PBB: Israel Rusak 17 CCTV Markas Besar UNIFIL

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL sedang berpatroli di perbatasan Libanon-Israel. Foto:  UN Peacekeeping
zoom-in-whitePerbesar
Anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL sedang berpatroli di perbatasan Libanon-Israel. Foto: UN Peacekeeping

Pasukan militer Israel disebut merusak 17 CCTV yang terhubung langsung ke Markas Besar UNIFIL di Lebanon Selatan. Perusakan CCTV itu dilakukan dalam kurun 24 jam terakhir.

"17 kamera markas besar telah dihancurkan oleh tentara Israel," kata seorang pejabat keamanan PBB yang enggan disebut namanya, dilansir AFP, Sabtu (4/4).

Sejak dimulainya perang Israel-Hizbullah pada 2 Maret, pasukan UNIFIL memang terjebak di tengah baku tembak.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan, "kamera-kamera tersebut tampaknya telah dihancurkan oleh sejenis laser."

Dia menambahkan, "tentara (Israel) hadir di Naqura dan telah melakukan pembongkaran besar-besaran terhadap bangunan-bangunan di desa tersebut minggu ini."

Sebelumnya, Ardiel mengatakan serangan yang dilakukan Israel tak hanya menghancurkan rumah dan bisnis warga sipil. Kekuatan ledakan dari proyektil yang dilontarkan juga menyebabkan kerusakan markas UNIFIL.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix dan Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Letnan Jenderal Aroldo Lazaro, mengunjungi Posisi PBB 1-21 yang terletak di Garis Biru dekat Ramieh, Lebanon selatan. 12 Januari. Foto: Pasqual Gorriz/PBB

Tiga pasukan perdamaian dari Indonesia bahkan menjadi korban tewas dalam dua insiden serangan yang berbeda pada pekan lalu.

Beberapa hari lalu, ledakan juga terjadi kembali di salah satu pangkalan UNIFIL yang kembali melukai 3 pasukan perdamaian asal Indonesia.

Tentara Israel menuduh Hizbullah menembakkan "sebuah roket yang mendarat di pos terdepan UNIFIL".

Menurut PBB, total 97 anggota pasukan UNIFIL telah tewas sejak dibentuk pada 1978 lalu untuk memantau penarikan pasukan Israel setelah mereka menginvasi Lebanon.