PDIP soal Prabowo-Megawati Bergandengan di Hari Pancasila: Pertemanan Tulus
·waktu baca 4 menit

Ketua DPP PDIP Said Abdullah menegaskan hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tetap terjalin baik meski kedua tokoh berada dalam posisi politik yang berbeda. Menurut Said, Prabowo tidak memaknai perbedaan posisi politik sebagai permusuhan.
Hal itu disampaikan Said merespons momen keakraban antara Megawati dan Prabowo yang bergandengan tangan saat menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila.
Said menjelaskan hubungan Megawati dan Prabowo dibangun di atas sejumlah fondasi yang telah terjalin selama puluhan tahun.
“Pertama, aspek pertemanan lama. Kedua beliau ini menjadi sahabat yang sudah terjalin puluhan tahun. Kedua beliau bahkan sama-sama pernah berjuang dalam kontestasi pada pemilihan presiden tahun 2009, kedua beliau menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pertemanan dan silaturahmi itu terus berlanjut meski pilpres tahun 2009 telah usai,” ungkap Said dalam keterangannya, Selasa (2/6).
Menurut Said, hubungan baik tersebut tetap terjaga meskipun pada Pilpres 2014 dan periode berikutnya PDIP dan Prabowo berada pada kubu politik yang berbeda.
“Bahkan, saat PDI Perjuangan mencalonkan Pak Jokowi pada pilpres tahun 2014 dan berkontestasi dengan Pak Prabowo waktu itu, dan pada periode berikutnya, hubungan dan silaturahmi kedua beliau tetap terjaga dengan baik,” tutur Said.
“Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela,” lanjutnya.
Selain faktor persahabatan, Said menilai hubungan keduanya juga dibangun atas dasar saling menghormati kapasitas kenegarawanan masing-masing.
Ia mencontohkan keputusan Prabowo yang tetap mempercayakan posisi Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN kepada Megawati meski PDIP berada di luar pemerintahan.
“Aspek kedua, selain hubungan persahabatan, Ibu Mega saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN. Meski presiden telah berganti, Presiden Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Ibu Mega, meskipun PDI Perjuangan bukan bagian dari pemerintahan,” ungkap Said.
“Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan, demikian halnya Presiden Prabowo, sehingga urusan tersebut melampaui urusan politik praktis,” sambungnya.
Said menyebut kedua tokoh memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya nilai-nilai kebangsaan, khususnya dalam penguatan ideologi Pancasila.
“Kedua beliau memiliki pandangan yang sama, lembaga negara seperti BPIP memang harus dijabat oleh negarawan, sekaligus kegigihan seorang tokoh dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. Urusan Pancasila ini melampaui segala-galanya, dan itulah yang dipedomani oleh kedua beliau. Jadi kemesraan pada acara peringatan hari Pancasila itu manifestasi dari hal ini,” tuturnya.
Said menegaskan hubungan Megawati dan Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Karena itu, keberadaan PDIP sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan tidak pernah dipandang sebagai ancaman ataupun musuh politik oleh Prabowo.
“Aspek ketiga, hubungan Ibu Mega dan Presiden Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Perbedaan jalan politik, di mana PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang tidak dimaknai oleh Presiden Prabowo sebagai musuh. Bahkan dalam Pidato Presiden Prabowo di DPR tanggal 20 Mei lalu, beliau menghormati dan mengapresiasi berbagai lontaran masukan yang diberikan kader-kader PDI Perjuangan di DPR,” kata Said.
“Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan,” tambahnya.
Menurut Said, tiga fondasi tersebut membuat hubungan Megawati dan Prabowo tetap harmonis meski berbeda haluan politik.
“Karena ketiga fondasi hubungan dan cara pandang kedua beliau ini lah mengapa hubungan Ibu Mega dan Presiden Prabowo awet, tidak ternoda, meski berbeda haluan politik kepartaiannya,” ucapnya.
Ia juga menilai hubungan baik kedua tokoh turut menjadi teladan bagi kader PDIP dan Gerindra di parlemen.
“Saya kira keteladanan ini pula yang diikuti oleh jajaran pada Fraksi PDI Perjuangan dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program-program pemerintah, meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan, namun keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi,” pungkasnya.
