Pemkot Surabaya Respons Kasus Bocah Down Syndrome Meninggal Diduga Dibully

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bocah penderita down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya, berinisial Z (10) meninggal dunia diduga dibully oleh 2 anak tetangganya. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Bocah penderita down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya, berinisial Z (10) meninggal dunia diduga dibully oleh 2 anak tetangganya. Foto: Dok. Istimewa

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya merespons terkait kasus Z, bocah 10 tahun asal Kecamatan Rungkut, Surabaya, yang meninggal dunia diduga dibully oleh dua anak tetangganya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, Ida Widayati, mengatakan bahwa dua pelaku saat ini telah dikembalikan kepada orang tua masing-masing uaai menjalani pembinaan.

"Karena masih anak-anak jadi masih dikembalikan dalam pengawasan orang tua," kata Ida kepada kumparan, Sabtu (17/10).

Ida menyampaikan bahwa pihaknya juga telah melakukan pendampingan terhadap para orang tua baik pelaku maupun korban terkait kasus tersebut.

"Akan tetapi kami sudah melakukan pendampingan baik keluarga korban (ortu) dan anak-anak pelaku. Proses hukum di Polrestabes juga sudah berjalan," ucapnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-P2KB) Kota Surabaya, Ida Widayati, Kamis (9/4/2026). Foto: Muthia Firdaus/kumparan

Saat ditanya terkait upaya pencegahan bullying anak, Ida mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya telah membuat sejumlah program di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

"Kami sudah melakukan upaya-upaya pencegahan baik di lingkungan masyarakat melalui puspaga (pusat pembelajaran keluarga) maupun ke sekolah melalui kegiatan dinamika sekolah arek Suroboyo," ungkapnya.

Sebelumnya, Z meninggal dunia diduga menjadi korban bully yang dilakukan oleh dua anak di rumahnya pada 12 September 2026 lalu.

Ayah korban, SAW (53), mengatakan peristiwa ini bermula saat anaknya menggunakan kursi roda berada di teras rumah pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB.

SAW ketika itu mengaku ketiduran usai minum obat seusai operasi ginjal. Sedangkan, istrinya berinisial NF pergi ke pasar untuk berjualan sari kedelai.

Ketika istrinya baru pulang dari pasar sekitar pukul 09.00 WIB, terkejut mendapati korban telah tergeletak di teras rumah dengan wajah membiru serta ada tali sepatu di lehernya dan besi. Di mulut korban juga terdapat bercak sabun colek.

"Anak saya itu ketemu istri saya itu posisi terjungkal sujud gitu. Jidatnya ada benjolannya, bekas kayak tersungkur nya itu. Jadi jatuh dari kursi roda, istri saya teriak-teriak, 'Bi, anaknya biru, anaknya biru.' Jadi saya langsung kaget terjaga dari tempat tidur, langsung saya buka pintu, saya keluar, ternyata anak saya ada jeritan," ujar SAW kepada kumparan, Jumat (16/10).

"Pertama dipangku sama istri saya, istri saya enggak ngerti kalau di lehernya itu ada jeritannya, istri saya cuma bisa menangis, teriak-teriak. Habis gitu saya ganti saya pangku anak saya, saya kendorkan jeritannya. Lehernya dijerat tali sepatu, mulutnya dijejali sabun colek, dan tubuhnya ditaburi daun lamtoro. Hasil otopsi di Polda juga mengonfirmasi adanya cairan sabun colek di dalam lambung anak saya," lanjutnya.

Saat itu, sontak SAW langsung membawa korban ke rumah. Sesampainya di rumah sakit, ternyata nyawa anaknya sudah tak tertolong.

"Saya minta tolong sama orang-orang, semua cuma terpaku. Habis gitu ada orang perempuan lewat, saya mintai tolong, 'Tolong antarkan ke rumah sakit' rumah sakit terdekat dari rumah saya. Ya mungkin sekitar 15 menit nyampe rumah sakit sekitar jam 09.45 WIB. Habis gitu di rumah sakit dinyatakan meninggal," ucapnya.

Setelah itu, SAW mengecek rekaman CCTV ysng ada di sekitar rumahnya. Berdasarkan rekaman tersebut, terlihat dua anak masuk ke dalam rumahnya secara bergantian sekitar pukul 08.15 WIB. Korban yang memiliki keterbatasan fisik dan hanya bisa berada di atas kursi roda diduga dianiaya secara kejam.

"Anak saya itu down syndrome, jantung bocor, lumpuh (cerebral palsy), dan katarak. Tidak bisa jalan, tidak bisa bicara, dan tidak bisa melihat. Jadi saat kejadian, dia tidak bisa berteriak atau melawan," katanya.

"Mereka (terduga pelaku) anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah," tambah dia.

SAW pun menduga anaknya di-bully oleh kedua anak tersebut. Sebab, seminggu sebelumnya, keduanya diduga sempat mengalungkan tali tampar di pundak anaknya.

"Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, pengelihatannya juga tidak jelas," kata dia.

Saat ini, kasus tersebut dalam proses penyidikan oleh Polrestabes Surabaya.