PDIP dan NasDem Tegang di Tengah Wacana Reshuffle oleh Jokowi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puan Maharani swafoto dengan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh dan 5 Megawati Soekarnoputri. Foto: Instagram/@puanmaharaniri
zoom-in-whitePerbesar
Puan Maharani swafoto dengan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh dan 5 Megawati Soekarnoputri. Foto: Instagram/@puanmaharaniri

Wacana reshuffle kabinet Jokowi kian menghangat memasuki 2023. Sejak akhir tahun lalu, isu reshuffle santer seiring Anies Baswedan dideklarasikan sebagai bakal capres Partai NasDem.

Menteri-menteri dari NasDem disebut-sebut akan digeser. Di kabinet saat ini ada 3 menteri dari partai tersebut yakni Mentan Syahrul Yasin Limpo, Menkominfo Johnny G Plate, dan Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar.

Partai pengusung Jokowi, PDIP, belakangan tak segan menyuarakan wacana reshuffle. Bahkan Ketua DPP PDIP Djarot Syaiful Hidayat menyebut Mentan dan Menteri LHK sangat layak digeser karena kinerjanya.

Adapun NasDem tak terima menterinya dinilai punya kinerja buruk. Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choirie menyindir pernyataan Djarot seperti berasal dari orang yang mabuk.

Sementara itu, Istana membenarkan bahwa reshuffle berpotensi digelar bulan ini.

“Mungkin Januari. Kita tunggu bareng-bareng. Kalau nanti ada menteri yang diganti harus tetap semangat dan tersenyum seperti saat awal anda dipilih. Jangan marah, jangan dongkol karena waktu anda sudah sampai di sini saja,” kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin kepada wartawan, Kamis (5/1).

Lantas, seperti apa ketegangan antara PDIP dan NasDem di tengah isu reshuffle?

PDIP Nilai Kinerja Menteri NasDem Tak Memuaskan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (tengah) dan Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/9/2022). Foto: Galih Pradipta/Antara Foto

Djarot menjadi sosok yang pertama kali terang-terangan menyasar NasDem sejak isu reshuffle muncul. Sebagai Anggota DPR Komisi IV, Ia mengaku menyoroti kinerja Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dan Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Kinerja dua menteri dari NasDem itu dinilai kurang memuaskan dan perlu dievaluasi.

Menyikapi itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan sikap Djarot mewakili partai.

Menurutnya kinerja dua menteri itu memang harus dievaluasi terutama Mentan. Ia menyebut, kinerja Mentan jauh dari apa yang diharapkan.

"Kalau kita lihat apa yang disampaikan Mentan pada 22 Agustus yang menyampaikan Indonesia akan mengekspor beras ke China, tapi kemudian faktanya jauh dari apa yang disampaikan," kata Hasto dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (30/12).

"Bahkan itu harus impor beras. Sikap PDIP tentunya terus mengkritisi kebijakan impor beras. Itu menjadi catatan PDIP dan bagi Presiden apakah hal tersebut akan menjadi konsekuensi reshuffle, itu keputusan Presiden," tutur Hasto.

Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Ke-III Wanita Tani Indonesia HKTI di Bogor, Selasa (18/10/22). Foto: Kementan RI

Lebih lanjut, Hasto mengatakan jika Jokowi nantinya melakukan reshuffle, ia meminta keputusan itu tidak dikaitkan dengan urusan politik.

"PDIP mendorong jelang 2024, seluruh menteri bekerja keras membangun legacy di kementerian yang dipimpin. Kalau tidak bisa, tidak mampu, jangan dikaitkan urusan politik ketika Presiden mengambil keputusan reshuffle," kata Hasto.

Ahmad Ali Nilai Reshuffle Dorongan Parpol, Belum dengan Kabar dari Jokowi

Wakil Ketua Umum NasDem, Ahmad Ali, mengatakan belum mendengar kabar menterinya akan direshuffle oleh Jokowi. Menurutnya, isu reshuffle Menteri NasDem adalah dorongan parpol.

"Yang heboh ini menurut saya sih dari media saja ya. Kalau dari partai politik ya, ada partai politik yang mendorong-dorong Presiden untuk melakukan reshuffle ya," kata Ahmad Ali saat dihubungi, Senin (2/1).

"Pencalonan dan Anies dihubungkan dengan seakan-akan Presiden dengan Pak Surya paloh ini orang tidak saling mengenal, yang saling mengkhianati, saling menyakiti. Pada akhirnya NasDem ini dianggap virus dan macam-macam. [Padahal] dari Presiden sendiri kita belum mendengar [reshuffle] itu secara langsung," imbuhnya.

Ahmad Ali memandang, saat ini Jokowi lebih fokus menyampaikan soal ancaman ekonomi global yang makin nyata. Ia menilai akan sangat riskan jika merombak kabinet di tengah-tengah masa sulit. Kekompakan kabinet Jokowi dinilainya salah satu faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik di masa pandemi.

"Apa mungkin dalam situasi global yang tidak menentu ini, terus mau dilakukan perombakan kabinet, umpamanya. Apa tidak berisiko akan terjadi kegaduhan [yang] akan justru mengganggu kinerja pemerintah?" ungkapnya.

Djarot Minta Menteri LHK dan Mentan Mundur

Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Saiful Hidayat. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Usai menyoroti kinerja Menteri LHK dan Mentan, Djarot kini meminta keduanya sebaiknya mundur. Selain masalah kinerja, Djarot menilai sikap politik partai yang menaungi keduanya, NasDem, menjadi faktor reshuffle dapat dilakukan.

"Satu [karena] kinerjanya, dua termasuk partainya. Kalau memang gentle betul sudah seperti itu, akan lebih baik untuk menteri-menterinya lebih baik mengundurkan diri," kata Djarot di Kantor DPP PDIP, Selasa (3/1).

"Ada beberapa alasan kenapa Menteri Pertanian, Menteri LHK, perlu dievaluasi, juga terkait dengan Partai NasDem yang sudah mendahului mendeklarasikan calon presidennya," imbuhnya.

Djarot memberikan contoh, misalnya soal swasembada pangan yang menjadi salah satu keinginan Jokowi. Namun, Indonesia yang seharusnya memiliki kedaulatan pangan malah produksi berasnya belum mencukupi.

"Harga beras naik, dan baru saja datang impot beras dari luar. 500 ribu ton. Padahal prinsipnya adalah, Pak Jokowi ingin membangun kedaulatan pangan," lanjutnya.

Sebab itu ia pun yakin meski tak mundur, Jokowi sudah pasti menggeser Menteri LHK dan Mentan.

"Maka dari itu kita tunggu saja dan Pak Jokowi sudah memberi sinyal, reshuffle itu pasti akan dilakukan, pasti. Apakah akan jangka waktu dekat, atau dua tiga bulan menurut Pak Jokowi tunggu waktunya, tunggu saja kan begitu, tapi pasti," pungkasnya.

Gus Choi ke Djarot: Habis Minum Pil Apa Ya? Kok seperti Mabuk

Pernyataan Djarot membuat NasDem panas. Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choirie mengibaratkan Djarot seperti mabuk.

Ia heran, sebab menurutnya persoalan reshuffle adalah wewenang penuh Presiden Jokowi.

"Mungkin baru minum pil apa ya kok seperti mabuk? Maksa-maksa menteri NasDem mundur. Soal menteri hak prerogatif presiden," kata Gus Choi kepada wartawan, Rabu (4/1).

Gus Choi memandang kinerja menteri-menteri NasDem selama ini baik. Ia pun menyindir Djarot agar menghilangkan rasa iri hati dan dengki.

"Minum obat yang menyehatkan fisik, pikiran dan hati. Hindari makan obat yang bikin hati dan pikiran kemrungung, hasud, dengki pada tetangga," ujar Gus Choi.

"Kinerja menteri-menteri NasDem top semua. Kapasitas pribadinya juga enggak kalah dengan menteri-menteri lain," pungkasnya.