Pemilu Israel Pecahkan Rekor Partisipasi, Netanyahu Hadapi Ujian Politik

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria memberikan suaranya saat pemilihan parlemen Israel, di sebuah TPS di Tel Aviv, Israel Selasa (17/9/2019). Foto: REUTERS/Corinna Kern
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria memberikan suaranya saat pemilihan parlemen Israel, di sebuah TPS di Tel Aviv, Israel Selasa (17/9/2019). Foto: REUTERS/Corinna Kern

Warga Israel berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara pada Selasa (27/10), dalam pemilu yang menjadi penilaian terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama masa perang. Dilansir Reuters, pemilu ini sebagai salah satu yang paling menentukan dalam sejarah Israel.

Antrean panjang terlihat di tempat-tempat pemungutan suara. Ini merupakan pemilu pertama sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel dan memicu perang di Gaza, Lebanon, serta Iran.

Komite Pemilihan Umum Pusat Israel melaporkan tingkat partisipasi mencapai 66,7% pada pukul 18.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi rekor pada waktu yang sama dalam pemilu sebelumnya. Dengan empat jam tersisa sebelum pemungutan suara ditutup, jumlah pemilih bahkan telah melampaui total partisipasi dalam pemilu sebelumnya.

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu memicu perpecahan di dalam negeri dan memperdalam isolasi Israel di dunia internasional. Namun, Netanyahu selalu menampilikan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang memiliki keteguhan untuk menghadapi musuh-musuh Israel.

Netanyahu Hadapi Eisenkot

Netanyahu, yang telah menjabat selama total 19 tahun dan menjadi pemimpin terlama dalam sejarah Israel, dikenal sebagai politikus yang mampu bertahan menghadapi berbagai krisis. Politik nasionalisnya juga semakin mengakar.

Sementara pesaingnya, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot, berupaya mengalahkan Netanyahu dengan dukungan partai-partai kanan dan tengah, serta sisa kekuatan kubu kiri yang semakin terpinggirkan. Jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat sehingga tidak ada kandidat yang dipastikan memiliki jalan mudah menuju kekuasaan.

Para pengamat belum berani memastikan dampak tingginya partisipasi pemilih terhadap hasil pemilu. Peningkatan suara dari warga Israel keturunan Palestina berpotensi membatasi perolehan koalisi sayap kanan Netanyahu. Kondisi ini juga dapat membuat pemerintahan yang berupaya menyingkirkan Netanyahu membutuhkan dukungan partai-partai Arab, sebuah kemungkinan yang masih menjadi perdebatan di kalangan pemimpin partai Yahudi.

Kepala Staf baru Israel, Gadi Eisenkot, menyampaikan pidato dalam upacara pelantikannya di kantor Perdana Menteri di Yerusalem, Senin (16/2/2015). Foto: Menahem Kahana/AFP

Netanyahu mendesak pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara guna mengimbangi tingginya partisipasi lawan-lawannya dari kubu kiri dan warga Arab Israel.

"Kalian semua harus berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara," kata Netanyahu.

"Ini adalah momen yang menentukan," imbuhnya.

Sementara itu, pentingnya pemilu kali ini juga disampaikan pemilih senior, Ruth Epstein.

"Saya pikir pemilu ini adalah yang paling penting dari semua pemilu yang pernah saya ketahui," kata Ruth, pemilih sayap kiri berusia 81 tahun yang telah lama mendukung kubu oposisi.

Ia memberikan suaranya untuk Partai Demokrat di Ramat Gan, dekat Tel Aviv.

Netanyahu juga berkampanye dengan mengandalkan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sekutunya dalam perang melawan Iran. Trump sebelumnya mengatakan Israel harus "menyelesaikan pekerjaan".

Jika Netanyahu maupun Eisenkot gagal membentuk koalisi pemerintahan di parlemen yang memiliki 120 kursi, Netanyahu berpotensi tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemilu berikutnya digelar.

Lawan-lawannya hanya sekali berhasil merebut jabatan perdana menteri darinya sejak 2009. Saat itu, dibutuhkan empat pemilu yang tidak menghasilkan pemenang jelas dalam kurun dua tahun. Delapan belas bulan kemudian, Netanyahu kembali berkuasa.

Eisenkot Janjikan Semangat Baru

Bagi banyak penentang Netanyahu, pemilu ini berkaitan dengan pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023. Kelompok oposisi berjanji membentuk komisi penyelidikan nasional, sebuah langkah yang selama ini ditentang Netanyahu.

"Saya yakin pada akhir hari ini, kita akan melihat perubahan, semangat baru bagi Negara Israel, yang akan memperbaiki keadaan selama tiga tahun terakhir dan memperbaiki apa yang terjadi pada hari yang mengerikan itu," kata Eisenkot saat mengunjungi Kibbutz Nir Oz di Israel selatan, salah satu wilayah yang diserang pada 7 Oktober 2023.

Seorang pria berjalan melewati mural yang menggambarkan pemimpin Palestina Marwan Barghouti, dengan pesan berbahasa Arab bertuliskan, "Sampai jumpa," di tembok pemisah Israel di kota Betlehem, Tepi Barat (20/8/2025). Foto: Mahmoud Illean/AP Photo

Eisenkot berjalan menuju tempat pemungutan suara bersama Gadi Mozes, salah satu dari 251 orang yang diculik Hamas dan dibawa ke Gaza dalam serangan tersebut. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang.

Eisenkot menilai respons Israel terhadap serangan tersebut gagal karena Hamas masih berkuasa. Perang yang dilancarkan Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Ia kembali berjanji akan membongkar atau menghancurkan kekuatan militer dan administrasi Hamas di Gaza dalam waktu 18 bulan setelah membentuk pemerintahan.

Sementara itu, Itamar Ben-Gvir, pemimpin partai ekstrem kanan yang menjadi bagian dari koalisi Netanyahu, memberikan suara di permukiman Kiryat Arba di Tepi Barat yang diduduki Israel. Ia memperkirakan Netanyahu akan kembali menjadi perdana menteri dan partainya akan menjadi penopang utama kubu kanan dalam pemerintahan.

Partisipasi Pemilih Arab Bisa Menentukan

Ahmed Tibi, kandidat dari partai Arab, mengatakan rekor partisipasi warga minoritas Arab Israel dapat membuka jalan bagi pemerintahan alternatif.

"Hal ini akan membuka jalan bagi pemerintahan alternatif dan perubahan atas kenyataan buruk yang terjadi," kata Tibi.

Eisenkot sebelumnya menolak kemungkinan bekerja sama dengan partai-partai Arab. Namun, dalam skenario tertentu, ia dapat mengandalkan dukungan mereka untuk menopang pemerintahan minoritas yang bertujuan mencegah Netanyahu kembali berkuasa.

Netanyahu berulang kali menggambarkan warga Arab Israel, yang mencakup sekitar seperlima populasi negara tersebut, sebagai ancaman. Para penentangnya menilai pernyataan itu mengarah pada rasisme.

Warga Israel berunjuk rasa menuntut pembentukan komisi penyelidikan negara independen atas serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 dan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya, menjelang pemilihan parlemen Israel di Tel Aviv, Sabtu (24/10). Foto: Ammar Awad/REUTERS

Pada Selasa, Netanyahu mengunggah gambar di platform X yang memperlihatkan antrean perempuan Arab, sebagian mengenakan niqab atau menunjukkan ekspresi marah, yang diklaim berada di tempat pemungutan suara. Menurut situs verifikasi OpenAI, gambar tersebut dibuat menggunakan perangkat kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan itu.

Di jalan-jalan Yerusalem, mobil-mobil yang membawa bendera Partai Likud pimpinan Netanyahu berkeliling sambil menyalakan pengeras suara yang memutar azan dan menyerukan: "Keluarlah dari rumah kalian sekarang! Orang Arab sedang memberikan suara!"

Seperti hampir semua pemimpin partai Yahudi di Israel, Eisenkot menentang solusi dua negara yang selama puluhan tahun menjadi landasan perundingan perdamaian Israel-Palestina.

Namun, ia mengkritik kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel. Kekerasan tersebut meningkat sejak 2023 dan memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Barat.

Eisenkot juga menentang mitra koalisi Netanyahu dari kelompok ekstrem kanan.