Pedagang Mainan Ragunan Protes karena Harus Bayar Biaya Retribusi

Sejumlah pedagang mainan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan mengeluhkan adanya biaya retribusi yang harus mereka bayarkan ke pengelola Kebun Binatang agar bisa tetap berjualan di sekitar lokasi.
Hal ini terkait dengan aturan retribusi yang diterapkan bagi para pedagang yang hendak menjajakan barang dagangannya.
Kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (18/3), beberapa pedagang menceritakan perbedaan perolehan keuntungan sebelum dan sesudah adanya peraturan yang mewajibkan mereka menggunakan ID Card serta membayar retribusi ke Bank DKI.
Seorang pedagang mainan, Marullah (52), mengungkapkan, pengelola kebun binatang menerapkan aturan yang hanya memperbolehkan pedagang mainan berjualan di hari libur. Akibatnya, kata Marullah, penghasilannya menurun drastis.
“Untung Rp 100.000 per hari. (Jualan) Sabtu-Minggu doang. Belum (kebutuhan) di dapur, enggak cukup dah buat gituan, apalagi buat rumah,” kata Marullah di lokasi.

Marullah yang sudah berjualan 15 tahun di Kebun Binatang Ragunan ini menyebut, mereka diwajibkan menyetor ke bank Rp 15 ribu untuk hari Minggu, dan Rp 10 ribu untuk hari Sabtu. Jika tidak membayar sesuai jadwal, pedagang akan didenda Rp 50 ribu.
“Yang setoran Sabtu-Minggu digabung menjadi Rp 110.000 untuk disetor ke bank dalam sebulan, padahal hari biasa kita enggak jualan,” rinci Marullah.
Tak hanya itu, menurut Marullah, mereka juga mendapatkan perlakuan berbeda antara pedagang minuman dan mainan. Salah satunya soal izin berjualan bagi kedua jenis pedagang tersebut.
“Pedagang minuman boleh jualan tiap hari, padahal kita sama-sama punya ID Card,” imbuhnya.
Berbeda dengan Marullah, seorang pedagang minuman kemasan Marmin (67) mengungkapkan, dia bersama pedagang minuman lainnya tidak dibatasi waktu berjualannya. “Tidak dibatasi, kalau yang dibatasi hanya pedagang mainan dan pedagang pecel,” ujar Marmin.
Marmin yang merupakan pensiunan pegawai Pemko Jaksel ini mengatakan, untuk pedagang minuman mereka diwajibkan menyetor Rp 300 ribu per bulan. “Beda memang bayarnya dengan mainan dan jualan peccel, lumayanlah untungnya,” pungkasnya.
