Pelukis Difabel Asal Salatiga Pamerkan 32 Karyanya

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sabar Subadri (kanan) di Pameran Tunggalnya di Semarang.  Foto:  Afiati Tsalitsati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sabar Subadri (kanan) di Pameran Tunggalnya di Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Pelukis tanpa tangan (disabilitas) asal Salatiga, Jawa Tengah, bernama Sabar Subadri (40) menggelar pameran tunggal di Mall Ciputra, Semarang, Selasa (3/12). Setidaknya ada 32 karya lukisannya yang dipamerkan hingga 5 Desember mendatang.

Pameran tunggal ini bertajuk 'Spirit Kehidupan'. Sabar mengatakan acara ini merupakan penanda perjalanannya dengan karya tanpa henti. Sekaligus memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional.

"Ada 32 karya terbaik yang dipamerkan di sini," tegasnya ditemui usai pembukaan Pameran Tunggalnya, Selasa (3/12).

Sabar yang sejak kecil terlahir tanpa kedua tangan ingin memotivasi para penyandang difabel untuk semangat dalam menjalani hidup. Terutama dalam hal berkarya.

Sabar Subadri (kiri) mendampingi Kepala Disporapar Jateng saat melihat karya lukis miliknya di Pameran Tunggalnya di Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Meski hidup dengan keterbatasan, tetap bisa menghasilkan karya dan mengharumkan nama Indonesia melalui kekurangannya.

Saat ditemui di lokasi, Sabar bercerita bahwa melukis sebenarnya bukan merupakan bakat alamiah. Melukis merupakan bakat yang terbentuk dari lingkungan.

"Saya lahir kan tanpa tangan, dari usia 10 tahun itu ya, kaya anak kecil pada umumnya, ketemu alat lukis seneng. Orang tua saya lihat oh mungkin kesenangan gambar ini bisa dikembangkan," kata Sabar.

Sabar Subadri (kiri) mendampingi Kepala Disporapar Jateng saat melihat karya lukis miliknya di Pameran Tunggalnya di Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Dari situ lah, tak hanya orang tua tetapi juga guru di sekolahnya mendorongnya untuk menekuni seni lukis. Hingga akhirnya dia mengikuti berbagai ajang serta kini terdaftar dalam Association Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA).

Sabar yang lukisannya beraliran naturalis ini mengaku tak banyak menghadapi kesulitan selama proses melukis. Misalnya ketika harus melukis sesuatu yang detail.

"Misalkan sawah, gambarnya itu kan mesti detail padinya atau (lukisan) yang 'Tenang Dalam Gejolak', itu juga berat karena banyak layer dan harus nunggu cat akriliknya kering," jelasnya.

Sabar Subadri (kanan) di Pameran Tunggalnya di Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Lukisan 'Tenang Dalam Gejolak', menurut Sabar adalah karyanya yang terbaik. Sebab, butuh 6 minggu untuk menyelesaikan lukisan yang inspirasinya didapat saat mengunjungi mata air Senjoyo, Salatiga.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Sinoeng N Rachmadi berharap, karya Sabar Subadri bisa menjadi semangat dalam kehidupan.

"Jadilah pelita dan jadilah inspirasi," kata Rachmadi.