Pekatnya Asap Karhutla di Kota Palangka Raya: Kualitas Udara Berbahaya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Jalan Seth Adji, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Jalan Seth Adji, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Istimewa

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut dilaporkan telah berlangsung selama hampir empat bulan.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, jarak pandang di Kota Palangka Raya kurang dari 150 meter.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut Palangka Raya, kualitas udara di wilayah tersebut pada pukul 08.00 WIB masuk kategori berbahaya.

Kabut asap juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Aminah, seorang pedagang makanan dan gorengan di Jalan RTA Milono, Kota Palangka Raya, mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat kondisi tersebut.

Aminah mengatakan, biasanya ia berjualan mulai pukul 06.00 WIB hingga 15.00 WIB dan memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 600 ribu per hari. Namun, sejak kabut asap menyelimuti kota, keuntungan hariannya turun menjadi sekitar Rp 500 ribu.

"Biasanya kami dalam satu hari mulai buka pagi pukul 06.00 WIB sampai sore hari pukul 15.00 WIB mendapat keuntungan bersih mencapai Rp 600 ribu. Namun akibat kabut asap ini hanya mendapat Rp 500 ribu. Ini mungkin masyarakat enggan keluar rumah akibat asap," katanya.

Ia berharap kabut asap akibat karhutla segera berakhir sehingga kondisi udara kembali normal dan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa.