Pemprov DKI Kolaborasi Pemerintah Pusat, Sediakan Wadah Pantau Corona Jakarta

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aplikasi JAKI. Foto: JAKI
zoom-in-whitePerbesar
Aplikasi JAKI. Foto: JAKI

Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan sejumlah startup dalam menyediakan seluruh informasi terkait corona di Jakarta. Kolaborasi ini diwujudkan dalam fitur Jejaki pada super aplikasi Jakarta Kini (JAKI)

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik DKI Jakarta Atika Nur Rahmania menjelaskan, fitur Jejaki, berperan sebagai integrator yang mengintegrasikan layanan serta aplikasi pencegahan COVID-19 dari Pemerintah Pusat.

"Warga Jakarta, baik yang menetap maupun sekadar beraktivitas, tidak perlu lagi mengakses bermacam-macam situs berbeda untuk menemukan data atau informasi berkaitan wabah corona," kata Atika, Selasa (17/11).

Secara keseluruhan, kata dia, Jejaki memiliki empat fitur utama. Sebagian besar merupakan hasil kolaborasi Pemprov DKI dengan Pemerintah Pusat dan inovator-inovator lainnya, seperti Contact Tracing, Zonasi, Checkpoint Monitoring, dan tes mandiri JakCLM.

Screenshoot aplikasi Jakarta Kini (JAKI). Foto: Dok. Jakarta Kini (JAKI)

Contact Tracing

Untuk fitur contact tracing, Pemprov DKI berkolaborasi dengan PeduliLindungi milik Kementerian Komunikasi dan Informatika. Cara kerjanya yakni PeduliLindungi akan menggunakan data yang diproduksi oleh gadget pengguna JAKI dengan bluetooth aktif untuk merekam informasi yang dibutuhkan.

"Ketika ada gadget lain dalam radius bluetooth yang juga terdaftar di PeduliLindungi, maka akan terjadi pertukaran id anonim yang akan direkam oleh gadget masing-masing," terangnya.

"PeduliLindungi selanjutnya akan mengidentifikasi orang-orang yang

pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif COVID-19 atau PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan)," tambahnya.

Screenshoot aplikasi Jakarta Kini (JAKI). Foto: Dok. Jakarta Kini (JAKI)

Zonasi

Dalam Jejaki, Pemprov DKI bersama PeduliLindungi juga menyediakan informasi terkait zona risiko tinggi di Jakarta. Zona risiko ini dipetakan hingga level kelurahan.

Status zona kemudian dibagi menjadi tiga, yaitu zona risiko tinggi berwarna merah, zona risiko sedang berwarna kuning, dan zona risiko rendah yang dilambangkan dengan warna hijau. Pemberian status tersebut akan ditentukan berdasarkan jumlah kasus corona yang tercatat untuk area kelurahan pengguna berada.

Selain notifikasi status zona, fitur zonasi juga akan menginformasikan terkait jumlah pasien positif terkonfirmasi, jumlah suspek, jumlah kontak erat jumlah pasien sembuh, dan jumlah pasien meninggal dunia.

"Untuk mendapatkan angka infeksi pada suatu daerah, aplikasi PeduliLindungi memanfaatkan data kasus per kelurahan yang berasal dari Open Data COVID-19 milik Pemprov DKI," kata dia.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi, pengguna bisa mengatur sendiri radius atau jangkauan. Fitur zonasi bekerja dengan memanfaatkan pendeteksian lokasi dari fitur GPS pada smartphone.

Checkpoint Monitoring

Fitur checkpoint ini memberikan informasi terkait kapasitas dan arus orang di dalam gedung, perkantoran hingga mal. Dalam fitur ini Pemprov menggandeng Jejak dan IDQ.

"Dengan menggunakan Jejaki, warga juga bisa ikut serta dalam mencegah klaster penyebaran baru di suatu gedung atau tempat umum, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan," ujar Atika.

Dalam memantau arus orang di dalam gedung, teknologi yang digunakan yakni pemindaian QR Code untuk memantau arus keluar-masuk pengunjung gedung.

Fitur ini juga merupakan bagian dari upaya monitoring terhadap aturan kapasitas maksimal gedung selama pemberlakuan PSBB transisi.

Tampilan laman Corona Likelihood Metric (CLM) di aplikasi JAKI. Foto: Dok. Istimewa

Mandiri JakCLM

Pemprov DKI juga menyediakan pemantauan kondisi pribadi tiap warganya melalui fitur JakCLM yang menggandeng Harvard CLM Team. Fitur ini melanjutkan program Corona Likelihood Metric yang digagas bersama dengan tim Harvard CLM Team.

"Warga bisa melakukan tes ini untuk mengukur seberapa besar risiko mereka terpapar COVID-19," tuturnya.

Hasil pemeriksaan didukung dengan teknologi Machine Learning dan ditentukan berdasarkan kondisi kesehatan serta riwayat bepergian dan riwayat kontak pengguna.