Pemerintah Siapkan Pulau Galang untuk Observasi WNI dari Negara yang Lockdown

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Achmad Yurianto, Sekretaris Ditjen P2P Kementerian Kesehatan. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Achmad Yurianto, Sekretaris Ditjen P2P Kementerian Kesehatan. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Jubu Bicara penanganan virus corona sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, menyebut Pulau Galang di Kepulauan Riau tak hanya dipersiapkan untuk membangun rumah sakit khusus menangani pasien corona.

Achmad menjelaskan pulau itu juga disiapkan sebagai lokasi evakuasi bagi WNI apabila sejumlah negara menutup akses keluar masuk atau lockdown. Namun, pemerintah masih mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Pemerintah akan dilihat kembali untuk kemudian ditata ulang bukan untuk RS saja, tetapi kita harus antisipasi manakala nanti beberapa negara melakukan lockdown maka kita harus menjemput. Kita harus mencarikan tempat untuk kemudian menampung mereka," kata Yuri di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).

Pekerja mengatur tempat tidur di Stadion Hongshan yang diubah menjadi rumah sakit sementara di Wuhan, Hubei, China. Foto: China Daily/ via REUTERS

"Ini skenarionya artinya belum terjadi. Kita baru mulai milih-milih tempat kalau seandainya di beberapa negara melakukan lockdown. Kita berharap tidak ada lockdown karena kita tahu WNI kita yang masih ada di daerah-daerah yang berpotensi untuk bisa menjadi lebih buruk," lanjut dia.

Sebagai contoh, ia menjelaskan jumlah WNI di Korea Selatan berjumlah 5 ribu orang. Sehingga ia kembali menegaskan Pulau Galang juga akan disiapkan sebagai lokasi evakuasi.

"Jadi bukan ke Galang untuk buat RS corona seperti bayangan kita pada waktu China bangun RS di Wuhan, bukan seperti itu. Jadi kita jangan bayangkan seperti itu. Kita tidak akan buat seperti itu," tegasnya.

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung memindahkan pasien kelompok pertama yang terkena virus corona ke Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Hubei, China. Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP

Apalagi, kata dia, sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, Iran, dan Italia menjadi pusat baru penyebaran virus corona. Penyebarannya pun tergolong cepat dan ada banyak kasus lolos saat melewati pemeriksaan di negara yang dituju, tapi kemudian malah dinyatakan positif.

"Nah yang menjadi permasalahan sebenarnya kecepatan nyebar karena terakhir kemarin saya lihat lagi datanya ada 20 negara baru yang melaporkan. Baru melaporkan dia ada kasus di negara itu ada 20 negara baru," ucapnya.

"Artinya kita tahu ini nyebarnya cepat sekali mana kala semua negara memperketat pintu masuknya, tapi kok banyak sekali yang lolos ini disebabkan karena adanya perubahan pada penyebaran penyakitnya. Satu inkubasinya ternyata tidak cukup hanya 1x14 hari," pungkasnya.