PDIP: Bedakan antara Pemerintah Diktator dan Rezim yang Kuat

Ucapan Presiden Jokowi soal wajah diktator menuai banyak komentar. Ada yang tersenyum-senyum dengan ucapan Jokowi itu, ada juga yang malah menyindir.
Sebenarnya ucapan Jokowi tentang wajah diktator itu bermula saat ia hendak membagi-bagikan sepeda kepada para santri yang bermukim di ponpes Minhaajurrosyidiin, Selasa (8/8). Seperti biasa, saat membagikan sepeda, Jokowi memanggil sejumlah santri. Kemudian Jokowi memanggil seorang peserta bernama Gladys untuk maju ke atas panggung.
Saat itu, Gladys memang ragu-ragu untuk maju ke depan. Jokowi kemudian langsung melontarkan guyonan yang membuat seluruh pengunjung tertawa.
"Enggak usah takut, Presidennya bukan diktator kok," ujar Presiden Joko Widodo yang diikuti gelak tawa para tamu yang hadir di lokasi.
Ucapan wajah diktator ini ramai diperbincangkan di media sosial. Keriuhan itu juga karena ada beberapa politisi yang berkicau di akun media sosial mereka, salah satunya Wakil Ketua DPR Fadli Zon.
"Menilai diktator itu bukan dari wajahnya, tapi kebijakan dan tindakannya. Tumpas ormas, tangkap seenaknya, tuduh makar dll, apa demokratis?" kicau Fadli Zon yang diretweet hampir seribu orang, Rabu (9/8).
Menanggapi komentar Fadli, politikus PDIP dan anggota DPR Aria Bima menuturkan dalam pandangan politik konvensional, demokrasi dapat dilihat sebagai dimensi institusi.
"Artinya, jika terdapat lembaga semacam legislatif, yudikatif, eksekutif, dan pemilu berkala, maka suatu rezim dikatakan demokratis," kata Aria kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (10/8).
Menurutnya, demokrasi tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, melainkan harus dikembangkan ke arah tingkah laku politik. Sebagai contoh, Aria membandingkan Rusia pada rezim Uni Soviet dan Indonesia pada rezim Orde Baru.
Menurutnya, kala itu demokrasi ada. Namun tingkah laku politik pada saat itu sangat otoriter.
"Demokrasi hanya sekedar formalitas. Pemilu seolah-olah dilakukan berkala setiap 5 tahun. Proses pembodohan dan pendangkalan rakyat terus berlangsung secara sistematis. Itulah diktator dengan institusi, pemilu, dan senyuman," paparnya.
Lanjut kepada pemerintahan Jokowi saat ini, Aria berpendapat wajah Jokowi sama sekali tidak mengindikasikan kediktatoran.
"Perlu dicermati perbedaan antara kediktatoran dan rezim yang kuat. Hal tersebut berbeda," tegasnya.
"Rakyat Indonesia terlalu lama 10 tahun dipimpin rezim yang cengeng. Begitu ganti rezim yang tegas dan lugas, cenderung berpola reaksioner dan berteriak-teriak tentang diktator," lanjutnya.
Aria menyebut hal tersebut sebagai dagelan politik yang tidak lucu. Sebab tidak dapat membedakan regim diktator, regim yang kuat, atau strong regim.
"Itu adalah akibat kelamaan dipimpin regim yang cengeng dan peragu," tutupnya.
