Peluh Kurir: Kirim Ratusan Paket, Tak Diberi Libur, Sakit 2 Bulan

20 Februari 2023 19:58
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi paket. Foto: PeopleImages/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paket. Foto: PeopleImages/Getty Images
Menjadi kurir bukan pekerjaan yang mudah dilakukan oleh Surya (42), bukan nama asli. Sebagai tulang punggung keluarga yang harus membesarkan dua anak, pendapatan sebelumnya sebagai ojol tak lagi cukup menopang keluarga.
Sejak tiga bulan lalu, Surya pun menerima tawaran teman untuk menjadi mitra kurir di sebuah perusahaan ekspedisi yang beroperasi di Jakarta Selatan. Sebagai pekerja di lapangan, sudah bukan hal baru mendapat tantangan cuaca atau menghadapi situasi di jalan yang suka semena-mena.
Tapi sebagai kurir, tantangan itu menghantamnya berkali-kali lipat.
"Pernah awal-awal karena cuaca, gerimis kita paksain sampai sempat gejala tifus (tetap bekerja). Karena makan nggak teratur dan minum kurang sempet, dehidrasi juga," ungkap Surya kepada kumparan, Senin (20/2).
Menurut Surya, berhadapan dengan customer dengan watak dan karakter yang beragam juga menjadi tantangan. Contohnya, soal Sistem Cash On Delivery (COD) yang dipilih pelanggan secara sadar tak menjadikan mereka langsung paham prosedur dan alur pembayaran.
"Kalau COD untuk beberapa customer yang nggak ngerti, ya kita sering berdebat. Mereka maunya buka paket dulu, sedangkan kita nggak bisa. Dan selalu kurir yang dimarahin," imbuhnya.
Surya pun mengaku, tantangan didapat saat mengantar paket kepada para penerima yang tidak memiliki bel rumah. Berseru tak cukup sehingga berteriak sampai menghabiskan suara, bukan hanya untuk satu dua rumah.
Surya menyebut, itu bisa memakan 10 sampai 20 menit waktunya mengantar satu paket saja. Tapi kalau tak diterima, paket harus dia bawa kembali. Artinya, usahanya ke rumah tersebut tak dihitung untuk menambah upah harian.
"Ngabisin banyak waktu kalau teriak-teriak ke setiap rumah. Karena kita dibatasi waktu trip juga, dalam satu hari ada 3 trip, kalau dalam satu trip itu paket tidak habis, ya kita tidak dapat upah sesuai paket yang kita antar," imbuhnya.
Upah mengantar paket tak lebih dari Rp 1.500. Sebagai mitra ia harus mengantar paket sebanyak-banyaknya, sehingga dalam satu hari Surya menargetkan diri mengantar paket 150 sampai 200 paket. Hal itu juga dilakukan rekan-rekannya yang lain.
"Jadi kalau misal paket ditolak kita nggak dapet Rp 1.500 itu. Itu udah semua, nggak ada gaji pokok, gak ada asuransi, dibayarnya per paket. Kalau sehari bawa 80 paket, ya itu rejeki kita. Kalau saya sehari bisa 150-200 paket," ujarnya.
Apabila ia tak mengirim waktu tepat waktu, harus mengganti rugi biaya ongkir sebesar Rp 15.000.
Surya pernah membayar ganti rugi sebuah paket berisi kosmetik. Ia menyebut, paket sudah diterima langsung oleh Asisten Rumah Tangga (ART) customer tersebut. Namun, dia mendapat laporan bahwa customer merasa tak pernah menerima paketnya.
Saat itu ia menunjukkan bukti pengiriman, namun dinilai tak cukup kuat, sebab penerima paket saat itu hanya bersedia difoto tangan dan tidak menunjukkan wajahnya.
Surya kemudian diberi waktu tiga hari untuk mengkonfirmasi. Namun ART rupanya tengah pulang kampung, sehingga ia harus mengganti paket senilai nyaris Rp 100 ribu.
"Sudah diterima ada foto tangan ART nya tapi ART nya lagi di kampung dan kita dikasih cuma 3 hari untuk konfirmasi. Di tempat saya bekerja, gaji dipotong dengan kerugian yang kita ganti," ungkapnya.
Kendala lain yang harus dihadapi Surya. Rasa was-was setiap membawa ratusan paket dengan motor yang dia kendarai.
"Suka deg-degan gitu ninggal motor kalau lagi antar paket di gang-gang. Takutnya pernah kejadian, teman saya paket sama motornya dicuri, masih ada 60 paket lho. Kurirnya ganti 60 paket itu sampai Rp 20 jutaan," jelasnya.
Di samping itu, ia berharap para customer juga bisa lebih memanusiakan para kurir.
"Yang penting HP mohon on terus, kalau kita hubungi sudah direspons karena kan kita pasti udah di depan pagar. Kalau COD kita harus nyiapin kembalian jadi kalau bisa uang pas aja. Kalau misal kita harus nukerin dulu kita cari warung tinggal motor ngeri-ngeri juga kaya gitu," tandasnya.

Tak diberi libur sampai sakit dua bulan

Ilustrasi Menerima Paket Foto: Dok. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Menerima Paket Foto: Dok. Shutterstock
Cerita lainnya datang dari kurir muda berusia 23 tahun di Jakarta. Ridwan, bukan nama sebenarnya, mengaku pernah bekerja tanpa libur selama hampir satu bulan.
Totalnya, ia bekerja selama 23 hari nonstop. Ridwan diharuskan mengantar 100 paket dalam sehari atau target 2.400 paket per bulan. Kejadian itu terjadi pada dua tahun silam.
Saat itu, permintaan pengiriman paket membludak di tengah promo yang dilakukan sejumlah e-commerce di tengah momen bulan puasa. Ridwan pun tumbang, tifus menyerangnya.
Hingga dua bulan ia tak dapat bekerja lagi, sakit itu sampai menyerang lambungnya.
"Ujung-ujungnya hampir 2 bulan saya sakit di rumah. Dari tifus, larinya ke lambung," ujar Ridwan kepada kumparan, Senin (20/2).
Berbeda dengan Surya, Ridwan tak pernah menjadi mitra ekspedisi kurir. Ia mengantar paket sebagai pekerja kontrak. Dalam sebulan, ia diberi target mengantar 2.400 paket untuk mendapat gaji Rp 4 juta.
Bila tak sampai target, perusahaan Ridwan tak segan memberi surat peringatan (SP).
Sementara itu, upah yang diberi tiap paket di luar dari target yang tercapai hanya dinilai sebesar Rp 1.200.
"Target sebulan 2.400, berarti seharinya 100 paket. Seminggu libur satu kali. Kalau ada mitra jadi nggak bisa tembus 100. Kalau nggak tembus 100 konsekuensinya di SP," ungkapnya.
"Tapi itu bukan kesalahan kurir? Iya juga sih. Tapi perusahaan nggak mau tahu juga, kata dia itu kan bisa di push sama SVP-nya," imbuh Ridwan.
Namun, sejak setahun lalu, Ridwan kembali menjadi kurir paket usai diminta oleh seorang leader kurir yang juga bekerja di perusahaan ekspedisi lamanya. Dia pun diberi tahu, ada SVP baru di perusahaannya bekerja.
Ia pun berharap perusahaan dapat memperbaiki sistem kerja yang lebih baik.
"Kepikiran mau pindah, tapi belum ada batu loncatan jadi bertahan di situ dulu. Harapan saya sih perusahaan lebih merhatiin karyawannya, terus ngertiin kinerjanya dia gimana," tutup Ridwan.