Peluru Tajam Kembali Dipakai untuk Bubarkan Demo di Sudan, 7 Orang Tewas

18 Januari 2022 15:43 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
ADVERTISEMENT
Demo menolak kudeta yang digelar di Sudan pada Senin (17/1/2022) berujung berdarah. Tujuh orang dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT
Demonstran kehilangan nyawa akibat ditembak oleh tentara Sudan. Insiden pada awal pekan ini merupakan salah satu demo paling mematikan usai kudeta terjadi pada Oktober 2021 lalu.
Demo Senin ini berlangsung di beberapa kota termasuk ibu kota Khartoum. Dengan tewasnya tujuh orang tersebut total demonstran yang tewas di tangan tentara pasca-kudeta mencapai 25 orang.
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
Menurut keterangan sumber medis di Sudan, saat membubarkan demo aparat keamanan Sudan menggunakan peluru tajam. Oleh sebabnya, selain korban jiwa beberapa demonstran lainnya menderita luka. Aparat Sudan berulang kali menggunakan peluru tajam.
Blog sipil terkemuka di Sudan menyebut Forces for Freedom menyatakan, aparat keamanan yang dikerahkan untuk mengendalikan demo jumlahnya sangat besar. Di samping melepaskan tembakan peluru tajam, aparat keamanan juga menembakkan gas air mata ke arah demonstran.
ADVERTISEMENT
Forces for Freedom menganggap tindakan aparat sudah melampaui batas dan bentuk pembantaian. Mereka menyerukan warga Sudan menggelar mogok massal.
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
Akibatnya banyak nyawa melayang, pemimpin kudeta Sudan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan menggelar pertemuan darurat dengan pimpinan militer dan kepolisian pada Senin ini.
Dia menduga ada penyusup yang sengaja mengacaukan demo yang tadinya damai. Burhan pun berjanji akan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak pelanggar aturan demo.
Demo berujung penggunaan peluru tajam oleh aparat Sudan menjadi perhatian dunia. Perwakilan Khusus PBB Volker Perthes mengutuk tindakan aparat keamanan Sudan.
"Saya mengecam terus digunakannya peluru tajam untuk mengendalikan demo damai," ucap Perthes seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan serupa turut dilontarkan Kedutaan AS di Khartoum. Mereka meminta pihak-pihak terkait di Sudan menahan diri dari penggunaan kekerasan.
ADVERTISEMENT
"Kami mengkritisi penggunaan taktik kekerasan oleh aparat keamanan di Sudan," ucap pernyataan Kedubes AS di Khartoum.