Paus-Sekjen PBB Khawatir jika AS-Rusia Tak Terikat Pengurangan Senjata Nuklir

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berpidato dalam Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di Markas Besar PBB di New York City, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berpidato dalam Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di Markas Besar PBB di New York City, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP

Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis antara Amerika Serikat dan Rusia (New Strategic Arms Reduction Treaty/New START ) berakhir hari ini. Perjanjian ini merupakan kelanjutan upaya pengurangan arsenal nuklir kedua negara sejak berakhirnya Perang Dingin, yang masa berlakunya resmi habis hari ini.

Setelah New START berakhir, AS-Rusia belum terlihat bernegosiasi untuk menyusun pakta pembatasan senjata nuklir baru.

Lalu apa dampaknya bagi dunia jika kedua negara tak lagi terikat pakta perjanjian tersebut?

"Untuk pertama kalinya dalam setengah abad terakhir, kita menghadapi dunia tanpa pembatasan senjata nuklir, baik itu dari sisi Rusia atau AS," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Kamis (5/2), dilansir AFP.

Guterres menilai, belakangan ini justru saat paling berbahaya, senjata nuklir harusnya dikendalikan ketat.

Sebuah model bom udara termonuklir Soviet AN-602, juga dikenal sebagai Bom Tsar, senjata nuklir paling kuat yang pernah dibuat dan diuji, berada di Pusat Pameran Seluruh Rusia (VDNH) di Moskow (6/12/2023). Foto: Natalia Kolesnikova/AFP

"Bubarnya perjanjian terjadi di saat yang paling buruk, saat risiko penggunaan (senjata nuklir) terjadi paling tinggi dalam satu dekade terakhir," kata Guterres.

Sementara Paus Leo XIV berharap para pihak meneruskan pembicaraan untuk menghindarkan dari situasi perlombaan senjata nuklir.

Paus Leo XIV menyampaikan pidatonya di depan makam Santo Charbel Makhlouf di Biara Santo Maroun, di Annaya, Lebanon, Senin (1/12/2025). Foto: Domenico Stinellis/AP Photo

"Saya mendesak kedua negara, untuk tidak meninggalkan perjanjian ini tanpa perjanjian pengganti yang konkret yang efektif," kata Paus Leo.

Sementara itu, Rusia telah menyatakan bahwa tak terikat lagi dengan perjanjian tersebut.

"Rusia tidak lagi terikat dengan kewajiban atau deklarasi yang terkait dengan pakta tersebut. Lalu, Rusia akan bersikap secara tegas, jika keamanan nasional terancam," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam statementnya.

Sekilas Pengurangan Hulu Ledak Nuklir

Ilustrasi hulu ledak nuklir milik Amerika Serikat. Foto: Shutter Stock

Pakta pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia pertama kali diteken pada 1991, tepat di penghujung Perang Dingin, melalui START I.

Perjanjian ini mengatur pengurangan jumlah hulu ledak nuklir strategis masing-masing negara hingga maksimal 6.000 unit.

Sebelum START I, masing-masing negara memiliki lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir strategis, sehingga pembatasan hingga 6.000 unit menandai pengurangan signifikan setelah Perang Dingin.

Seorang pria China melihat pameran trotoar yang menampilkan berbagai sistem pengiriman hulu ledak nuklir dan senjata AS berteknologi tinggi pada 28 Mei 1999 di Beijing. Foto: Stephen Shaver/AFP

Perjanjian ini kemudian diikuti Moscow Treaty (SORT) pada 2002 sebagai masa transisi, dengan target pengurangan hulu ledak ke kisaran 1.700–2.200 unit.

Pada 2010, kedua negara memperbarui kesepakatan tersebut lewat New START, yang membatasi 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan.

Dengan berakhirnya New START pada 5 Februari 2026, kini tidak ada lagi perjanjian aktif yang secara hukum membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang disiagakan kedua negara.