Pemilu Rusia Bakal Digelar 17 Maret 2024, Putin Nyalon Lagi?
·waktu baca 3 menit

Majelis Tinggi Rusia (Dewan Federasi) pada Kamis (7/12) menggelar pemungutan suara di parlemen untuk menetapkan kapan pelaksanaan pemilihan presiden.
Dengan perolehan suara bulat sebanyak 162 di Dewan Federasi, maka pemerintah Rusia sepakat melaksanakan pemilu pada 17 Maret 2024 mendatang.
"Dengan keputusan ini, kami secara efektif meluncurkan dimulainya kampanye pemilu," ujar Ketua Dewan Federasi Rusia, Valentina Matviyenko, seperti dikutip dari Reuters.
Sekutu dekat Putin itu menambahkan, dalam pemilu 2024 nantinya para penduduk di empat provinsi Ukraina yang dicaplok Rusia tahun lalu — Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson, akan ikut serta dalam pemungutan suara.
"Pemilihan ini akan menjadi semacam puncak penyatuan kembali untuk wilayah-wilayah tersebut," kata Matviyenko.
"Dengan memilih kepala negara bersama-sama, kita sepenuhnya berbagi tanggung jawab bersama dan takdir bersama tanah air kita," tutup dia.
Putin — yang telah berkuasa di Negeri Beruang Merah sejak 1999 sebagai perdana menteri maupun presiden, hingga saat ini belum secara resmi mengumumkan apakah akan kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keenamnya.
Meski begitu, beberapa waktu lalu juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengutarakan harapan untuk Putin kembali berpartisipasi dalam pemilu.
"Putin belum mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri, tetapi saya sangat yakin bahwa ia akan mewujudkan hal itu, dan saya yakin ia akan memenangkan pemilu. Saya yakin dia akan terus menjadi presiden," kata Peskov pada Jumat (7/11).
Tak Ada Saingan Sepadan
Laporan Reuters pada 7 November lalu mengungkapkan bahwa Putin akan kembali mencalonkan diri dalam pemilu Rusia pada Maret 2024.
Mengutip enam sumber anonim di Kremlin yang mengetahui perihal pencalonan ini, Putin akan melanjutkan kepemimpinannya karena dia merasa harus mengarahkan Rusia di tengah banyaknya tantangan dari internal dan eksternal saat ini.
Periode seperti saat ini — operasi militer khusus yang masih berlanjut di Ukraina, ekspansi NATO di Eropa Timur, kembalinya era Perang Dingin ke geopolitik dunia, dan pemberontakan Wagner Group pada Juni 2023 telah menempatkan Rusia di posisi berbahaya.
Keputusan telah dibuat — dia [Putin] akan mencalonkan diri," kata salah satu sumber Kremlin.
Sementara itu, sumber lain yang juga mengetahui pemikiran Kremlin, mengkonfirmasi bahwa keputusan sudah dibuat meski sampai saat ini belum diumumkan secara resmi. Para penasihat Putin, kata sumber-sumber itu, sedang mempersiapkan kampanye menuju Pemilu 2024.
Putin yang berusia 71 tahun ini telah mencetak rekor sebagai pemimpin terlama di Rusia sejak Uni Soviet kolaps — bahkan melebihi masa jabatan eks Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet Leonid Brezhnev, yang memimpin selama 18 tahun.
Menurut para diplomat dan pengamat, situasi itu terjadi gara-gara tidak ada saingan serius atau sepadan yang dapat mengancam Putin di panggung pencalonan presiden.
Eks perwira intelijen KGB itu memiliki popularitas sangat tinggi di kalangan masyarakat Rusia dan hampir tidak dapat penentangan dari masyarakat luas terhadap kelanjutan kekuasaannya.
Jika kembali terpilih, maka Putin akan kembali memerintah Rusia setidaknya hingga 2030.
