Pemerintah Kongo Berdialog dengan Pemberontak M23 Usai Berbulan-bulan Konflik

6 April 2025 3:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Anggota milisi M23 di Rangira, Kongo pada 17 Oktober 2012. Foto: Junior D. Kannah / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Anggota milisi M23 di Rangira, Kongo pada 17 Oktober 2012. Foto: Junior D. Kannah / AFP
ADVERTISEMENT
Pemerintah Kongo dan Pemberontak M23 telah berdialog terkait situasi negara mereka, yang dilanda konflik bersenjata selama berbulan-bulan. Dilansir reuters dialog itu dimulai pekan lalu di Doha, Qatar, dan akan dilanjutkan pekan depan di lokasi yang sama.
ADVERTISEMENT
Pembicaraan itu diharapkan bisa menghentikan ofensif dari pemberontak M23, yang telah menguasai sebelah timur Kongo sejak Januari lalu. Serangan-serangan M23 juga sudah menewaskan ribuan orang serta memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi.
Selain itu, konflik berkepanjangan ditakutkan bisa meluas. Sebab negara tetangga Kongo seperti Uganda dan Burundi juga telah menempatkan pasukannya di kawasan yang dikuasai M23.
Kendaraan terbengkalai milik Angkatan Bersenjata Republik Demokratik Kongo (FARDC) terlihat di jalan yang sebagian kosong di Goma, Kongo, Sabtu (1/2/2025). Foto: Alexis Huguet / AFP
Sebetulnya, secara resmi pemerintah Kongo dan pemberontak M23 akan berdialog pada 9 April nanti. Tapi, sumber reuters mendapat informasi, sebuah pertemuan tertutup sudah dilakukan pekan lalu.
Baik pemberontak M23 atau pemerintah Kongo belum mengkonfirmasi berita tersebut.
M23 sebetulnya berjanji akan mundur dari kawasan Walikale akhir bulan lalu. Tapi, langkah ini batal terlaksana karena mereka menuding Angkatan Bersenjata Kongo tak memenuhi komitmen, yakni menarik mundur drone serang mereka.
ADVERTISEMENT
Tapi, perlahan M23 mundur juga. Hal itu dikonfirmasi reporter reuters di lapangan, yang melihat penarikan mundur para pemberontak.
Sementara itu, PBB dan Negara negara Barat menyebut, Rwanda telah mempersenjatai dan menyuplai tentara M23 yang dipimpin etnis Tutsi ini.
Rwanda sendiri membantah tudingan ini dan menyebut militer mereka hanya mempertahankan diri dari ancaman militer Kongo, dan pemberontak yang terlibat dalam pembantaian tahun 1994.