Pelukis Djoko Pekik di Mata Kawan

Pelukis kenamaan, Djoko Pekik, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu pagi (12/8). Di mata kawan, Djoko Pekik adalah seniman yang selalu bersandar pada kemanusiaan.
"Sebelumnya (beberapa waktu lalu sebelum meninggal) Pak Pekik memang pesan supaya perjuangannya diteruskan," kata pelukis Nasirun di Rumah Sakit Panti Rapih.
Perjuangan yang dimaksud Nasirun adalah kemanusiaan. "Mungkin definisi seni itu yang fine punya kagungan atau kemaslahatan. Hari ini mungkin kemanusiaan menjadi barang yang sangat mahal," katanya.
Kepada Nasirun, Pekik juga pernah berujar orang-orang yang nanti akan dikenang adalah yang punya sandaran kemanusiaan. Jika sekadar terkenal, banyak orang yang terkenal.
"Kalau hari ini sebagai manusia, sebagai warga dunia, kalau tidak hati-hati kita akan (jadi) sangat eksklusif. Hubungan manusia dengan manusia lalu sandaran ini mungkin diingatkan oleh almarhum dan itu warisan yang sangat luar biasa," ujar Nasirun.
Sosok Pekik juga amat terbuka dengan para seniman. Ruangan milik Pekik tak terbatas untuk pameran saja tetapi untuk pentas hingga diskusi para seniman.
"Dia punya tempat seperti galeri. Di situ lebih cenderung kepada untuk reriungan, ngobrol. Di sana ada pementasan," jelasnya.
Pekik juga amat peduli pada kesenian-kesenian tradisi. "Itu salah satu yang luar biasa dari sosok almarhum itu," ujarnya.
Sebelumnya, meninggalnya Djoko Pekik dibenarkan budayawan Indonesia Butet Kartaredjasa.
"Nggih jam 8 wau (iya benar meninggal jam 8 tadi)," kata Butet melalui sambungan telepon.
Djoko Pekik meninggal dunia karena usia yang sudah sepuh yakni 86 tahun.
"Memang sudah tua sakit-sakitan," katanya.
