Pelaku Sediakan Safe House untuk Paksa Pegawai Bank Bobol Rekening Dormant

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tersangka kasus penculikan-pembunuhan pegawai bank saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tersangka kasus penculikan-pembunuhan pegawai bank saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Membobol dana di rekening nganggur/tidur (dormant) adalah motif sindikat kasus penculikan dan pembunuhan pegawai bank di Jakarta bernama Muhammad Ilham Pradipta.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra menyebut para pelaku sempat menyiapkan safe house untuk memuluskan aksi mereka.

Safe house atau posko itu rencananya akan digunakan pelaku untuk memaksa Ilham memindahkan rekening dormant ke rekening penampung.

Rekening dormant ialah rekening tabungan yang tidak aktif atau tidak ada aktivitas transaksi dalam kurun waktu tertentu.

"Lokasi safe house tersebut diharapkan untuk bisa memaksa korban untuk melakukan kegiatan pemindahan dana," kata Wira saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Selasa (16/9).

Barang bukti kasus penculikan-pembunuhan pegawai bank saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Pada Rabu (20/8), lima pelaku menculik korban di tempat parkiran pusat perbelanjaan di Jakarta Timur. Ilham dibawa masuk ke dalam mobil putih yang digunakan para pelaku. Mobil putih itu terparkir tepat di sebelah mobil korban.

Selanjutnya korban dipindahkan ke mobil Fortuner di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, pukul 21.00 WIB. Di dalam mobil Fortuner itu ada para pelaku lainnya yang sudah menunggu.

Di mobil Fortuner itu pelaku menunggu pelaku lainnya berinisial C alias K untuk membawa Ilham di safe house.

"Rencananya akan dibawa ke safe house yang telah disiapkan. Karena tim penjemput tidak kunjung datang sedangkan pada saat itu korban kondisi sudah dalam keadaan lemas, akhirnya korban dibuang di daerah Serang Baru, Cikarang, dalam keadaan kondisi kaki maupun tangan masih terikat dan mulut dalam kondisi terlakban atau dilakban," ucap Wira.

RS, penyedia tim pantau dan tim IT dalam kasus penculikan dan pembunuhan pegawai Bank. Foto: Dok. Istimewa

Safe House Sedang Disewa

Di kesempatan yang sama, Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan (Kasubdit Jatanras) Polda Metro Jaya, AKBP Abdul Rahim, menjelaskan korban akhirnya tidak jadi dibawa ke safe house karena ada miskomunikasi dari para pelaku.

"Saat perencanaan, N menyanggupi untuk menyiapkan posko (safe house), namun pada pelaksanaannya posko yang disiapkan sedang disewa oleh orang lain. Sehingga (korban) tidak jadi ke posko, tapi dipaksa di dalam mobil Fortuner," ucap Abdul.

Tim IT Siap Pindahkan Rekening Dormant

Menurut Abdul, pelaku lain, yaitu K alias C, sudah menyiapkan tim IT yang akan membantu memindahkan rekening dormant itu.

"N dan YP harusnya bawa korban ke posko, korban dipaksa, seandainya korban mau, nanti tim IT akan datang dan membawa korban ke bank lalu eksekusi rekening dormant tersebut di kantor tempat korban bekerja," kata Abdul.

Namun karena Ilham menolak akhirnya kepala cabang bank itu dibuang dalam kondisi sudah lemas. Jasad korban ditemukan di sebuah lapangan di Kampung Karang Sambung, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (21/8).