Pelanggar Aturan COVID-19 di China Diarak bak Parade, Pakai Hazmat & Papan Nama

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas medis berpakaian hazma merawat pasien di salah satu rumah sakit di Wuhan, China. Foto: China Daily via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Petugas medis berpakaian hazma merawat pasien di salah satu rumah sakit di Wuhan, China. Foto: China Daily via REUTERS

Salah satu kota di China tidak main-main dengan aturan nol-COVID mereka. Empat orang yang diduga melanggar aturan pencegahan COVID-19 China tampak diarak di jalanan.

Kantor berita lokal Guangxi News melaporkan, empat orang berbaju hazmat lengkap dengan masker, papan nama, dan foto wajahnya berukuran besar, diarak pada Selasa (28/12) di hadapan kerumunan penduduk di Kota Jingxi, Guangxi, China.

Dikutip dari AFP, dari video yang beredar, tiap terduga pelaku didampingi oleh dua polisi yang juga memakai APD lengkap. Di lokasi arakan, tampak polisi berseragam anti huru-hara. Beberapa di antaranya tampak membawa senjata api.

Keempat pelaku dituduh menyelundupkan imigran ilegal ke China. Sementara, perbatasan China saat ini masih ditutup akibat pandemi COVID-19. Jingxi merupakan kota di wilayah selatan China yang berlokasi dekat dengan perbatasan Vietnam.

Pekerja medis mengambil sampel swab dari warga untuk diuji virus corona di Distrik Ganzhou, di Zhangye, China. Foto: STR / AFP

Hukuman arak-arakan ini diterapkan oleh Pemerintah setempat pada Agustus lalu sebagai salah satu kebijakan pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan pencegahan COVID-19.

Menurut Guangxi News, parade tersebut menjadi “peringatan nyata” kepada masyarakat, sebagai pencegahan terhadap kejahatan di perbatasan.

Namun, hukuman yang mempermalukan warga di depan umum ini dikecam keras oleh banyak pihak, termasuk warga internet dan media.

Pemerintah China sudah melarang praktik mempermalukan tersangka kriminal di depan umum pada 2010, berkat kampanye keras oleh aktivis HAM. Namun belakangan ini, hukuman seperti ini mulai sering dilakukan lagi.

Hal ini disebabkan oleh pemerintah daerah merasa kesulitan untuk menegakkan kebijakan nol-COVID China.

Polisi menggunakan alat pelindung diri menghentikan mobil yang datang dari provinsi Hbei di pos pemeriksaan pinggiran Beijing, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

“Meskipun Jingxi berada di bawah tekanan besar untuk mencegah kasus impor virus corona, kebijakan ini secara berat melanggar ruh dari aturan hukum dan tidak bisa dibiarkan kembali terjadi,” ujar Beijing News, kantor berita yang terasosiasi dengan Partai Komunis China.

Ini bukan kali pertama tersangka penyelundupan manusia diarak seperti ini. Menurut situs Pemerintahan Jingxi, dalam beberapa bulan terakhir, tersangka lainnya juga menjalani hukuman yang sama.

Kemudian pada November, dua narapidana dipertontonkan di muka umum sembari pejabat setempat membacakan tindak-tindak kejahatan yang mereka lakukan.

Sedangkan pada Agustus, puluhan polisi bersenjata tampak mengarak seorang tersangka di jalanan yang menuju sebuah taman bermain.

X post embed