PBNU Dorong Konflik Hamas Vs Israel Segera Diakhiri

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, usai kunjungan PP Muhammadiyah ke PBNU di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/5/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, usai kunjungan PP Muhammadiyah ke PBNU di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/5/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyerukan agar kekerasan antara Hamas dengan Israel yang meletus sejak Minggu (8/10) lalu di Jalur Gaza bisa dihentikan.

Dalam keterangan resminya, ia juga mendorong agar seluruh pihak terkait dan masyarakat internasional ikut bertindak tegas menyelesaikan konflik Israel-Palestina sesuai hukum internasional yang berlaku.

"Masyarakat internasional harus bertindak dengan langkah-langkah yang lebih tegas (decisive) menuju penyelesaian yang adil atas masalah Israel dan Palestina sesuai hukum dan kesepakatan-kesepakatan internasional yang ada,” tegas Gus Yahya.

Ia juga meminta agar Dewan Keamanan PBB tak menggunakan hak veto mereka hanya demi membela satu pihak saja. Apalagi konflik ini, menurutnya, adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam.

Warga Palestina memeriksa kehancuran di lingkungan yang rusak parah akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Shati Kota Gaza, Senin (9/10/2023). Foto: MAHMUD HAMS / AFP

"Keadilan dan kemanusiaan harus dijadikan landasan sikap yang absolut,” ungkapnya.

Gus Yahya lalu menekankan kepada masyarakat agar tak menggunakan identitas dan seruan keagamaan untuk memupuk serta menyuburkan kebencian dan permusuhan. Termasuk dalam konteks konflik Israel-Palestina.

“Inspirasi agama tentang rahmah dan keadilan universal harus dikedepankan untuk menggulirkan upaya resolusi konflik di semua tingkatan, baik di tingkat struktur politik maupun di tingkat komunitas,” tutup Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang itu.