Pemprov Kalsel soal Banjir Akibat Alih Fungsi Lahan: Masih Kita Dalami

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) berpendapat, banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki korelasi langsung dengan kerusakan alam yang terjadi di sekitar daerah itu.
Sebagian kerusakan tersebut terjadi akibat industri ekstraktif, seperti kebun sawit dan tambang batu bara yang mengurangi daya serap tanah.
Menanggapi hal itu, Penjabat Sekda Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) Roy Rizali Anwar menyebut banjir yang terjadi di daerahnya diyakini karena anomali La Nina. La Nina merupakan fenomena iklim yang meningkatkan curah hujan. "Sampai saat ini, kita duga anomali La Nina," ujar Roy, saat konferensi pers secara virtual di kanal YouTube BNPB, Kamis (21/1). "Terkait alih fungsi (lahan) masih kita dalami, kita libatkan profesional akademisi, kita kaji ya nanti kalau sudah selesai kita sampaikan," lanjut Roy.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga menyatakan penurunan luas hutan alam di Kalsel mencapai 62,8% selama 30 tahun terakhir atau sejak 1990.
"Kalau kita perhatikan dari tahun 1990 sampai 2019 maka penurunan luas hutan alam itu sebesar 62,8%. Yang paling besar itu terjadi antara 1990 sampai 2000 sebesar 55,5%," ujar Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Karliansyah, dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (19/1).
Dari data yang ditunjukkan Karliansyah, tercatat luas hutan alam di Kalsel menyusut sekitar 463.481 hektar dalam kurun waktu 1990-2019. Berikut datanya:
- Tahun 1990: 737.758 hektar.
- Tahun 2000: 328.007 hektar.
- Tahun 2006: 294.338 hektar.
- Tahun 2011: 288.545 hektar
- Tahun 2015: 285.820 hektar.
- Tahun 2019: 274.277 hektar.
Di sisi lain, pembukaan kawasan non-hutan semakin meningkat sejak tahun 1990. Dari 1.025.542 hektar di 1990 menjadi 1.495.497 hektar pada 2019.
Pembukaan lahan untuk perkebunan selama 30 tahun terakhir tersebut mencapai 219,313 hektar. Adapun pembukaan lahan bagi pertambangan kurun 1990-2019 mencapai 29.918 hektar.
Sementara dari total wilayah Kalsel seluas 3.721.884,85 hektar, luas hutan sekitar 24,68% dari idealnya 30%. Adapun luas lahan perkebunan di Kalsel dibandingkan total wilayah mencapai 17,53% atau 652.564 hektar. Pertambangan mencapai 2,88% dari total luas wilayah atau sebesar 107.058 hektar.
Lalu bagaimana luas areal hutan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito yang berguna untuk menampung air?
Karliansyah menjelaskan DAS Barito mencakup 4 provinsi di Kalimantan yakni:
- Kalteng: 4,4 juta hektar.
- Kalsel: 1,8 juta hektar.
- Kaltim: 8 ribu hektar.
- Kalbar: 590 hektar.
Karliansyah menyebut dari 1,8 juta luas DAS Barito di Kalsel, proporsi areal berhutan di sekitarnya hanya 18,2%.
"15% berupa hutan alam dan 3,2% lainnya merupakan hutan tanaman," ucapnya.
Sedangkan sisa areal DAS Barito yang tidak berhutan seluas 81,8% didominasi lahan pertanian kering campur semak 21,4%, sawah 17,8 %, dan perkebunan 13%.
Meski data tersebut menunjukkan luas area hutan alam terus menurun, KLHK menilainya bukanlah penyebab utama banjir besar di Kalsel. Ia menyatakan penyebab utama banjir yakni cuaca ekstrem.
"Penyebab banjir secara umum sekali lagi ini terjadi di alur DAS Barito khusus wilayah Kalsel akibat dari cuaca yang ekstrem," kata Karliansyah.
Dia mengatakan, curah hujan tinggi yang mengguyur Kalsel membuat debit air tak lagi mampu ditampung sungai. Sehingga air meluap ke jalan dan pemukiman warga.
