Pedagang Ronde Kota Batu Dituding Sajikan Menu Sisa Pembeli, Ini Kata Paguyuban

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasar Laron, Alun-alun Kota Batu, lokasi pedagang ronde viral yang diduga daur ulang sampah adonan ronde. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Laron, Alun-alun Kota Batu, lokasi pedagang ronde viral yang diduga daur ulang sampah adonan ronde. Foto: kumparan

Pedagang ronde di Kota Batu diduga menyajikan kembali bekas sajian dari pembeli lain yang tersisa. Hal ini terungkap dari unggahan di media sosial Threads melalui akun @eggieeew pada Selasa (21/7).

Pada unggahannya, pemilik akun tersebut menarasikan ada seorang oknum pedagang ronde di kawasan Pasar Laron, Alun-alun Kota Batu, yang menyajikan ulang sisa wedang ronde yang tidak habis dari pembeli lain.

"Buat warga yang mau liburan ke Malang dan berniat ke Alun-Alun Batu atau warga sekitarnya, tolong hindari kedai gerobak ronde satu ini, posisinya persis di sebelah Rumah Susu 'Sudiro'. Ini harus banyak orang yang tau karena jualannya jahat dan merugikan, niat sehat malah khawatir jadi penyakit. Jadi, gini ceritanya," tulis akun @eggieeew pada unggahannya.

Pemilik akun tersebut juga menarasikan rasa wedang ronde, yang merupakan minuman berbahan jahe dengan isian kacang dan adonan kulit ronde, kurang terasa segar karena terlalu banyak air. Namun, yang menjadi perhatian, diduga penjual ronde itu memasukkan kembali sisa hidangan pembeli ke dalam sebuah panci dan menyajikan kembali ke pembeli lain.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Laron, Sahid, mengatakan unggahan di media sosial itu memang merujuk pada pedagang di kawasan Pasar Laron, Alun-alun Kota Batu. Lokasi penjual ronde itu berada tepat di depan Pasar Laron yang masih satu area dan menjadi bagian dari pedagang di Pasar Laron.

"Iya memang pedagang PKL di situ, yang jual namanya Pak Jarwo, dulu pengawas koperasi, sama Pak Punjul cuma satu ditaruh di depan situ. Menetap di situ nggak keliling, tetap di situ. Soalnya tempatnya di situ. Jualan sudah lama mulai zamannya Almarhum ER jadi wali kota," kata Sahid, dikonfirmasi kumparan, Rabu (22/7).

Sehari-hari, kata Sahid, Jarwo biasanya berjualan pada sore hingga malam hari dibantu seorang perempuan yang merupakan karyawannya. Saat unggahan yang dibuat oleh akun @eggieeew, Jarwo disebut sedang keluar dan digantikan oleh karyawannya.

"Kalau malam anak buahnya yang jaga, waktu itu Pak Jarwonya keluar, pegawainya yang jaga," kata dia.

Unggahan di medsos yang menarasikan adanya dugaan pemanfaatan sisa ronde pembeli lain membuatnya terkejut. Apalagi, selama ini hal tersebut tidak pernah dilihatnya. Bahkan, setelah ramai diperbincangkan di Threads, ia langsung mengkonfirmasi kepada pedagang bernama Jarwo tersebut.

"Saya sudah tanyakan ke pihak yang bersangkutan, saya nggak tahu tapi kok tiba-tiba ada tulisannya seperti itu sampah itu sudah diambil, masak bekasnya orang makan dikasihkan orang lagi la seperti itu. Saya kroscek katanya itu ditaruh di panci, nggak ditaruh panci itu di ceret. Saya kok ini muncul terus di media," jelas dia.

Suasana Alun-alun Kota Wisata Batu. Foto: kumparan

Dari unggahan foto yang beredar, diduga itu merupakan gerobak lama milik Jarwo, sedangkan saat ini Jarwo disebut Sahid sudah menggunakan gerobak baru. Ia mengaku khawatir unggahan di media sosial itu merupakan bagian dari praktik persaingan usaha, apalagi ada komentar dan unggahan dari warganet lain yang merekomendasikan penjual ronde di samping Masjid Agung An-Nur Kota Batu.

"Foto gerobak itu foto lama, bukan baru, tapi lokasinya tetap di situ, gerobaknya saja ganti. Takutnya saya ada kecemburuan sosial gitu. Ronde paling ramai di situ, lah kok ada yang komen itu sebelahnya Masjid An Nur itu, saya sudah paham ini ada kecemburuan sosial," tuturnya.

Bahkan, setelah ramai diperbincangkan di medsos, tidak hanya dagangan milik Jarwo yang sepi, melainkan nyaris seluruh pedagang di Pasar Laron terdampak. Ia pun merasa prihatin dan meminta instansi terkait turut turun tangan membantu mencarikan solusi.

"Ini malah sepi, dua hari ini. Terpengaruh satu ya akhirnya semua ikut terpengaruh, mulai sepi," ujarnya.

Kata Diskumdag

Sementara itu, Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu Andri Yunanto menyayangkan unggahan di medsos yang tidak disertai foto atau bukti video. Pihaknya pun sudah mendatangi pedagang ronde tersebut, tetapi justru menemukan fakta yang berbeda dari narasi yang beredar di medsos.

"Jangan sampai karena berita yang ini yang mungkin kebenarannya perlu masih kita pertanyakan kita diskusikan, tapi akhirnya berdampak kepada 537 pedagang yang ada di sana," kata Andri Yunanto, dikonfirmasi secara terpisah.

Menurutnya, terdapat 537 pedagang di kawasan sekitar Alun-alun Kota Wisata Batu yang menggantungkan hidup dari berjualan. Namun, adanya isu di medsos membuat pemasukan para pedagang menurun.

"Kan gitu kasihan, sudah pariwisatanya turun, kan gara-gara kayak gini citranya PKL Alun-Alun yang menjadi sentra wisata kulinernya akhirnya turun juga," ucapnya.