Pelatih Persib U-18 Ungkap Awal Mula Penyerangan di Batang: Bus Dilempari Batu

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polisi saat mendatangi mobil rombongan Persib yang diserang di rest area 360 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Polisi saat mendatangi mobil rombongan Persib yang diserang di rest area 360 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

Pelatih Persib U-18, Tito Agung, mengungkapkan kronologi penyerangan terhadap rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung di Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10) malam.

Insiden tersebut bermula ketika rombongan berhenti untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

Tito mengatakan, pemberhentian dilakukan karena sopir bus membutuhkan waktu istirahat. Saat itu, rombongan Persib tidak mengetahui bahwa di lokasi yang sama terdapat rombongan suporter klub lain yang sedang beristirahat.

"Kita tidak menyadari bahwa memang ada rombongan suporter yang sedang melakukan istirahat juga di Rest Area 360. Jadi, kalau secara kronologinya, pada saat bus itu parkir, tepat di depan kerumunan para suporter itu," kata Tito saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Senin (12/10).

Menurut Tito, beberapa ofisial tim, termasuk Pandu Persada dan Ridwan, turun dari bus untuk melakukan aktivitas di rest area. Namun, situasi mulai berubah ketika salah seorang ofisial yang mengenakan atribut Persib diduga menarik perhatian kelompok suporter tersebut.

Melihat situasi itu, Tito mengaku sempat menahan anggota tim lainnya agar tidak turun dari bus. Dia khawatir keberadaan atribut Persib di tengah kelompok suporter rival dapat memicu ketegangan.

"Saya tahan anggota tim yang lain untuk tidak ada yang keluar lagi. Anggota tim yang lain tidak ada yang keluar lagi untuk tetap bertahan di bus," ujarnya.

Tito menyebut, sejumlah orang kemudian masuk ke dalam bus dan melontarkan kata-kata kasar serta melakukan intimidasi. Meski demikian, dia memastikan para pemain dan ofisial yang berada di dalam bus berusaha tidak terpancing provokasi.

Situasi semakin memanas ketika rombongan Persib tidak dapat segera meninggalkan lokasi karena sopir bus sedang beristirahat dan meninggalkan kendaraan untuk sementara waktu.

Tito menuturkan, provokasi terus berlangsung hingga terjadi pelemparan batu ke arah bus. Akibatnya, kaca pintu belakang di sisi kiri dan kanan kendaraan tersebut pecah.

"Puncaknya bus kita dilempari dengan batu yang membuat pintu kaca belakang di kiri dan kanan itu pecah. Ada juga beberapa pemain yang terkena serpihan," ungkapnya.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan usai menerima kunjungan dari Tim dan Orang Tua Pemain EPA Persib Bandung di Pendopo Kota Bandung usai peristiwa penyerangan di Tol Batang, Senin (12/10/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Datangi Polres Batang

Di tengah situasi tersebut, pihak tim mendapat informasi bahwa Pandu Persada tidak dapat kembali ke bus karena diduga menjadi korban pengeroyokan. Kondisi itu membuat Tito dan rombongan memutuskan meninggalkan lokasi untuk mencari bantuan kepolisian.

Menurut Tito, rombongan kemudian mendatangi Polres Batang untuk melaporkan kejadian yang mereka alami. Pihak kepolisian selanjutnya menindaklanjuti laporan tersebut dan membantu menjemput anggota tim yang tertinggal di rest area.

Dalam beberapa jam setelah kejadian, seluruh anggota tim akhirnya dapat kembali berkumpul dalam keadaan selamat. Meski demikian, Tito menyebut sejumlah anggota rombongan mengalami luka-luka akibat insiden kekerasan tersebut.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan bus pengganti. Mereka juga meminta pengawalan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan selama perjalanan.

Terkait pemicu kejadian, Tito menegaskan bahwa rombongannya tidak berniat mencari persoalan dengan kelompok suporter lain. Mereka berhenti semata-mata untuk beristirahat, menggunakan toilet, dan makan malam sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

"Sebetulnya enggak ada pemicu, karena kita sama-sama berada di rest area. Di situ kita normal saja. Kita tidak ada pemikiran untuk bertemu dengan kelompok suporter atau apa, kita hanya memang ingin istirahat," tuturnya.

Dia juga mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah orang yang terlibat dalam penyerangan tersebut. Berdasarkan pengamatannya dari dalam bus, jumlah orang yang berada di lokasi terus bertambah ketika situasi semakin kacau.

"Yang semula saya awal lihat hanya sekitar enam sampai delapan orang, tapi makin ke sini makin bertambah banyak," katanya.

Akui Trauma, Berharap Pengamanan Diperketat

Tito mengakui insiden tersebut menimbulkan trauma, bukan hanya bagi para pemain, tetapi juga dirinya sebagai pelatih. Kekhawatiran muncul karena kompetisi EPA masih berlangsung dan tim masih harus menjalani sejumlah pertandingan di luar kota.

Meski demikian, dia merasa terbantu dengan rencana pendampingan dan peningkatan pengamanan yang disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menerima tim dan orang tua pemain EPA Persib di Pendopo Kota Bandung, Senin (12/10).

Farhan sebelumnya menyatakan Pemkot Bandung bersama Askot PSSI Kota Bandung akan menyiapkan pendampingan psikologis bagi para pemain dan keluarga yang terdampak. Pemkot juga berencana mendiskusikan pengamanan perjalanan tim akademi bersama manajemen Persib.

Salah satu rencana yang disampaikan Farhan adalah menugaskan personel Satpol PP dan Dinas Perhubungan untuk membantu pengamanan rombongan, termasuk sebagai pengemudi cadangan jika diperlukan.

Tito menilai rencana tersebut dapat memberikan rasa aman bagi tim untuk melanjutkan kompetisi sekaligus menjalankan pembinaan sepak bola usia muda.

"Setelah mendengar tadi dari Pak Wali, ada sedikit yang memberikan kami motivasi. Harus ada pendampingan, harus ada perwakilan dari TNI dan Polri. Itu sangat memberikan rasa aman buat kami untuk tetap melakukan pembinaan sepak bola ini," ucap Tito.

Dia berharap langkah pencegahan dan pengamanan dapat ditingkatkan agar kejadian serupa tidak kembali menimpa tim akademi ketika bertanding atau melakukan perjalanan ke luar kota.

Menurut Tito, perlindungan terhadap pemain dan ofisial menjadi penting agar mereka dapat menjalankan kompetisi dengan rasa aman, tanpa dibayangi kekhawatiran akan terjadinya kekerasan di perjalanan.