Pemilu Brasil: Lula da Silva dan Putra Bolsonaro Berebut Tiket Putaran Kedua

Pemungutan suara putaran pertama pemilihan Presiden Brasil ditutup pada Minggu (5/10). Sebanyak 13 kandidat bersaing dalam pemilu yang diwarnai isu korupsi, tekanan ekonomi, serta dugaan campur tangan pihak asing.
Dua kandidat utama menjadi sorotan yakni Presiden petahana dari kubu kiri Luiz Inacio Lula da Silva, 80 tahun, dan Senator Flavio Bolsonaro, 45 tahun, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro.
Lula membidik masa jabatan keempat. Sementara Flavio berupaya membawa kembali gerakan politik sayap kanan yang dibangun ayahnya ke tampuk kekuasaan.
Kemenangan Flavio akan memperpanjang tren kemenangan kandidat sayap kanan yang sejalan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sejumlah negara Amerika Latin.
Sebaliknya, kemenangan Lula berpotensi kembali memanaskan hubungan Brasil dengan Washington setelah kedua pemerintahan berselisih mengenai perdagangan dan keamanan.
Tempat pemungutan suara di seluruh negara bagian Brasil ditutup pukul 17.00 waktu Brasilia atau 20.00 GMT. Pemilih yang sudah mengantre sebelum batas waktu tetap diperbolehkan memberikan suara.
Hasil pemungutan suara diperkirakan diumumkan tidak lama setelah TPS ditutup. Jika tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara sah, dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak akan kembali bertarung pada putaran kedua pada 25 Oktober.
Jajak pendapat menunjukkan Lula dan Flavio bersaing ketat jika harus berhadapan pada putaran kedua.
Pemilih Belum Menentukan Pilihan
Survei hingga Sabtu menunjukkan Lula berpeluang memimpin pada putaran pertama, tetapi diperkirakan belum mampu mengamankan kemenangan langsung sehingga harus menghadapi putaran kedua.
Flavio tetap optimistis dapat memenangkan pemilu dalam satu putaran. Ia mengatakan dirinya mengandalkan suara pemilih yang tidak menginginkan Lula kembali berkuasa.
"Saya berharap itu cukup untuk mengamankan kemenangan pada putaran pertama," ujar Flavio dikutip dari Reuters, Senin (5/10).
Thaise Lima, pengacara berusia 41 tahun yang sedang menuju tempat pemungutan suara di Sao Paulo, mengatakan tujuan utamanya adalah mengeluarkan Partai Pekerja pimpinan Lula dari pemerintahan.
"Menurut saya Flavio bukan kandidat terbaik, tapi saya mungkin memutuskan untuk memilihnya dalam beberapa menit ke depan," ujarnya.
Lima mengatakan dirinya berharap psikiater sekaligus penulis Augusto Cury dapat menjadi kandidat yang lebih layak diperhitungkan.
Sementara Fernando Tempel, konsultan manajemen berusia 49 tahun, mengatakan akan memilih Flavio meski sebelumnya berencana memberikan suara kepada Romeu Zema, mantan gubernur negara bagian Minas Gerais.
Isu Campur Tangan Asing
Isu keterlibatan pihak asing turut mewarnai persaingan menuju pemilu. Sekutu Lula memperingatkan kemungkinan pemerintahan Trump menolak mengakui hasil pemilu jika Lula kembali menang.
Kekhawatiran itu antara lain dikaitkan dengan upaya yang batal untuk mengirim pejabat Amerika Serikat ke Brasil.
"Yang dipertaruhkan adalah masa depan Brasil," kata Lula setelah memberikan suara di Sao Bernardo do Campo, negara bagian Sao Paulo.
Trump belum secara resmi menyatakan dukungan kepada kandidat mana pun. Namun, dia pernah menerima kunjungan Flavio Bolsonaro di Gedung Putih dan memberikan pujian secara terbuka kepada senator tersebut.
Cristiano, dokter berusia 34 tahun di Brasilia, memilih Lula. Ia mengatakan pengaruh asing menjadi salah satu kekhawatirannya dalam pemilu kali ini.
"Saya agak khawatir dengan segala hal yang terjadi belakangan ini, termasuk di tingkat internasional. Saya merasa pemilu ini banyak dipengaruhi pihak luar, lebih besar dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya," katanya.
Pemilih lainnya, Pedro Palacio, 45 tahun, juga memberikan suara untuk Lula. Ia datang ke TPS di Brasilia bersama istrinya, Andreia, kedua putra mereka, serta dua anjing. Keluarga tersebut mengenakan pakaian yang menunjukkan dukungan kepada Lula.
Ketua Pengadilan Pemilu Brasil Kassio Nunes Marques mengatakan proses pemungutan suara hingga Minggu sore berlangsung lancar.
"Tim yang memantau risiko internasional tidak menemukan adanya risiko apa pun," ujarnya dalam konferensi pers.
Reuters melaporkan pada Rabu bahwa pejabat intelijen Brasil telah memberikan informasi kepada delegasi Prancis dan Jerman mengenai dugaan campur tangan Amerika Serikat dan Rusia menjelang pemilu. Pemerintah AS membantah tuduhan tersebut.
Biaya Hidup Jadi Persoalan
Persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan utama bagi Lula. Meski ketimpangan dan pengangguran menurun, pemerintahannya menghadapi keluhan masyarakat mengenai tingginya biaya hidup, beban utang rumah tangga, serta meningkatnya ancaman kejahatan jalanan dan aktivitas geng.
Flavio berusaha memanfaatkan kekhawatiran tersebut untuk menarik pemilih. Sementara Lula memperluas program kesejahteraan dan mengusulkan keringanan utang baru bagi keluarga.
Lula juga mengambil langkah untuk melarang perjudian daring ketika persaingan menuju pemilu semakin ketat.
Di sisi lain, kondisi fiskal menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan berikutnya. Belanja dan utang publik Brasil telah melampaui 82 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Brasil untuk tahun ini dan tahun depan menjadi masing-masing 2,0 persen dan 2,3 persen.
Marciano de Souza e Silva, pegawai negeri berusia 52 tahun di Brasilia, mengatakan ingin melihat ekonomi Brasil kembali tumbuh. Ia sebelumnya merupakan pemilih Lula, tetapi kemudian beralih ke kubu kanan dengan memilih Jair Bolsonaro pada 2018 dan 2022. Pada pemilu kali ini, ia memilih Flavio.
"Saya memilih agar Brasil mulai tumbuh kembali," ujarnya.
"Program sosial terbaik adalah program yang mendorong masyarakat untuk merintis usaha dan benar-benar menghasilkan kekayaan nyata," lanjutnya.
Skandal Banco Master Seret Elite Politik
Isu korupsi juga menjadi bagian penting dalam kampanye. Salah satu kasus yang mencuat berkaitan dengan Banco Master, bank yang kini telah berhenti beroperasi.
Daniel Vorcaro, sosok yang menjalankan bank tersebut, ditangkap awal tahun ini dan dituduh terlibat dalam skema penipuan bernilai miliaran dolar.
Penyelidikan kemudian menelusuri hubungan Vorcaro dengan sejumlah tokoh politik dan pejabat, termasuk Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes dan Flavio Bolsonaro.
Flavio tengah diselidiki polisi federal terkait dugaan pencucian uang dalam kasus tersebut. Ia membantah melakukan kesalahan, meski mengakui menerima dana jutaan dolar dari Vorcaro untuk membiayai pembuatan film mengenai ayahnya.
Keterkaitan Vorcaro dengan Moraes, yang secara luas dipandang sebagai sekutu Lula, turut menyeret Mahkamah Agung ke dalam polemik menjelang pemilu.
Moraes mengatakan kasus yang diarahkan kepadanya bermotif politik. Ia mengaitkannya dengan perannya dalam menjatuhkan vonis terhadap Jair Bolsonaro.
Selain memilih presiden, warga Brasil pada Minggu juga memilih seluruh 513 anggota majelis rendah dan dua pertiga anggota Senat.
Sejumlah anggota parlemen telah mendesak pemakzulan terhadap Moraes. Posisi Kongres juga semakin kuat dalam politik Brasil sejak pemakzulan mantan Presiden Dilma Rousseff pada 2016.
Rousseff merupakan sekutu Lula. Kondisi tersebut membuat pemilihan anggota legislatif kali ini juga memiliki arti penting dalam menentukan arah politik Brasil setelah pemilu.
