Pemkab Mentawai Tetapkan Status Tanggap Darurat Selama 21 Hari Usai Gempa

Pemkab Kepulauan Mentawai menetapkan status tanggap darurat selama 21 hari usai rentetan gempa terjadi di wilayah tersebut, Senin (29/8). Penetapan status tanggap darurat telah dimulai sejak Selasa (30/8/) kemarin.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi mengatakan, selama masa tanggap darurat usai gempa, akan difokuskan pendistribusian logistik kepada warga. Sayangnya, cuaca yang tidak mendukung menjadi kendala karena akses antardesa hanya mengunakan jalur laut.
"Pertama, pemenuhan kebutuhan pokok terhadap masyarakat yang ada di pengungsian. Kondisi di lapangan stok pangan mulai menipis," ujar Novriadi saat dihubungi kumparan, Rabu (31/8/2022).
Selanjutnya, kata Novriadi, asesmen terhadap dampak kerusakan usai gempa juga menjadi fokus selama tanggap darurat.
"Ini membutuhkan waktu. Apalagi karena cuaca kurang bagus karena ombak besar dan badai di perairan utara dan barat," jelasnya.
"Maka kami (juga) tidak bisa mendistribusikan logistik secara cepat. Rencana besok mendistribusikan logistik pakai kapal," sambung Novriadi.
Memasuki hari ketiga usai gempa, pendistribusian logistik bantuan yang telah dilakukan di antaranya di Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat. Di kawasan ini terdapat tujuh dusun.
Kemudian di Desa Simatalu, Kecamatan Pulau Siberut. Pendistribusian logistik bantuan telah disebarkan ke tiga dusun yang ada.
Warga Mentawai Masih Mengungsi
Novriadi mengungkapkan, hingga tadi malam warga masih tetap bertahan di pengungsian yang berada di perbukitan. Warga bertahan lantaran masih trauma jika terjadi gempa susulan.
"Kondisi tadi malam masih di pengungsian. Warga masih cemas, apalagi sore kemarin masih ada guncangan gempa," ucapnya.
Guncangan gempa cukup kuat dirasakan warga, terutama di Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat. Sebanyak 494 keluarga mengungsi dengan total 2.326 jiwa.
Menurut Kepala Desa Simalegi, Jaret, warga yang bertahan di pengungsian mayoritas kaum ibu-ibu dan anak-anak. Untuk para laki-laki siang harinya sempat meninggalkan pengungsian untuk beraktivitas atau bekerja.
Namun, lanjutnya, pada sore hari, para laki-laki akan kembali ke pengungsian. "Kalau ibu-ibu bersama anak-anak tidak turun sama sekali," ungkapnya.
Jaret mengatakan, warga memang telah mendapat informasi untuk dimintai turun dari lokasi pengungsian dan kembali ke rumah. Namun warga masih trauma dan takut terjadi gempa susulan.
