Pemda Targetkan Investigasi Kasus Jilbab di SMAN 1 Banguntapan Selesai Pekan Ini

8 Agustus 2022 14:08
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suasana SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul, Senin (1/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul, Senin (1/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) melalui Disdikpora DIY terus melakukan investigasi terkait dugaan pemaksaan penggunaan jilbab kepada seorang siswi baru di SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul. Siswi tersebut mengalami depresi diduga akibat pemaksaan tersebut.
ADVERTISEMENT
Pemda DIY menargetkan hasil investigasi kasus tersebut bisa selesai pada minggu-minggu ini. Sementara, saat ini kepala sekolah dan tiga guru dari sekolah tersebut masih dinonaktifkan sembari menunggu investigasi selesai.
"Ya (kasus) kita harus segera selesaikan. Guru dan kepala sekolah yang sedang mengikuti prosedur pemeriksaan, kan, diberhentikan dari tugasnya dulu. Saya kira, sudahlah, kita tunggu hasilnya nanti. Setelah itu baru kita sampaikan hasilnya," kata Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, di Kantor DPRD DIY, Senin (8/8/2022).
Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji di Kantor DPRD DIY, Senin (8/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji di Kantor DPRD DIY, Senin (8/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Aji mengatakan bahwa hasil investigasi dari Disdikpora DIY nantinya akan disinkronisasikan dengan investigasi pihak lain. Selain Pemda DIY, kasus ini juga ditelusuri oleh Kemendikbudristek RI dan Ombudsman Republik Indonesian Perwakilan DIY (ORI DIY).
"Supaya nanti ada sinkronisasi data saya kira itu penting. Ya misalnya dari Kemendikbud, dari Ombudsman kan, dari dinas. Itu kan masing-masing punya," bebernya
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, Aji meminta agar kasus ini tidak perlu melebar ke mana-mana. Menurutnya, salah satu yang penting dan tak boleh dilupakan adalah pemulihan terhadap trauma anak supaya anak tersebut bisa segera kembali belajar dengan baik.
"Jadi kita tidak melebar ke mana-mana kita segera selesaikan saja persoalan. Anak yang bersangkutan bisa segera belajar dengan baik. Dinas pendidikan bisa segera menentukan kesimpulan terhadap investigasi yang dilakukan," katanya.
Siswi tersebut juga diberikan keleluasaan untuk bersekolah di tempat yang paling nyaman. Apakah tetap di SMA N 1 Banguntapan atau pindah ke sekolah lainnya.
"Kalau anak ini saya pikir mana (sekolah) yang bagi anak ini paling baik. Karena yang sentralnya pada anak bisa belajar dengan baik. Dia mau seperti apa. Paling dia sukai seperti apa," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Hasil Investigasi Kemendikbudristek
Inspektur Jenderal Kemendikbudristek Chatarina Muliana Girsang saat di kantor ORI DIY, Jumat (5/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Inspektur Jenderal Kemendikbudristek Chatarina Muliana Girsang saat di kantor ORI DIY, Jumat (5/8/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Sementara itu, Kemendikbudristek menyatakan telah selesai melakukan investigasi kasus tersebut. Menurut Kemendikbudristek, terbukti telah terjadi pemaksaan kepada siswi baru itu.
"Iya (ada pemaksaan penggunaan jilbab) yang dilakukan (guru) yang menimbulkan rasa tidak nyaman karena itu yang menyebabkan anak tersebut curhat dengan ibunya mengenai hal itu," kata Inspektur Jenderal Kemendikbudristek Chatarina Muliana Girsang saat di kantor ORI DIY, Jumat (5/8/2022) lalu.
Chatarina menjelaskan dari hasil investigasi yang dilakukan pihaknya, terbukti ada unsur-unsur pemaksaan kepada siswi. Unsur pemaksaan itu tidak harus selalu melukai secara fisik, tetapi tekanan psikis juga termasuk dalam kategori pemaksaan.
"Jadi memang dari bukti kami yang ada, bahwa yang disebut memaksa itu kan tidak harus anak itu dilukai atau mendapatkan kekerasan fisik tetapi yang secara psikis menimbulkan rasa tidak nyaman itu juga menjadi dasar adanya suatu bentuk kekerasan," katanya.
ADVERTISEMENT
Soal hal ini, Chatarina menyebut ada dalam aturan Permendikbud nomor 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan.
"Itu juga diatur dalam Permendikbud 82 tahun 2015. Jadi tidak boleh ada kekerasan yang berbasis SARA suku agama dan ras," katanya.
Selain itu, ditemukan pula ketidaksesuaian peraturan sekolah dengan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 Tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Diketahui bahwa panduan seragam yang ditemukan ORI DIY menunjukkan bahwa panduan seragam siswi SMAN 1 Banguntapan semuanya disertai atribut jilbab.
"Ketidaksesuaian dengan Permendikbud ya dari gambar yang ada di dalam peraturan sekolah ya dengan jenis seragam khusus untuk siswi yang ada di dalam Permendikbud 45," katanya.
ADVERTISEMENT
Sekolah Bantah Ada Pemaksaan
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banguntapan, Agung Istianto sebelumnya telah angkat bicara terkait kasus ini. Dia membenarkan bahwa Guru BK memang sempat memakaikan jilbab ke siswi tersebut. Namun hal itu atas seizin siswi dan hanya sekedar tutorial.
"Itu hanya tutorial, ketika ditanya siswanya belum pernah memakai jilbab dan dijawab nggak. Oh belum. Gimana kalau kita tutorial dijawab mantuk (mengangguk) iya," kata Agung usai rapat di Disdikpora DIY, Senin (1/8/2022).
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Agung Istianto di Kantor Disdikpora DIY. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Agung Istianto di Kantor Disdikpora DIY. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Dia menjelaskan jilbab yang dikenakan ke siswi tersebut juga diambil dari ruangan guru BK tersebut. Saat itu juga telah ada komunikasi guru BK dan siswi.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Memang ada komunikasi antara guru BK dengan siswanya dan siswanya mengangguk boleh (dipakaikan jilbab)," bebernya.
ADVERTISEMENT
Soal informasi bahwa guru mengeluarkan kata-kata yang tak pantas seperti "orang tuamu nggak pernah salat ya" ke siswi itu, Agung membantahnya. Dia mengatakan tidak ada hal yang kasar yang dilakukan guru saat itu.
"Nggak. Mboten lah (tidak lah)," katanya.
Menurutnya, tutorial seperti itu tidak harus diajarkan oleh guru agama. Sehingga, guru BK pun boleh-boleh saja untuk mengajarkan.
Meski menegaskan tidak mewajibkan siswinya untuk berjilbab, Agung mengatakan bahwa kebetulan siswi yang ada di SMA-nya semua berjilbab.
"Kebetulan nggih berjilbab semua siswi muslimnya," katanya.
Kasus Menurut Pihak Siswi
Kasus ini bermula terjadi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kasus ini kemudian diadukan ke ORI DIY.
Yuliani selaku pendamping siswi yang ditunjuk ortu siswi menjelaskan bahwa siswi tersebut sempat dipanggil oleh 3 guru, termasuk guru Bimbingan Konseling.
ADVERTISEMENT
"Anak itu dipanggil di BP (BK) diinterogasi 3 guru BP (BK). Bunyinya itu kenapa nggak pakai hijab. Dia sudah terus terang belum mau," kata Yuliani.
Dijelaskan bahwa bapak sang anak ini telah membelikan jilbab dari sekolah. Akan tetapi, memang sang anak masih belum mau dan hal ini merupakan hak asasi masing-masing, guru pun tak boleh memaksa meski siswi itu Muslim.
Menurut Yuliani saat itu sang anak merasa dipojokkan karena diinterogasi. Selain itu, disebutkan bahwa guru sempat memakaikan jilbab ke anak tersebut.
"Dia juga paham mungkin dia (guru) nyontohin pakai hijab, tapi anak ini merasa tidak nyaman. Jadi merasa dipaksa," katanya.
Yuliani, pendamping siswi SMA N 1 Banguntapan Bantul yang dipaksa gurunya memakai jilbab. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Yuliani, pendamping siswi SMA N 1 Banguntapan Bantul yang dipaksa gurunya memakai jilbab. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Saat itu guru sempat bilang ke anak tersebut "lha terus kamu kalau nggak mulai pakai hijab mau kapan pakai hijab".
ADVERTISEMENT
"Anak merasa banget dipojokkan. Mungkin gurunya masih prolog yang macam-macam itu," katanya.

Ibu Siswi Bicara

Sementara itu, HA ibu dari siswi tersebut pun telah angkat bicara. Diceritakan HA bahwa pada 26 Juli 2022 lalu sang anak menelepon. Saat itu tidak terdengar suara dari sang anak. Yang terdengar saat itu hanyalah tangisan.
"Setelahnya baru terbaca WhatsApp, "Mama aku mau pulang, aku nggak mau di sini"," jelas HA.
"Ibu mana yang tidak sedih baca pesan begitu? Ayahnya memberi tahu, dari informasi guru, bahwa anak kami sudah satu jam lebih berada di kamar mandi sekolah," bebernya.
Saat itu, dengan segera HA menjemput sang anak ke sekolah. Saat itu, sang anak tengah berada di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam kondisi lemas. Sang anak kemudian memeluk HA tanpa berkata sepatah kata pun.
ADVERTISEMENT

"Hanya air mata yang mewakili perasaannya," ujarnya.

Lanjutnya, pada saat awal sekolah sang anak ini pernah bercerita bahwa di sekolahnya "diwajibkan" pakai jilbab, baju lengan panjang, rok panjang.
"Putri saya memberikan penjelasan kepada sekolah, termasuk wali kelas dan guru Bimbingan Penyuluhan, bahwa dia tidak bersedia. Dia terus-menerus dipertanyakan, "Kenapa tidak mau pake jilbab?"," bebernya.
Di ruang Bimbingan Penyuluhan, seorang guru BK kemudian memakaikan jilbab ke anak tersebut. Menurut HA ini bukan tutorial jilbab seperti yang disampaikan kepala sekolah. Alasannya sang anak tak pernah minta diberi tutorial.
"Ini adalah pemaksaan. Saya seorang perempuan, yang kebetulan memakai jilbab, tapi saya menghargai keputusan dan prinsip anak saya. Saya berpendapat setiap perempuan berhak menentukan model pakaiannya sendiri," katanya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020