Pemerintah Kebut Proyek Jalan Trans Papua

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pembangunan Jalan Trans Papua (Foto: Dok. Kantor Staf Kepresidenan)
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Jalan Trans Papua (Foto: Dok. Kantor Staf Kepresidenan)

Pembangunan jalan Trans Papua yang ditargetkan bisa rampung pada 2018-2019 terus dikebut. Berdasarkan catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pembangunan jalan di Trans Papua hingga tahun lalu sudah mencapai 3.851,93 kilometer dari total panjang 4.330,07 kilometer.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan pada tahun ini ditargetkan jalan Trans Papua bisa bertambah menjadi sekitar 3.963,87 kilometer. “Sehingga pada akhir tahun tersisa 366,20 kilometer saya,” kata Basuki seperti dikutip dari Antara, Jumat (27/1).

Sementara untuk pembangunan jalan baru di Trans Papua, pada 2016 pengerjaannya sudah mencapai 231,27 kilometer. Tahun ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perubahan Rakyat menargetkan ruang jalan baru yang dibangun ditargetkan 143,35 kilometer.

Basuki mengatakan, salah satu pembangunan ruas jalan yang menjadi fokus kementeriannya adalah akses yang menghubungkan Wamena-Habema-Kenyam-Mamugu. Dia menargetkan ruas jalan dengan panjang mencapai 278,6 kilometer tersebut bisa tersambung pada tahun ini.

Menurut Basuki, tersambungnya jalan itu sangat penting untuk menekan tingkat kemahalan yang dialami masyarakat yang tinggal di pengunungan Wamena, Papua. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan mengunjungi pembangunan ruas jalan itu pada akhir Januari atau awal Februari 2017.

Terkait jalan perbatasan Papua dengan total panjang 1.098,2 kilometer, Basuki mengklaim hingga akhir tahun lalu pengerjaannya sudah mencapai 884,3 kilometer. Sementara tahun ini, akan dibangun 8 kilometer jalan baru. Sehingga pada akhir tahun nanti ditargetkan jalan perbatasan sudah menembus 892,3 kilometer.

Basuki mengklaim pembangunan infrastruktur yang selama ini digencarkan pemerintah memberi dampak positif terhadap peningkatan daya saing Indonesia di kancah global. Data hasil riset "Global Competitiveness Index" 2016, Indonesia berada pada peringkat 64, atau naik dari tahun 2015 di peringkat 72.

"Tidak hanya untuk mendorong perkembangan ekonomi di perkotaan, tetapi membangun infrastruktur di perbatasan juga untuk mengurangi ketimpangan. Pembangunan jalan itu prinsipnya agar bisa lebih cepat, aman, dan murah,” ujarnya.