Pemilik dan Pelanggan Warkop Protes Wi-Fi Dilarang di Aceh

Fahriati, pemilik salah satu warung kopi yang menyediakan fasilitas Wi-Fi di Desa Curee Baroh, Bireuen, Aceh, tak setuju dengan aturan yang dikeluarkan perangkat desanya. Menurut dia, aturan itu tidak adil dan mematikan usahanya.
“Saya tidak setuju dengan pemutusan atau nonaktif jaringan Wi-Fi di warung warung ini," kata Fahriati, saat ditemui kumparan, Kamis (29/11). "Karena menurut saya tidak berpengaruh Wi-Fi dengan kerusakan (moral) anak anak-anak di sini.”.
Fahriati berpendapat, jika fasilitas Wi-Fi di warkopnya dinilai telah merusak anak-anak, anggapan itu salah. Musababnya, dia mengaku belum pernah menemukan adanya pelanggan warkop di bawah umur yang menyalahgunakan penyediaan internet. Seperti, membuka situs porno dan hal-hal negatif lainnya.
“Kalau dibilang Wi-Fi itu merusak anak anak, bagi saya itu belum bisa memberi tanggapan yang tepat," ujar dia. "Karena bisa saja anak-anak membeli kartu paket internet di tempat lain untuk bermain internet, tidak harus dengan jaringan Wi-Fi di warkop.”

Dikatakan Fahriati, selama ini fasilitas internet yang disediakan di warkopnya juga sering dipergunakan oleh guru dan mahasiswa desa itu. Menurut dia, jika memang alasannya adalah untuk mencegah anak-anak berbuat mudarat, aturan larangan Wi-Fi itu salah langkah.
“Karena Wi-Fi itu sangat diperlukan untuk kebutuhan guru atau mahasiswa mencari bahan kuliah dan yang bermanfaat lainnya,” ujar Fahriati.
Sementara itu, salah seorang warga, Salmiah, tak ingin berkomentar banyak tentang larangan yang dikeluarkan perangkat desanya. Dia mengatakan selama ini sangat diuntungkan dengan keberadaan jaringan Wi-Fi di setiap warkop di desanya.
Salmiah yang berprofesi sebagai seorang guru hampir setiap hari menggunakan Wi-Fi di salah satu warkop langganannya.
Tujuannya adalah mencari bahan pengajaran untuk anak didiknya. “Saya tidak berani bilang Wi-Fi harus dicabut, kalau memang untuk kebaikan seperti orangtuanya, seperti kami inikan butuh jaringan Wi-Fi untuk mencari bahan kerja. Ini sangat bermanfaat kalau ada Wi-Fi di kampung,” ujar dia.
Desa Curee Baroh merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Desa itu dihuni 900 jiwa. Sebagian besar penduduknya nelayan dan petani. Desa itu juga memiliki sejumlah pondok pesantren. Secara umum, sarana perekonomian Desa Curee Baroh cukup memadai. Jumlah warkop di desa itu ada enam.
