Pemerintah Bangun 2 Rumah Sakit Lapangan untuk Tangani Korban Gempa NTT

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengamati rumahnya yang mengalami kerusakan akibat gempa di kawasan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (16/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengamati rumahnya yang mengalami kerusakan akibat gempa di kawasan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (16/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun dua rumah sakit lapangan untuk mempercepat penanganan korban gempa bumi 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, dua rumah sakit lapangan tersebut akan ditempatkan di Kabupaten Manggarai dan Kecamatan Reo.

"Tadi bersama Menko PMK kami sudah meninjau titik untuk menempatkan Rumah Sakit Lapangan lengkap. Ada dua unit, satu nanti ditempatkan di Manggarai ya, kemudian satu lagi nanti di (kecamatan) Reo. Insyaallah besok sudah akan bergerak," kata Suharyanto, Minggu (16/8) malam.

Suharyanto mengatakan, pembangunan rumah sakit lapangan menjadi salah satu langkah BNPB untuk memperkuat penanganan medis di wilayah yang terdampak gempa.

Berdasarkan data sementara BNPB per Minggu (16/8) malam, gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 telah memicu 995 kali gempa susulan. Gempa signifikan terakhir tercatat berkekuatan 6,2 magnitudo.

Dampak gempa tercatat di enam kabupaten di Pulau Flores, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Nagekeo.

"Jadi total per malam ini jumlah yang meninggal adalah 53 orang. Tentu saja ini akan berkembang terus," ujar dia.

Adapun rincian korban meninggal, yakni 25 orang di Manggarai, 20 orang di Manggarai Timur, 4 orang di Sikka, 2 orang di Ende, 1 orang di Manggarai Barat, dan 1 orang di Nagekeo.

Suharyanto mengatakan pemerintah juga akan segera menembus Pulau Palu, Kabupaten Sikka, setelah Bupati Sikka melaporkan adanya tambahan korban di wilayah tersebut.

"Dan ini kami akan segera masuk ke sana, mungkin besok. Termasuk kebutuhan-kebutuhan logistiknya juga bisa masuk ke sana," katanya.

BNPB sebelumnya telah membentuk sejumlah posko untuk mendukung penanganan bencana. Posko Nasional berada di Halim Perdanakusuma, sementara Posko Utama berada di Labuan Bajo dan Posko Taktis di Maumere.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno (tengah) bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (kanan) dan Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu (kiri) meninjau Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (16/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Suharyanto menjelaskan Posko Labuan Bajo melayani empat kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Sementara Posko Maumere melayani Sikka, Nagekeo, dan Ende.

"Kenapa dibentuk yang di Labuan Bajo dan di Maumere? Karena dua titik ini yang bisa didarati pesawat yang cukup besar. Sementara bandara-bandara lainnya di kabupaten lainnya ini relatif susah karena kecil dan terpengaruh dengan cuaca," jelas dia.

BNPB juga mengerahkan dukungan udara untuk mempercepat distribusi logistik.

"Kemudian kami juga ada pesawat Caravan satu dan dapat bantuan juga dari Dirjen Perhubungan Udara, sehingga ada lima pesawat di Labuan Bajo. Kemudian di Maumere juga ada lima pesawat," kata dia.

Suharyanto mengatakan pemerintah masih menghadapi kemungkinan bertambahnya jumlah korban dan kerusakan karena aktivitas gempa masih berlangsung.

Menurut informasi BMKG yang diterima BNPB, kondisi gempa diperkirakan baru lebih stabil dalam dua hingga tiga minggu.

"Sampai sekarang masih terus terjadi gempa, kami beberapa kali di sini juga mendapat goyangan-goyangan. Menurut penjelasan BMKG memang 2 sampai 3 minggu baru kondisi stabil," ujar Suharyanto.