Pencak Dor Bukan Tarung untuk Kupon Makan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pencak Dor (Foto: Dok. Paguyuban Pelestari Seni Budaya Pencak Dor)
zoom-in-whitePerbesar
Pencak Dor (Foto: Dok. Paguyuban Pelestari Seni Budaya Pencak Dor)

Pencak Dor awalnya berkembang di kalangan santri pesantren di Kediri, Jawa Timur. Olahraga ini menjadi viral ketika media asing mulai memberitakannya. Daily Mail, misalnya. Media asal Inggris itu menyebut olahraga ini brutal--dengan makanan sebagai hadiahnya.

Pengamat Pencak Dor, Ahmad Subakir (54 tahun), membantah kabar tersebut. "Bukan sebagai hadiah. Siapapun habis tanding keduanya makan bersama, berapapun yang bertanding. Jadi makan bukan sebagai hadiah," katanya kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (7/5).

Siapapun habis tanding keduanya makan bersama.

Menurut Bakir, Pencak Dor dijadikan tradisi di banyak pesantren di Kendiri karena ada manfaatnya, bukan hanya sekedar untuk makan. "Pencak Dor masih dilakukan sampai saat ini karena kami butuh media untuk menjaga kebugaran tubuh, berdakwah, dan membentuk manusia yang gentleman," ujar dia.

Tidak butuh waktu lama bagi Pencak Dor untuk merebut hati warga pesantren dan sekitarnya di Kediri. "Begitu ada Pencak Dor, animo masyarakat luar biasa. Bukan cuma dari santri, tapi ada juga simpatisannya, warga sekitar," kata Subakir. Pencak Dor bahkan menjadi sarana yang efektif untuk mengumpulkan massa.

embed from external kumparan

Kendati diminati, olahraga ini yang hanya menggunakan alat pelindung minim itu masih terbatas dilakukan oleh para santri. "Orang di luar santri atau simpatisan santri cuma mengikuti," kata Subakir.

Meski begitu, ia yakin olahraga ini akan makin berkembang di kalangan anak-anak muda sebagai ajang unjuk gigi yang positif. "Mereka ingin masuk ini untuk melampiaskan keinginan mereka. Dari sini mereka bisa belajar menjaga emosi juga. Di situlah tantangannya," ujar Subakir.

Dari sini mereka bisa belajar menjaga emosi.

Untuk menjaga pertandingan tetap aman meski petarung hanya menggunakan alat pelindung minim, Subakir mempercayakan seluruhnya pada wasit sebagai sebagai pengaman internal. "Mereka ini yang diberi hak untuk mengambil keputusan bahwa ini boleh terus atau enggak. Wasit bukan sembarang wasit, harus spesialis di bidang ini," kata Subakir.

facebook embed

facebook embed

facebook embed

video youtube embed