Pemilu Prancis: Macron dan Le Pen Saling Tunjuk Taring untuk 'Ronde Kedua'

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Prancis di depan poster Macron dan Le Pen Foto: REUTERS/Ronen Zvulun
zoom-in-whitePerbesar
Warga Prancis di depan poster Macron dan Le Pen Foto: REUTERS/Ronen Zvulun

Menjelang ronde kedua pemilu presiden, pertaruhan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan oposisinya Marine Le Pen semakin memanas. Pada Senin (11/4), kedua pejabat tersebut tak sungkan-sungkan menunjukkan taring mereka untuk menjatuhkan satu sama lain.

Pemungutan suara putaran pertama pada Minggu (10/4) menunjukkan, Macron berhasil unggul dengan suara sebesar 27.85 persen. Sementara itu, politisi sayap kanan Marine Le Pen berada di urutan kedua dengan 23.15 persen. Mereka akan maju ke putaran kedua alias 'ronde' kedua yang dijadwalkan pada 24 April mendatang.

Meresmikan awal fase kampanye berikutnya, Macron mengambil strategi agresif untuk melawan Le Pen. Ia mengunjungi daerah bekas pertambangan dan pembuatan baja di wilayah utara yang telah menjadi 'benteng' Le Pen.

Petugas mengosongkan kotak suara untuk menghitung surat suara putaran pertama pemilihan presiden Prancis 2022 di Lavault-Sainte-Anne, Prancis. Foto: Stephane Mahe/REUTERS

"Saya tidak akan berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi. Saya telah mendengar suara dari mereka yang telah memilih orang-orang ekstrem, termasuk mereka yang memilih Le Pen," kata Macron kepada sejumlah wartawan di Denain, demikian dilansir AFP.

"Saya menyadari bahwa masyarakat akan memilih saya hanya untuk menghentikan Le Pen, tapi saya juga ingin meyakinkan mereka. Ini supaya saya bisa menyelesaikan proyek saya [terkait kesejahteraan sosial]," lanjut dia.

Kampanye tahun ini bukan duel perdana antara Macron dan Le Pen. Pada pemilu 2017, mereka berdua pun sudah pernah bertarung untuk memenangkan singgasana kepresidenan. Saat itu, Macron menang telak dengan 66 persen suara.

Namun, survei terakhir memprediksi bahwa persaingan tahun ini akan lebih panas. Bila Macron menang, ia hanya akan mendapati sedikit selisih dengan Le Pen. Fakta inilah yang mendorong kedua kandidat untuk melaju lebih agresif.

Macron dan Le Pen Foto: REUTERS/Christian Hartmann

Selain menyebut Le Pen 'ekstrem', Macron juga menuduh nasionalis tersebut sebagai 'demagog', alias pejabat tanpa pendirian yang hanya mengatakan hal-hal yang ingin didengar masyarakat.

Sedangkan Le Pen mengambil strategi untuk menjatuhkan Macron dengan tuduhan bahwa presiden petahana tersebut bersikap pasif dalam membantu rakyat menghadapi peningkatan biaya hidup.

Pada Senin (11/4), ia juga mengunjungi seorang petani sereal di wilayah yang mendukungnya pada ronde pertama, yakni Yonne. Le Pen kemudian menjelaskan, ia akan memangkas pajak pangan dan bahan bakar.

"Mengantisipasi peristiwa adalah hal yang penting. Saat ini, kami sedang berimprovisasi," ujar Le Pen.

Le Pen juga membantah desas-desus bahwa ia akan mengeluarkan Prancis dari Uni Eropa. Sebaliknya, Le Pen mengatakan ia akan merombak struktur aliansi tersebut.

Seorang pria memberikan suaranya pada putaran pertama pemilihan presiden Prancis 2022 di tempat pemungutan suara di La Villetelle, Prancis. Foto: Stephane Mahe/REUTERS

Walaupun Le Pen dituduh rasis oleh Macron, wanita berumur 53 tahun tersebut telah berupaya memproyeksikan citra yang lebih moderat dalam kampanye ini. Kini, Le Pen berfokus kepada masalah keseharian masyarakat yang diakibatkan inflasi.

Jajak pendapat yang memprediksi hasil pemungutan suara putaran kedua menyatakan bahwa Macron akan meraih sekitar 53 persen suara. Di sisi lain, 47 persen masyarakat diperkirakan akan memilih Le Pen.

Menurut ilmuwan politik, Brice Teinturier, pertarungan tahun ini akan berbeda dari tahun 2017. Tak seperti 5 tahun yang lalu, Macron bukan lagi seorang pejabat yang mewakili ide-ide 'segar'. Pun jumlah suporter Le Pen jauh lebih banyak dibanding dulu.

Selama debat yang akan disiarkan di televisi Rabu pada 20 April, Macron diperkirakan akan menargetkan dukungan Le Pen terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin di masa lalu. Isu ini tentunya akan eksplosif karena konflik yang terjadi di Ukraina.

"Marine Le Pen adalah kandidat yang akan membuat kita bergantung kepada Rusia," kata Macron.