Penamparan di KRL Wanita Bisa Dicegah dengan Tenggang Rasa

Nurul Kurnia Sari menceritakan pengalaman pahitnya. Dia menjadi korban pemukulan penumpang di KRL Commuter Line. Nurul ditampar oleh penumpang saat kondisi kereta sedang penuh sesak.
Tak hanya ditampar, saat kereta Tanah Abang-Bogor itu berhenti di Stasiun Sudirman, perempuan itu juga menyikut Nurul ketika hendak turun. Selama menjadi penumpang kereta, baru kali ini dia mendapat perlakuan seperti itu. Si ibu itu, rupanya marah saat berhimpit-himpitan di dalam gerbong. Nurul sendiri, bukan menghimpit perempuan itu, tetapi malah melindungi dari himpitan penumpang lain.
kumparan (kumparan.com) pada Selasa (8/8) mengonfirmasi peristiwa ini ke VP Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek, Eva Chairunisa.
"Menanggapi hal tersebut kita imbau pengguna jasa agar dapat bertenggang rasa saat menggunakan jasa transportasi publik, karena tidak hanya ada kita di sana tapi juga ada orang lain. Sehingga kesadaran untuk bertransportasi dengan baik sangat penting, pengguna yang terganggu kenyamanannya karena perilaku penumpang lainnya juga dapat melaporkan petugas agar dapat diselesaikan," jelas Eva.
Jika kondisi kereta penuh pada pagi hari, memang hal yang lazim terjadi mengingat karakter dari commuter mereka beraktivitas pada satu waktu yang sama. Itulah kenapa kita mengenal peak hour
Eva menyampaikan, kepadatan commuter di peak hour pada moda transportasi dan area publik bukan hanya di KRL, bahkan di negara lain pun demikian.
"Sehingga kondisi-kondisi tersebut seharusnya tidak perlu terjadi jika sesama pengguna saling memahami kondisi sekitar dengan bertenggang rasa dan bertransportasi yang baik," tutup dia.

