PDIP Keras ke Nasdem karena Sebut Anies Antitesa Jokowi: Gerindra Tak Begitu
ยทwaktu baca 2 menit

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan alasan pihaknya mengkritisi deklarasi Anies Baswedan sebagai capres NasDem. Sementara PDIP tak masalah dengan deklarasi Prabowo Subianto sebagai capres Gerindra.
Hasto menuturkan kritik terhadap deklarasi Anies karena NasDem menyebut mempersiapkan tokoh yang merupakan antitesa [antitesis menurut KBBI] Presiden Jokowi. Sementara itu, NasDem merupakan parpol pendukung pemerintah dan Jokowi masih menjabat hingga 2024 mendatang.
"Karena antitesa. Bayangkan ketika itu disampaikan sebagai suatu antitesa kepada Pak Jokowi, Pak Jokowi sedang menjabat yang juga sedang didukung oleh partai politik termasuk NasDem," kata Hasto di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (13/10).
Hasto mengungkapkan, antitesa artinya kondisi yang sama sekali berbeda, yang berlawanan 180 derajat dengan kondisi status quo.
Hasto menuturkan pernyataan NasDem yang menyebut Anies merupakan antitesa Jokowi menciptakan kerumitan dalam tata pemerintahan. Sebab, kata dia, bisa saja rencana pemerintahan Jokowi dibocorkan kepada pihak eksternal pemerintahan.
"Ketika itu disampaikan oleh DPP-nya lho yang menyampaikan, sebagai antitesa. Ya kami merespons karena ini menciptakan kerumitan dan persoalan kepada tata pemerintahan," tuturnya.
"Sementara yang dibahas Presiden dengan menteri itu berkaitan dengan masa depan bangsa dan negara. Kalau itu bocor ke antitesanya gimana? Jadi aspek etika menimbulkan persoalan tata pemerintahan yang serius," lanjut Hasto.
Sementara itu, Hasto menuturkan Gerindra dan Prabowo tak pernah menyampaikan mengenai antitesa Jokowi. Sehingga, kata dia PDIP objektif dalam menyampaikan kritik.
"Nah, Pak Prabowo tidak pernah berbicara antitesa, Gerindra tidak pernah berbicara antitesa. Jadi kami fair apa yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan secara politik, dan akademis. Karena risetnya ada," sebut dia.
Lebih lanjut, Hasto menyebut Anies memang sudah menjadi antitesa Jokowi sejak menjadi Gubernur DKI. Sebab, banyak janji kampanye yang belum tuntas hingaa penanganan banjir yang belum baik.
"Kemudian kita lihat itu di dalam mengatasi banjir, Pak Basuki baru saja mengeluh ketika normalisasi sungai Ciliwung, pembebasan lahan tidak dilakukan oleh pemerintah daerah padahal ada Rp 315 triliun anggaran selama 5 tahun Pak Anies. Jadi dari gubernur saja sudah antitesa," tutup Hasto.
Ucapan Hasto salah satunya ditengarai karena komentar kader NasDem Zulfan Lindan dalam diskusi soal Anies adalah antitesa Jokowi sehingga cocok untuk diusung. Zulfan sudah dinonaktifkan dari pengurus karena ini.
"Pertama apa, Jokowi ini kita lihat sebagai tesa, tesis, berpikir dan kerja, tesisnya, kan, begitu Jokowi. Lalu kita mencari antitesa, antitesannya apa? Dari antitesa Jokowi ini yang cocok itu, Anies," kata Zulfan pada diskusi di channel Total Politik.
