anggota RSF tampak menembaki dan memukuli warga yang mencoba kabur. Beberapa warga juga terlihat ditangkap. Tak cuma itu, fasilitas medis dan rumah sakit turut jadi target penjarahan.

Panglima Militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengatakan pasukannya menarik diri agar tak terjadi kekerasan lanjutan yang menargetkan warga sipil.

"Kami bertekad untuk membalas dendam atas apa yang terjadi pada rakyat kami di Al-Fashir. Kami, sebagai rakyat Sudan, akan meminta pertanggungjawaban para penjahat ini," ujarnya.