News27 Juli 2020 11:32

PDIP Kenang Tragedi Kudatuli dengan Tabur Bunga dan Doa

Konten Redaksi kumparan
PDIP Kenang Tragedi Kudatuli dengan Tabur Bunga dan Doa (1204929)
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat menyampaikan keterangan pers di kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (15/1). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
PDI Perjuangan (PDIP) hari ini (27/7), mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 atau biasa disebut Kudatuli 24. Kerusuhan itu bermula dari pengambilan paksa kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat yang dikuasai pendukung Megawati oleh pendukung Soejardi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) dibantu oleh aparat.
ADVERTISEMENT
Kerusuhan itu bahkan menjalar ke beberapa wilayah di Jakarta. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan partainya akan menggelar sejumlah kegiatan untuk mengenang peristiwa kelam itu.
"Peringatan peristiwa 27 Juli di Kantor DPP PDI Perjuangan dilakukan dengan tabur bunga, doa, dan webinar," kata Hasto kepada wartawan, Senin (27/7).
Hasto memaparkan, meski saat itu kantor PDI luluh lantak, namun sejarah mencatat, energi perjuangan tidaklah surut. Apa yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dengan memilih jalur hukum, menunjukkan keyakinan politik yang sangat kuat.
"Keyakinan terhadap kekuatan moral terbukti mampu menggalang kekuatan demokrasi arus bawah. Kekuatan moral itu mendapatkan momentumnya ketika seorang hakim di Riau yang bernama Tobing, mengabulkan gugatan Ibu Megawati. Di sinilah hati nurani menggalahkan tirani," kata Hasto.
PDIP Kenang Tragedi Kudatuli dengan Tabur Bunga dan Doa (1204930)
Megawati Soekarnoputri ketika memberikan pengarahan usai pengumuman calon kepala daerah di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Lebih lanjut, Hasto menegaskan, kekuatan moral politik itu juga dibuktikan dengan sikap Megawati yang lantang meneriakkan 'Setop Hujat Pak Harto' kala itu. Padahal, rakyat juga mengetahui bagaimana praktek desukarnoisasi yang dilakukan orde baru.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, keluarga Bung Karno juga mendapatkan berbagai tekanan dan diskriminasi oleh rezim saat itu.
"Ketika saya menanyakan sikap Ibu Mega terkait hal tersebut, keluarlah jawaban yang diluar perkiraan saya: Saya tidak ingin sejarah terulang, seorang Presiden begitu dipuja berkuasa, dan dihujat ketika tidak berkuasa," kata Hasto.
"Rakyat telah mencatat apa yang dialami oleh keluarga Bung Karno. Karena itulah, mengapa Bung Karno selalu berada di hati dan pikiran rakyat. Kita tidak boleh dendam lalu hanya melihat masa lalu, dan melupakan masa depan," tutur Hasto mengutip pernyataan Megawati.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white