Pelatihan Penulisan Diskominfo Jabar, Bongkar Tips Rilis Layak Naik di Media
·waktu baca 3 menit

Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat (Diskominfo Jabar) menggelar pelatihan “Sharing Session Penulisan Rilis Pers Efektif” bersama jurnalis kumparan M. Rizki pada Selasa (25/11).
Pada kesempatan itu, Rizki menyampaikan dalam sehari, redaksi dapat menerima hingga 200 rilis, sehingga redaksi terbiasa bekerja dengan cepat, padat, dan selektif.
“Redaksi menerima 200 rilis dan waktu baca editor 5 hingga 10 detik,” kata Rizki di Aula Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (25/11).
Rizki mengatakan, dengan waktu yang singkat itu, judul menjadi kunci utama dalam proses seleksi.
“Terutama judulnya yang dibaca,” ucap dia.
Ia menyampaikan lima alasan rilis tidak berhasil dimuat di media, di antaranya:
1. Tidak ada news value, hanya seremonial.
2. Tidak ada data, kutipan lemah atau terlalu normatif.
3. Headline tidak jelas, rilis terlalu panjang.
4. Foto tidak layak muat.
5. Miss timing.
Media Bukan Corong Instansi, Berpegang pada News Value
Rizki memaparkan, terdapat dua mindset yang harus dipahami. Pertama, media akan memberitakan topik yang relevan dan berdampak, bukan sekadar menjadi corong instansi.
“Yang harus dipahami adalah, media bukan corong instansi, mereka pilih yang relevan dan berdampak,” kata Rizki.
Kedua, rilis pers harus menjawab kepentingan publik, bukan hanya berfokus pada pengumuman instansi.
“Rilis harus menjawab ‘mengapa publik perlu tahu?’, bukan ‘mengapa instansi ingin mengumumkan?’,” kata dia.
Rizki menyampaikan, kunci utama dari rilis yang layak dimuat adalah nilai berita. Rilis juga harus berfokus pada dampak, bukan pada pejabat yang terlibat.
“Fokus pada dampak, bukan pejabat,” ucap dia.
Judul sebagai Penentu
Rizki mengatakan, judul menjadi penentu sebuah rilis layak dimuat atau tidak. Penulisan judul juga jangan sampai “dipelintir” sehingga menimbulkan mispersepsi. Ia menekankan struktur penulisan dengan pola subjek-aksi-dampak.
Selain itu, kata-kata normatif juga perlu dihindari. Penting pula untuk mencantumkan angka dan hasil.
“Hindari kata normatif seperti ‘tingkatkan sinergi’, ‘tingkatkan kolaborasi’. Gunakan angka dan hasil,” ujar Rizki.
Pemilihan foto, lanjut dia, juga menjadi penentu sebuah rilis dapat dimuat di media.
“Kalau cuma foto pose barengan ‘Jabar Istimewa’ kan kurang menarik, beda dengan foto-foto yang close-up action. Maka kirim foto harus beberapa alternatif,” ucap Rizki.
Rizki juga menyebut waktu pengiriman rilis harus diperhatikan. Rilis dapat dikirim pada pagi hari jika tulisan memerlukan konteks lebih.
Sementara itu, rilis juga bisa dikirim saat acara belum selesai.
“Jangan saling tunggu dengan fotografer resmi,” ucapnya.
Ia menegaskan, rilis yang dikirimkan harus memenuhi kebutuhan publik, bukan sekadar laporan kepada atasan. Menurutnya, pembaca memerlukan cerita, bukan hanya laporan kegiatan.
“Menulis untuk publik, bukan untuk atasan. Pembaca butuh cerita, bukan cuma laporan kegiatan,” kata lulusan Jurnalistik Unpad itu.
