News
·
4 September 2020 16:08

Pelaku Usaha hingga Pedagang Tolak Usulan Bandara Husein Bandung Khusus Domestik

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pelaku Usaha hingga Pedagang Tolak Usulan Bandara Husein Bandung Khusus Domestik (88696)
Surat terkait perubahan status Bandara Husein Sastranegara. Foto: Dok. Istimewa
Bandara Husein Sastranegara Bandung menjadi satu dari delapan bandara yang diusulkan diubah statusnya dari bandara internasional menjadi bandara domestik.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Tours and Travel (ASITA) Jabar Budijanto Ardiansjah mengaku sudah mengetahui wacana itu sejak dua bulan yang lalu.
Budi menambahkan, wacana tersebut berasal dari Presiden Joko Widodo yang menilai perlu pengurangan bandara internasional. Meski demikian, wacana itu masih berupa usulan. Dia menilai bahwa pengurangan bandara internasional tak diperlukan.
"Semakin banyak tentu semakin baik karena kan negara kita itu kan negara yang luas dan terdiri dari pulau-pulau jadi tentu saja tak bisa kita bandingkan dengan negara lain," kata Budi ketika dikonfirmasi, Jumat (4/9).
Terkait Bandara Husein S, Budi menilai tak diperlukan turun status menjadi bandara domestik sebab bandara tersebut jadi pintu masuk wisatawan asing ke wilayah Jabar. Sejauh ini, wisatawan asing yang masuk ke Jabar mayoritas berasal dari Singapura dan Malaysia.
Pelaku Usaha hingga Pedagang Tolak Usulan Bandara Husein Bandung Khusus Domestik (88697)
Ilustrasi landasan pacu bandara. Foto: Shutter Stock

Apabila nantinya status diturunkan, Budi khawatir wisatawan asing enggan masuk ke Jabar terutama ke Bandung Raya. Kalaupun dialihkan ke Bandara Kertajati atau Bandara Soekarno-Hatta, akses ke Bandung Raya dinilai masih belum memadai.

ADVERTISEMENT
"Saya khawatir nanti timbul keengganan dan mereka akan mencari alternatif daerah lain dan kita tahu sekarang kita punya banyak sekali kompetitor ya, kawasan Indonesia Timur, dan lain sebagainya, itu kan juga menjadi kompetitor kita," ucap dia.
Budi menyebut, berdasar data tahun lalu atau sebelum pandemi, wisatawan asing yang datang ke Bandung Raya cukup banyak. Sebab banyak maskapai yang melayani penerbangan internasional seperti Air Asia dan Melindo Air. Tingkat keterisian maskapai itu cukup tinggi, bisa mencapai 80 persen.
Dengan begitu, jika diturunkan statusnya jadi bandara domestik, Budi berharap akses dari Bandara Kertajati ke Bandung diperbaiki agar wisatawan asing yang datang tak menempuh perjalanan terlalu lama.
"Jarak tempuh misalnya dari Kertajati ke Bandung itu sudah tidak lebih dari sejam, itu mungkin boleh. Idealnya bandara itu kan tidak terlalu jauh dari kota," tutur dia.
ADVERTISEMENT

Suara Pedagang Pasar Baru

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Pedagang Pasar Baru Bandara Husein Sastranegara, Iwan Suhermawan, mengatakan, perubahan status bandara bakal berimbas kepada penjualan pakaian di Pasar Baru. Pasar Baru acap kali menjadi destinasi wisata bagi wisatawan asing terutama dari Malaysia.
"Menyesalkan dan jangan sampai terjadilah penutupan penerbangan internasional dari dan ke Bandung," tutur Iwan.

Wisatawan asing yang datang ke Kota Bandung didominasi oleh warga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam dengan penerbangan langsung ke Bandara Husein Sastranegara.

‎"(Perubahan status bandara) Berdampak bukan hanya ke Pasar Baru, tapi ke dunia pariwisata di Bandung. Wisatawan yang biasanya belanja ke Pasar Baru bakal pindah ke Tanah Abang Jakarta atau ke Medan," ucap dia.
ADVERTISEMENT
"Kami menolak Bandara Husein Sastranegara hanya jadi bandara domestik saja karena akan merugikan pelaku usaha wisata di Kota Bandung," tegas Iwan.